UTS Teori dan Prinsip IPS
Nama : Achmad Zurohman
NIM : 0301514014
Prodi : Pendidikan IPS S2
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Suyahmo, M.Si
Soal Ujian : Teori dan Prinsip IPS
-Work in Indonesian properly. Typed with one half sepasi.
-Collected on 24 April, Friday Pon, at 9 am. Late, divided by two.
1. In economi theory, applicable law : On the one hand, economic activity would be better if it were organized by the market, not the government. On the other hand, the government should regulate the market when there is market failure. Analyzes of this in perspektive IPS (PKN approach).
2. Geography is discussing about the properties of the earth, to analyze the phenomena of nature, and learn the specific pattern of life of its inhabitants. Analyzes it in perspective IPS (cultural anthropology approach by thinking Van Peursen).
3. The theory of culture of our ancestors are as follows : “Many children a lot of income”. Analyzes of this in Thomas Robert Malthus’theory of population explosion.
4. History as a science, discussing past events objectively. In studying history, we often find different thoughts in discussing the same event. Example : History collapse of Majapahit in 1478, by Prof. Slamet Moelyono, due to attack the kingdom of Demak Bintoro. While the history lesson that is taught in schools these dives, that the collapse of Majapahit, due Girindrawardana attack. Analyzes of this case, the IPS perspective.
Jawaban
1. Semakin kompleksnya kegiatan ekonomi dan semakin tingginya keterkaitan dengan aspek-aspek kehidupan lainnya, sangat sulit bagi suatu sistem ekonomi termasuk yang paling liberal sekalipun untuk menolak kehadiran peran negara atau pemerintah dalam perekonomian.Kegagalan pasar, seringkali menuntut campur tangan (intervensi) pemerintah. Namun, yang harus diperhatikan adalah tidak semua campur tangan pemerintah memberikan hasil yang baik, walaupun tujuannya baik. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi pemerintah dalam menentukan kebijakan yaitu adanya konflik (trade off ) antara tujuan yang ingin dicapai. Misalnya konflik antara tujuan efisiensi dan pemerataan. Agar rumah dapat terjangkau oleh rakyat kecil yang berpenghasilan rendah, pemerintah memberikan subsidi. Tetapi, pemberian subsidi itu cenderung mengorbankan efisiensi, karena uang subsidi dapat dialokasikan ke sektor-sektor lain yang lebih produktif.
Secara Das sain bahwa kegiatan ekonomi akan lebih baik jika itu diselenggarakan oleh pasar, bukan pemerintah. Karena pasar sebagai suatu mekanisme di mana penjual dan pembeli dapat menentukan harga secara bersama-sama untuk melakukan pertukaran. Pasar menentukan harga tiap barang dan jasa dalam perekonomian. Pasar yang terjadi dalam perekonomian merupakan akumulasi dari berbagai pasar barang dan jasa serta pasar faktor produksi. Banyaknya jenis barang/jasa tersebut akan menimbulkan diversifikasi pekerjaan. Selanjutnya, diversifikasi pekerjaan akan menghasilkan spesialisasi, yang akan mendorong timbulnya teknologi atau cara menghasilkan barang dan jasa dengan biaya yang serendah-rendahnya.
Secara Das sollen adalah tidak semua barang dan jasa bisa dihasilkan melalui mekanisme pasar dengan ‘tangan gaibnya’. Namun terjadi persaingan yang tidak sempurna, yang akhirnya menimbulkan inefisiensi, sehingga harga yang terjadi menjadi demikian mahal atau bahkan sebaliknya dimana barang dan jasa menjadi tidak berharga. Kegagalan sistem ekonomi pasar akan menghasilkan pengaruh yang dapat merugikan perekonomian itu sendiri. Di samping akan menimbulkan pemusatan faktor produksi pada satu pihak tertentu dan mengakibatkan ketimpangan dalam pendapatan.
Sintesa bahwa efisiensi pasar ini memerlukan intervensi dari pemerintah. Pemerintah dalam aktivitas perekonomian pasar dibatasi hanya pada beberapa kegiatan yang memang tidak bisa dilakukan oleh individu, seperti misalnya bidang keamanan dan pertahanan. Tetapi jika harus campur tangan dalam perekonomian dengan tujuan mengembalikan efisiensi, maka pemerintah melakukan regulasi atau membuat kebijakan-kebijakan yang berfungsi mengatur jalannya perekonomian agar tetap efisien. P.A. Samuelson mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tiga fungsi perekonomian, yaitu:
1) Mengoreksi kegagalan pasar demi efisiensi.
2) Membuat program untuk melakukan pemerataan pendapatan dengan menggunakan instrumen pajak dan pengeluaran pemerintah.
3) Membuat kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tangguh.
Seperti halnya Indonesia tidak menganut Sistem ekonomi tradisional, Sistem ekonomi komando, Sistem ekonomi pasar, maupun Sistem ekonomi campuran. Sisten ekonomi yang diterapkan di Indonesia adalah Sistem Ekonomi Pancasila, yang di dalamnya terkandung demokrasi ekonomi maka dikenal juga dengan Sistem Demokrasi Ekonomi. Demokrasi Ekonomi berarti bahwa kegiatan ekonomi dilakukan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pengawasan pemerintah hasil pemilihan rakyat. Dalam pembangunan ekonomi masyarakat berperan aktif, sementara pemerintah berkewajiban memberikan arahan dan bimbingan serta menciptakan iklim yang sehat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Geografi membahas tentang sifat-sifat bumi, menganalisis fenomena alam, dan mempelajari pola tertentu dari kehidupan penghuninya. Dalam teorinya C.A van Peursen (1976) mengajukan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga dimensi yaitu mitis, ontologis, dan fungsional. Dalam dimensi mitis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat terbuka. Pada dimensi ontologis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat tertutup. Dan pada dimensi fungsional, relasi manusia dengan lingkungan bersifat partisipatif.
Dimensi mitis ditandai oleh manusia yang merasa dirinya dikelilingi oleh gaya tak terlihat disekitarnya. Dimensi mitis disebut juga pandangan ekosentris dimana manusia berintegrasi dengan alam dan dikendalikan oleh alam.
Dimensi ontologis ditandai oleh manusia yang tidak lagi hidup dalam kekuasaan mitis namun bebas untuk memeriksa apapun. Dimensi ontologis disebut juga pandangan antroposentris dimana manusia bersifat asertif dan mengendalikan alam.
Dimensi fungsional ditandai oleh sikap dan kondisi pikiran yang tidak lagi terkesan dengan sekitarnya, tidak lagi mengambil jarak dengan objek, namun ia ingin membentuk hubungan terhadap segala hal dalam lingkungannya. Dimensi ini diidentifikasi sebagai kebudayaan modern.
Salah satu analisis perspektif IPS kaitanya geografi dengan teorinya C.A van Peursen yaitu Contohnya Peristiwa BENCANA ALAM. Jika diamati, ada berbagai model dalam merespons peristiwa bencana alam ini. Dengan meminjam teori CA van peursen tentang tiga tahapan perkembangan kebudayaan sebuah masyarakat,yaitu mitis, ontologis, dan fungsional, maka ketiga model ini pun sepertinya dapat dipakai untuk menjelaskan sikap masyarakat dalam melihat bagaimana hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam cara pandang mitis, hubungan antara manusia dan alam tidak setara. Pada tahapan mitis peristiwa banjir selalu dikaitkan dengan kemurkaan alam dan Tuhan, maka dengan pendekatan ontologis, dengan nalarnya masyarakat memahami bahwa banjir itu adalah akibat hujan lebat yang tumpahan airnya tidak tertampung dan tidak tersalurkan oleh sungai-sungai yang ada.
Ketika terjadi peristiwa banjir kesalahannya lalu diarahkan kepada manusia dan untuk menebus “dosanya” mereka tidak lagi membuat sesajen (sesaji), tetapi dengan memperbanyak waduk-waduk dan tempat untuk penampungan serta serapan air. Sungai dan irigasi diperluas dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau mereka juga menghindari tinggal di daerah bantaran sungai.
Di sini, posisi manusia dan alam seakan sejajar, keduanya saling berdialog dan membuka diri, yang satu memahami yang lain. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Ini bisa dibuktikan dengan penelitian di bidang obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Adapun dalam model ketiga, yaitu fungsional,manusia menempati posisi lebih tinggi dibandingkan alam. Dalam hubungan ini manusia adalah pihak yang diberi keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Dan dengan ilmu pengetahuan, manusia seharusnya memiliki kemampuan mengantisipasi konsekuensi dari tindakannya yang menzalimi hukum alam. Bila hutan dijarah secara membabi buta atau serapan air dirampas oleh tumbuhnya hutan beton, alam akan bereaksi dalam bentuk longsor,banjir,dan lain-lain.
3. Teori budaya nenek moyang kita adalah sebagai berikut: "Banyak anak banyak pendapatan". Berdasarkan teori budaya nenek moyang kita tersebut erat kaitannya dengan teori mengenai penduduk oleh Thomas Robert Malthus yang hidup pada tahun 1776 – 1824. Analisis dampak pertumbuhan penduduk terhadap perekonomian khususnya terhadap ancaman kekurangan pangan mendapat perhatian lebih luas ketika Malthus mengemukakan teorinya tentang dampak pertumbuhan penduduk terhadap kecukupan bahan pangan. Dalam tulisannnya yang berjudul Essay on the Principle of Population. Thomas Robert Malthus menyatakan: ’..........apa bila tidak ada pembatasan jumlah penduduk maka penduduk akan berkembang biak dengan cepat sebagai deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32 ......, dan disi lain jumlah pangan hanyak mengalami pertambahan sebbagai deret bilangan 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......akibatnya penduduk dunia akan mengalami kelaparan hebat. Untuk menghindari kekuranga bahan pangan maka jumlah penduduk harus dibatasi. Untuk itu perlu dilakukan moral restrain (pengekangan diri: pengekangan nafsu seksual, penundaan perkawinan)”. Sedangkan, teori nenek moyang banyak anak banyak pendapatan. Bagi keluarga dengan golongan ekonomi tingkat atas, bila mau menjalankan teori ini tidak akan berdampak besar pada kehidupan ekonomi mereka. Tapi bila hal ini diterapkan pada golongan ekonomi menengah bawah, bisa jadi menambah beban ekonomi bagi keluarga yang bersangkutan. Dalam kondisi masyarakat yang kondisi perekonomiannya miskin, tentu saja bertambahnya jumlah anak membawa konsekuensi harus lebih banyak penghasilan yang harus dicari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari urusan makan, pendidikan, kesehatan sampai pada keperluan tempat tinggalnya. Artinya benar adanya jika "banyak anak banyak pendapatan yang harus dicari". kalaupun pendapatan yang dicari jumlahnya cukup bahkan lebih jika kondisi keluarganya sedikit atau katakanlah hanya 2 anak, tentu saja akan lebih mendorong semakin meningkatnya taraf kesejahteraan keluarganya. Kita tahu bahwa pertambahan jumlah penduduk tidak berbanding lurus dengan ketersediaan daya dukung alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Itu artinya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan daya dukung sumber daya yang ada. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan maka bukan tidak mungkin akan membawa dampak pada semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berasal dari Total Fertility Rate (TFR), sementara disisi lain kualitasnya semakin merosot.
4. Sejarah sebagai ilmu, membahas peristiwa masa lalu secara objektif. Dalam mempelajari sejarah, kita sering menemukan pemikiran yang berbeda dalam membahas acara yang sama. Contoh: runtuhnya Sejarah Majapahit pada tahun 1478, oleh Prof. Slamet Moelyono, karena penyerangan kerajaan Demak Bintoro. Sedangkan pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah penyelaman ini, bahwa runtuhnya Majapahit, karena serangan Girindrawardana. Analisis kasus ini, perspektif IPS.
1) Analisis peristiwa sejarah
Penulisan sejarah tentang kerajaan Majapahit selama ini banyak mengandung subyektifitas. Disatu sisi runtuhnya Sejarah Majapahit pada tahun 1478, karena penyerangan kerajaan Demak Bintoro yaitu dimana Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir. Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak. Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali. Sedangkan, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah penyelaman ini, bahwa runtuhnya Majapahit, karena serangan Girindrawardana yaitu dalam "Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling. Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.
2) Subyektifitas Ilmuwan Sejarah
Dalam beberapa tulisan sejarah, banyak sejarawan yang juga menulis bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit dikarenakan serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, dalam tulisannya. Penulis sejarahpun telah menjadi subyek yang subyektif. Padahal sejarah sebagai ilmu dituntut mempunyai kadar ilmiah, maka ilmu sejarahpun juga harus melalui prosedur metodologi yang ilmiah pula. Yaitu melalui proses induksi, deduksi, hipotesis, dan verifikasi. Sebagai ilmu maka filsafat menjiwai filsafat sejarah. Dimana apa yang benar dan baik menurut filsafat maka baik dan benar menurut ilmu sejarah. Nilai ontologis yang ingin dicapai oleh sejarawan adalah nilai kebenaran atas apa yang menjadi fakta sejarah, nilai kebenaran itu harus diaktualisasikan oleh sejarawan dalam menulis cerita sejarah. Sehingga diharapkan sejarawan tidak berperilaku menyimpang dari kebenaran dalam menulis sejarah tentang runtuhnya kerajaan Majapahit dalam contoh tersebut. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut :
a. Pada tataran ontologis
Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Pada tataran ontologis ini bahwa penulisan sejarah harusnya benar ya benar, baik ya baik. Sehingga dalam tatanan ini bersifat non emosional, netral, bebas nilai. Sejarawan ingin mencapai nilai kebenaran dalam tulisannya. Sejarah runtuhnya kerajaan Majapahit harus ditulis dengan benar tanpa prasangka. serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi. Maka hal ini secara ontologis benar dan baik .
b. Pada tataran epistemologis
1. Pada tataran ini bisa terjadi dua hal sebagai berikut :
Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Bisa dijelaskan bahwa X 1 masih sama dengan X 2. Artinya apa yang benar ya benar dan apa yang baik ya baik. Dalam tataran epistemologis masih tetap sama yaitu bahwa sejarawan untuk mencapai kebenaran runtuhnya Majapahit dikarenakan serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi ditulis apa adanya , seobyektif mungkin tanpa membelokkan kebenaran bahwa runtuhnya kerajaan majapahit karena serangan Demak. Berdasarkan prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton" Sehingga yang disampaikan tetap menjadi benar dan baik dalam tulisannya tanpa direduksi sedikitpun. Tanpa ada kepentingan yang bermain di dalamnya.
2. Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Dari gambar di atas bisa dijelaskan bahwa X1 ≠ X2. Di sini penulisan sejarah oleh sejarawan bisa benar tapi tidak baik, atau sebaliknya baik tapi tidak benar. Untuk contoh peristiwa tersebut sejarawan dalam tataran epistemologisnya telah menjadi subyek yang subyektif yang bisa membelokkan kebenaran. Menulis bahwa runtuhnya Majapahit oleh Demak dikarenakan demak menyebarkan agama Islam. Hal ini terkait dengan pemahaman para sejarawan terhadap makna kebenaran ataupun kebaikan. Juga dikarenakan ada faktor kepentingan / aksiden yang bisa membelokkan kebenaran sebagai contoh adanya relasi, status sejarawan sendiri sebagai umat Islam , faktor mayoritas / kuantitas, sehingga faktor – faktor kepentingan inilah yang telah mereduksi kebenaran. Faktor kepentingan dari sejarawan telah membiaskan kebenaran yang substansial. Sejarawan barangkali telah terbelenggu nilai – nilai praksis yang bisa mereduksi kebenaran.
c. Pada tataran aksiologis
Pada tataran ini nilai guna ilmu sejarah itu menjadi berarti. Terkadang epistemologi yang negatif bisa menghsilkan aksiologis yang positif maupun negatif. Mengingat filsafat merumuskan kebenaran didasarkan pada hasil perenungan mendalam manusia secara logis maka kebenaranya bersifat utopia (idealitas), sehingga belum tentu dapat di temui dalam kehidupan nyata. Agar dapat di ketahui sejauh manakah realita itu mendekatkan realitas. Maka upaya penerapan idealitas harus selalu mempertimbangkan realita yang ada. Kita harus mengetahui kebaikan-kebaikan dan juga kelemahan-kelemahan dari realita yang sedang kita hadapi. Lalu kita merumuskan langkah-langkah yang di perlukan bagi upaya perbaikan tersebut dengan mengingat pada sumber daya yang di miliki dan tantangan-tantangan yang di hadapi. Tantangan-tantangan itu harus di perhitungkan secara masak-masak agar usaha menegakkan kebenaran itu tidak menimbulkan gejolak yang tidak terkendali dengan dampak pecahnya kekerasan yang bertolak belakang dengan misi kebenaran: damai, sejahtera, adil, dan bebas.
No comments:
Post a Comment