LEGENDA DAE LA MINGA
Di Kerajaan
Sanggar, hidup seorang putri cantik. Namanya Dae La Minga. Aura kecantikannya
tergambar dari julukannya “Oha ra ngaha ninu oi nono“, maksudnya
tenggorokannya bening, sehingga makanan dan minuman yang ditelan terlihat
dengan jelas. Tiap hari sang putri mandi di Sori Sabu atau
Sungai Sabu dekat istana. Rupanya kesempatan sang putri pergi mandi
dimanfaatkan oleh banyak pangeran yang berebut ingin melihatnya. Sampai suatu
ketika muncul tragedi, perkelahian antar pangeran yang berusaha menatap wajah
sang putri. Salah satu pangeran terbunuh.
Putri sangat terpukul. Oleh orang
tuanya, dia disembunyikan di lumbung padi, untuk menghindari fitnah. Rupanya
perang tanding antar pangeran berlanjut. Mereka bahkan membuat kesepakatan,
siapa yang menang akan menikahi sang putri. Sampai ada satu pangeran yang
keluar sebagai juara duel Sori Sabu. Dia datang menemui putri dan
melamarnya. Raja dan permaisuri menerima pemuda itu dengan baik namun belum
mengabulkan niatnya. Di saat bersamaan, berdatangan pula pangeran dari seberang
untuk melamar.
Raja cukup sulit memecahkan
persoalan tersebut. Jika salah mengambil keputusan, bisa berujung pada
peperangan antar kerajaan, yang mengakibatkan Kerajaan Sanggar hancur. Raja
bermusyawarah dengan para pembesar istana. Pilihannya ternyata amat tragis, Dae
La Minga harus dibuang ke temapt yang tinggi dan sangat jauh yakni Moti
Lahalo, sebuah danau di bekas letusan Gunung Tambora.
Mengetahui itu sang putri hanya
pasrah. Dia berkata, “Demi kehormatan Kerajaan Sanggar, saya siap mengorbankan
diri”. Mendengar tekad sang putri seluruh rakyat menangis haru. Ketika tiba
waktunya, sang putri diantar ke tempat pembuangan, ribuan rakyat mengiringinya
dengan tarian dan nyanyian perpisahan Inde Ndua, yang
mendayu-dayu. Putri diusung bersama raja dan permaisuri ke puncak Tambora.
Mereka tiba tengah hari di Pantai
Lahalo. Dae La Minga berdiri di atas batu bersusun tujuh. Dia memakai baju
warna merah ungu. Sang putri mengucapkan kata-kata perpisahan, “E e e …
samenana dou kore, tahompara nahu mandake di ru’u, ai walina nggomi doho, gaga
wa’a sara’a ba nahu. Boha si gagamu ambi wati wali, boha si ambimu ntika wati
wali ro nenti kaciapu nggahi ra eli salama ake edera tua tengi ma tengi
sara“. Wahai seluruh rakyatku, biarlah aku yang mengalami nasib seperti
ini, jangan lagi dialami oleh kalian. Kecantikan akan aku bawa semua,
seandainya kalian itu cantik tapi tidak kelihatan anggun, seandainya kalian
anggun tapi tidak kelihatan cantik. Semuanya itu, biarlah aku yang bawa dan
berpegang teguhlah pada kata hikmah dan falsafah yang sudah memasyarakat yakni
norma yang baik adalah titah orang tua.
Usai mengucapkan kata-kata tersebut,
sang putri bersujud di hadapan orang tuanya. Putri lalu menuju peti yang
disediakan dan masuk ke dalamnya. Terdengar tangis memilukan sang putri saat
peti ditutup dan perlahan dihanyutkan ke Moti Lahalo. Peti itu terus
menjauh dan sayup-sayup tangis putri perlahan menghilang. Sampai akhirnya peti
tak tampak di kejauhan. Raja dan permaisuri pun kembali ke istana.
Orang sanggar zaman dulu percaya Dae
La Minga masih hidup secara gaib dalam satu kerajaan di puncak Tambora. Dia
kerap muncul di saat-saat tertentu dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang
beruntung. Orang tersebut akan bisa menikmati kehidupan di lingkungan kerajaan
Dae La Minga satu sampai tujuh hari.
SINOPSIS
DAE MINGA
Menurut sejarah dae minga adalauh putrid raja yag
sangar yang cantik jelita. Tutur katanya lembut , budi pekertinya halus.
Sehingga menjadi bahan pembicaraan Raja dan Putra Mahkota Kerajaan tetangga.
Kecantikan sang Putri dijuluki “Waja Oha Ra Ngaha NInu
Oi Nono” telah menjadi para Raja dan Pangeran itu ingin mempersuntingnya,
sehingga lamaranpun dari hari kehari datang ke kekerajaan sangagar. Datangnya
lamaran ini membuat Raja Sanggar dan Putrinya gelisah.
Mereka sulit menentukan pilihan, sebab salah memilih
berarti masalah bagi masrakat dan negri Sanggar, oleh karena itu, setelah
diadakan perenungan , Musyaawarah pun dilaksanakan . musyawarah menghasilkan
satunkeputusn yang sangat besar ,yaitu dae Minga harus dibuang ke danau
bekas letusan gunung Tambora. Danau tersebut sampai sekarang oleh Masyrakat di
Kecamatan Sanggara Kabupaten Bima menamakan “MOTI LA HALO”
JUDUL CERITA
PUTRi DAE MINGA
ILUSTRASI
Di serambi
istana . kicauan burung sesekali terdengar , suasana tampak cerah. Diantara
suasana itu masuk dari kiri , Dae Minga bersama dayang. Sampai di tengah
pentas. Dayang I mempersilakan Dae Minga duduk, sedangkan dayang II mengatur
tempat duduknya.
1. Dayang I : Silahkan
duduk tuanku !
2. Putri : Alangkah
cerahnya pagi ini . suasananya sejuk, nyaman dan indah.
3. Dayang I: Ini
merupakan anugrah Than yang patut kita syukuri Tuan Putri
4. Dayang III: benar tuan
putri ! diluar sana terhampar gunung Tambora,menghijau bagaikan permadani.
Sedangkan di sebelah utaranya,terbentang lautan yang sangat luasnya
5. Putri: Tetapi
keindahan itu , tak mampu menentramkan hati saat ini dayang dayangku. Aku
selalu gelisah (wajah sedih)
6. Dayang II :Apa
gerangn yang menimpa Tuan Putri
7. Dayang
IV :Ia tuan
putrid apa sebabnya
8. Putri : (
Beranjak berdiri ) dayang – dayangku. Tidakkah kalioan merasa,bahwa sudah
beberapa hari ini kita tidak di perkenankan oleh baginda untuk keluar istana.
9. Dayang I : Benar
Tuan Putri
10. Putri : Baginda
melarang kita , karena dari hari kehari , lamaran dari Raja dan Pangeran
Kearajaan tetangga selalu berdatangan di kerajaan ini . mereka ingin
mempersuntingku,sementara bila aku memilih salah satu di antara mereka,maka
kerajaan-kerajaan lain akan tersinggung dan aku tkaingin hal itu akan menyebabkan
paertumpahan darah di negri ini.
11. Dayang I :Kamipun
sangat menghawatirkannya TTuan Putri.
12. Dayang II : SSudahkah
Tuan purtri meuusyawarahkan halite kepada tuan permaysuri dan baginda.
13. Putri :belum
dayangku masalah inilah yang srdang aku pikirkan kebaikan dan
keburukanya.namaun,lama-lamaaku berada di istana inidengan
kegelisahanku,membuat aku merasa jenuh.aku ingin menemukan nuansa baru,yang
mampu menenengkan hati ini.karena itu,dayangku! Bagaimana kalau kalian
mengantarkan aku,untuk melihat keadaan diluar istana,agar rasa jenuh dan
gelisah ini sedikit terobati.
14. Dayang I: (kaget)
ampun hamba tuanku!bukannya kami hendak melarang tuan putri.tetapi tuanku maha
raja melarang tuan putri keluar pagar istana
15. Dayang II: ya tuanku
! kami takut,tuanku maharaja murka karenanya
16. Putri : aku
mengaerti dayangku! Tetapi kali ini kita keluar sebentar saja.kita pasti
kembali secepatnya.
17. Dayang II : jika
demikian tuanku,hendaklah tuanku minta di kawal oleh pasukan istana .
18. Putri :
tidak perlu dayangku! Ayolah mari ikut aku.(mereka beranjak keluar.
dayang I,dayang II,dayang III,dan IV menunjukkan kehawatiran)
ADEGAN II
Suasana alam
di tempat Pemmandian luar istana , udaara segar terdengar burung berkicau(music
biola).
(putri dan
para dayang memasuki pentas dari kiri)
19. Putri :Sungguh
indah alam disini dayangku,udaranyasejuk.keindahan iyang penuh dengan
kedamain,keindahan yang mendekatkan kita dengan penguasa alam Dan keindahan
inilah ynag telah menggetarkan jiwa ini.sunngguh ciptaan yang mengagumkan . oh
ya dayangku !
20. Dayang I : memang
benar tuan putri panorama alam pagi ini sungguh indah.
21. Putri :kepada tuhanlah
aku menyerahkan kegelisahanku ini,agar aku mendapatkan petunjuk,hingga masalah
ini dapat diselesaikan dengan kedamaian.
22. Dayang II : sukurlah
tuan putri dapat memikirkan segala kemungkinannya.
23. Putri : sekarang
,kita pulang dayangku,sebelum para prajurit istana ketika
ADEGAN III
Ketika tuan
putri dan dayang dayang,di cegat oleh putra mahkota kerajaan peka (music genda
mbojo).
(ketika
putri dan dayang dayang hendak keluar,tiba tiba muncul putra mahkota
kerajaan peakat yang menegurnya)
24. putra pekat :
berhentilah sebentar,wahai tuan putri yang cantik jelita.(sambil mendekati tuan
putri)
.
(putri
dan dayang dayang berhenti dan membalikkan badannya kearah para
pangeran.dayang dayang agak takut . mereka melindungi tuan putri)
25. putri
:siapakah gerangan tuanku ? dan adakah yang dapat kami bantu ?
26. putra pekat : wahai dae
minga .pantas kau di juluki “Waja Oha Ngaha ninu Oi Nono.kau berbudi pekerti
lembut, kta katamu santun,parasmu cantik dan jelita.beberapa hari lagi
putra mahkota kerajaan pekat,akan mempersuntingmu.Ha … ha …. Ha….
27. putri : ampuni hamba tuanku
! hamba harus pulang ke istana
28. putra pekat : tunggu
wahai tuan putri ! kau tidak usah takut. Aku sudah melamarmu pada raja sanggar.
Itu berarti, kau sekarang adalah miliku. Kau akan ku boyong ke istanaku untuk
ku jadikan pendamping hidup. Ha ….. ha ….ha
(putra
kerajaan agak masuk)
29. putra aga : hai jangan
dulu berbangga hati,wahai putra mhkota kerajaan pekat akulah yang lebih berhak
mempersunting dae minga dari padamu.
(suasana
semakin tegang,putri dan dayang dayang semakin takut)
30. putra pekat :(kaget
menghadap kearah putra aga dengan geram.) siapa kau, beraninya mencampuri
urusanku. Dae minga adalah milikku. Aku sudah melamarnya pada raja sanggar.
31. dayang I : sudahlah
wahai para pangeran . janganlah tuan tuan bertengkar karna masalah ini.
32. dayang II : biarlah
tuan putri saja yang akan menentukan pilihannya tuan pangeran.
33. putra pekat : aaaaaah
….,aku tidak akan membiarkan dae minga menjadi milik orng lain sekarang kalian
minggirlah. Aku akan membunuh pangeran yang kesiangan ini.
34. putra aga : kau tidak
pantas mempersunting dae minga wahai putra mahkota kerajaan pekat. Karena itu
kau angkat kaki dari tempat ini.(suasana semakain tegang)
35. putra pekat :
lancangabenar ! kalau kamu “ DOU RANGGA” mari kita “ncao”
36. putra aga : “mai” aku
terima tantanganmu. Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan.(music
gantau)
(putra pekat
dan putra aga bertarung. Sedangkan putri keliatan takut dayang dayang agak
gemetar .)(sesaat kemudian , putri dan dayang dayang keluar.)
Pertarungan
kembali berlanjut hingga putra pekat kalah tetapi dia masih mengancam putra aga
.
37. putra pekat : hai putra
mahkota raja aga ! hari ini aku belum kalah . tapi ingat siapapun berani
mempersunting dae minga maka akan berperang dengan kerajaanku.(keluar)
38. putra aga : (aga
mengejar tetapi kembali melihat kearah dae minga berdiri, dia mencari cari
kemudian berucap ) dae minga dimana kau (keluar)
Di
istana tengah duduk sang raja dan permaisuri,dengan didampingi dayang dayang.
39. raja : Dinda !
40. permaisuri : ada apa
kanda?
41. Raja : Adakah
kau mendengar , apa yang dibicrakan oleh Rakyat dan Putra Mahkota
Kerajaan Tetangga tentang putri kita ?
42. Permaisuri: Tentang
apa kanda ? Adakah anak kita berbuat salah ?
43. Raja: bukan itu
dinda, anak kita tidak berbuat salah . Mereka hanya menyebut kecantikan Putri
kita , dengan sebutan “Waja oha ngaha ninu oi nono”
44. Pernmaisuri: Dinda
sungguh bahagia Kanda ! Dia merupakan anugrah Tuhan yang tiada tara bagi kita.
Dia bagaikan bulan kelima belas, mempesona , menyinari alam maya pada ini.
45. Raja : itulah
Dinda ! yang selama ini aku khawatirkan. Aku sebenarnya ingin memilihkan jodoh
yang terbaik untuk anak kita, namun beberapa hari ini aku selalu diresahkan
oleh mimpi burukku, bahwa akan ada badai yang akan menghapus negeri ini.
46. Permaisuri : Dinda
juga pernah bermimpi hal yang sama Kanda. Dinda menjadi takut jika mengingat
mimpi itu (mendekat ke Raja)
(Hulubalang
tiba-tiba masuk dari kiri)
47. Hulubalang : Ampuni
hamba Tuanku Maharaja. Hamba telah lancang memasuki ruangan baginda .
48. Raja : ( agak
kaget, mendekat pada hulubalang, sedangkan permaisuri ada di samping Raja ).
Ada apa Hulubalang ! apa gerangan berita yang hendak kau sampaikan.
49. Hulubalang :
Ampun tuankun ! Hamba benar-benar kaget, ketika melihat Tan Putri
memasuki lare-lare Istana. Ini berarti Tuan Putri telah pergi ke luar Istana.
Hamba siap menerima hukuman atas kelalaian Hamba.
50. Raja : Dae Minga
keluar istana ? dimana dia sekarang ( gelisah )
51. Hulubalang :
Begitulah adanya baginda !
52. Permaisuri :
Bagaimana dengan Putriku Hulubalang?
53. Hulubalang :
Tuan Putri dalam keadaan baik-baik saja, Tuanku !
54. Raja :
Hulubalang ! Hadapkan ke hadapankau, Dae Minga bersama dayangnya
55. Hulubalang
: Baik Tuanku, titah tuanku hamba laksanakan. (Hulubalang keluar dan
masuk kembali dengan putri Dae Minga). Tuan Putri telah tiba Baginda.
Adegan IV
Putri dan Dayang-dayang berada di istana
56. Raja : Putriku
kenapa engkau keluar istana ? Bukankah sebelumnya Muma telah melarang ?
57. Putri : Ampun
beribu ampun Muma dan Dade yang saya muliakan, tadi Ananda bersama
dayang-dayang bersenang senang di telaga tempat pemandian, sewaktu kami kembali
muncul 2 orang Pangeran yag ingn merebut Ananda ( dengan hati takut bercampur
haru )
58. Raja :
( Kaget ) Petaka ? Apa yang terjadi ?
59. Putri :
Disaat Ananda mencari ketenangan, tiba-tiba muncul Putra Mahkota Raja Pekat
yang mesngganggu ketenangan itu. Anandapun ingin pulang. Tetapi Ptra Raja Pekat
menahan ananda. Beberapa saat kemudian , Putra Raja Aga datang. Mereka akhirnya
bertarung, karena masing masing ingin memperebutkan Ananda. Ananda khawatir
Ayahanda, sebab Putra Rja Pekat yang kalah mengancam akan berperang,
kepada siapa yang mempersunting Ananda.
60. Raja : mimpiku
kini menjadi kenyataan , karena itu wahai Putriku. Kau jangan lagi keluar
istana tanpa seijinku. Sekarang aku harus memikrkan jalan keluar dari
permasalahan ini.
61. Putri : Baik Muma
! Ananda pun akan memikirkan pemecahan masalah ini dan ananda rela menerima
apapun keputusan Muma.
62. Raja
: Sekarang, Ananda boleh pergi, tenangkan pikiranmu. Mudah-mudahan Tuhan
Yang Kuasa memberikan jalan yang terbaik bagi kita ( kemudian Putri keluar )
63. Raja
: Hulubalang. Masalah ini telah menjadi besar dan hal ini harus kita
musyawarahkan. Oleh karena itu, kau beritahukan kepada para pembesar Istana,
bahwa besok kita akan bermusyawarah di ruang utama Istana.
64. Hulubalang
: Tita baginda, hamba lasanakan.
65. Raja :
Ayao Dinda, kita harus istirahat.
( mereka
keluar )
Adegan V
( Di dalam kamarnya
Putri terlihat sedang duduk termenung. Kadang –kadang ia mengadahkan mukanya
kelangit. Kadang-kadang pula mengerutkan dahinya. Saat itu, Putri agak
kelihatan berfikir .)
( dari kiri
masuk permaisuri mendekati putri. Putri tersentak dari lamunannya, saat
permaisuri memegang pundaknya). ( musik sarone, sayup sayup mengiringi adegan
tadi).
66. Permaisuri :
Beberapa hari ini, kau kelihatan selalu menyendiri Putriku.keceriaanmu berganti
kegelisahan , padahal Dade selalu mengharafkan engkau gembira, tenang bahagia
bersama dayang-dayangmu.
67. Putri :
Maafkan Ananda Dade. Bila tingkah ananda, telah meresahkan hati Dade. Ananda
gelisah, karena beberapa hari ini Muma selalu didatangi utusan Raja-raja
tetangga yang hendak melamar Ananda. Bahkan ada beberapa Pangeran yang saling
mengancam. Bila mereka tidak mendapatkan Ananda, maka perangpun akan terjadi.
68. Permaisuri
: Dade juga sudah mendengar hal itu Ananda, bahkan Mmamu, sedang
memikirkan pangeran mana yang akan dipilih, dan bagaimana jalan keluarnya bila
terjadi permasalahan nanti.
69. Putri :
Maafkan Ananda Dade. Ananda juga sudah memikirkan hal itu berhaari-hari.
Permasalahan ini telah meresahkan hati Muma, Dade dan ketetraman negri ini.
Oleh karena itu Bunda, Ananda telah memikirkan kebaikan dan keburukannya.
Setelah Ananda berdoa kepada Tuhan, Ananda mendapat petunjuk bahwa Anandalah
yang harus di korbankan.
70. Permaisuri
: Tidak, tidak anakku. Kau tidak harus melakukn hal itu. Biarkan Muma
yang memecahkan persoalan ini.
71. Putri : Tidak
Dade, permasalahan ini tidak dapat di pecahkan tanpa pengorbanan. Karena itu,
jalan satu – satunya Ananda harus dikorbankan.
72. Permaisuri
: Anakku, engkaulah satu-satunya harapan dalam hati Dade. Engkau adalah
pengobat mata, penyejuk hati, lemah rasanya sendi dan raga ini, jika engkau
harus hilang dalam kabut dan telaga keputusanmu.
73. Putri
: Ananda rela melakukannya Dade. Biarlah Ananda saja yang menjadi korban.
Jangan sampai dirasakan oleh rakyat dan negri, karena itu Dade sampaikan kepada
Muma tentang keinginan Ananda.
74. Permaisuri
: Anakku, wala denan berat hati Dade menjawabnya, pesanmu pasti Dade
sampaikan, sekarang kau tidurlah anakku, Ibu juga mau pergi. ( Mereka keluar )
Adegan VI
Di ruang
sidang utama Istana. Telah duduk Raja, Permaisuri dan Putri Dae Minga.
Begituuga dengan Ruma Bicara, Pemangku, dayang-dayang, dan Hulubalang. Semuanya
telah hadir untuk bermusyawarah.
75. Raja
: Wahai para pejabat Istana. Hari ini aku menghadapkan kalian, karena ada
persoalan penting yag harus kita bicarakan. Kalian sudah mengetahuinya, bahwa
dari hari kehari, lamaran yang datang dari kerajaan tetangga yang ingin
mempersunting Putriku semakin banyak. Aku sulit menentukan pilihannya. Sebab
salah memilih berarti bencana bagi negeri kita dan negeri lainnya. Karena itu,
sesuai dengan keinginan Dae Minga dan titahku. Setelah dipikirkan kebakan dan
keburukannya. Maka aku memutuskan bahwa putriku harus dibuang ke “Moti La Halo”
76. Permaisuri :
Ampun Kanda ! tidakkah keputusan ini dapat diubah dengan keputusan yang lain ?
77. Raja : Titahku
harus ditegakkan.
78. Ruma bicara
: Ampun beribu ampun baginda. Janganlah Tuan Putri dikorbankan. Biarlah
Putri hambamu ini yang akan menggantikannya Baginda.
79. Raja :
Masalah ini sudah aku pikirkan. Inilah satu – satunya jalan yang harus kita
tempuh, karena semua permasalahan bersumber pada Putriku.
80. Pemangku
: Ampun Baginda. Kami dan rakyat Sanggar sangat menyayangi Putri Dae
Minga. Kami rela mengorbankan diri untuk melindunginya bila terjadi peperangan.
81. Raja
: Itulah yang tidak aku inginkan. Akupun sebenarnya berberat hati untuk
melaksanakannya tetapi aku tidak boleh mementingkan diri sendiri, kepentingan
rakyat dan negeri inilah yang harus kuutamakan. Bagaimana denganmu Putriku ?
82. Putri
: Ananda rela melakukanna Muma !
83. Permaisuri
: Putriku ( memeluk putrinya) sudahkah kau hal ini kau pikirkan
sebaik mungkin ? sungguh hati Dade tak kuasa mendengarnya engkaulah permata
hatiku.
84. Putri
: Tabahkan hati Dade. Janganlah terlalu memikirkannya.
85. Raja
: Dinda dan Putriku dan kalian pejabat Istana. Keputusan ini harus kita
laksanakan secepatnya. Besok Dae Minga harus dibuang dan malam ini, adalah
malam perpisahan bagi Putriku. Dayang – dayang ! dendangkan syair “ Inde Ndua ”
sebagai kenangan terakhir bagi Putriku.
Nyanyian
Inde Ndua didendangkan. Suara tangis Permaisuri terdengar. Begitu pula dengan
dayang dayang semuanya bersedih sebab besok mereka akan ditinggalkan oleh Dae
Minga yang mereka sayangi, seluruh negeri berduka. Rakyat Sanggar yang
mendengar keputusan Raja, amat bersedih hati. Mereka ingin melihat Putri Dae
Minga yang terakhir kali. Karena itu, mereka datang ke Istana, dan ingin
mengantar kepergian Putrinya.
86. Raja
: Putriku sekarang saatnya kita berpisah. Karena itu, mari kita
berangkat. Dinda, marilah kita antar Putri kita ketempatnya yang terakhir.
Adegan VII
Hulubalang
mengapit Raja, Permaisuri dan Dae Minga. Sedangkan Ruma Bicara, Pemangku dan
Dayang – dayang mengikutinya dari belakang mereka berjalan ketengah pentas.
Setelah itu, Dae Minga bersujud dikaki Raja dan Permaisuri.
87. Raja :
Tegarkan hatimu Anakku.
88. Permaisuri
: Anakku ( memeluk putrinya )
89. Putri
: Ananda harus pergi Muma. Dade , tabahkan hati Dade, relakan kepergian
Ananda ( mereka menangis ). Dae Minga beranjak dari Raja dan Permaisuri. Dia
melihat atu persatu pengiringnya. Kemudian ia berdiri diatas batu bersusun
tujuh dan berseru.
90. Putri
: E... Sara’ana dou Kore.. Hampa ba nahu mpa mandake diru’u ai walina di
nggomi doho. Gaga rantika wa’a sara’a ba nahu ambimpa di wi’i wea ba nahu ngomi
doho.
Hulubalang
membawa Putri keluar. Suara isak tangis masih terdengar, Raja pun maju di
antara rakyatnya.
91. Raja
: wahai rakyatku ! tabahkan hati kalian. Semua ini saya lakukan demi
kedamaian di tas negeri ini. Marilah kita pulang, kita jangan terlena dengan
kesediahn ini. Dinda, marilah kita pergi.
( mereka
keluar )
No comments:
Post a Comment