cinta INDONESIA http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif

Berbincang-bincang tentang kehidupan dari manusia hingga tuhan

Saturday, February 20, 2016

Alhamdulillahirobbil alamin...
habis menunaikan ibadah terasa nyaman alam pikir teringat sore tadi akan kebahagiaan serta keceriaan anak-anak penerus bangsa memainkan bola,,, suasana riang dihalaman masjid dengan tumpukan batu pafing
lucu-lucu sampe ku tertawa sendiri melihat mereka, duhai otak kanan yang masih mereka gunakan dengan baik tak seperti punyaku yang telah terkontruk oleh dunia pendidikan di negara ini,
semakin ku belajar dengan strata kedua ini otakku tak bisa bebas dalam berfikir semua harus sesuai dengan aturan, kurikulum gaya kerja guru kita dan lain sebagainya yang menurutku cukup membosankan..
anganku dalam dunia mimpi kapan yah bangsaku akan dapat bersaing dengan bangsa maju yang lain seperti cina, amerika, inggris dll...
to be continue..

Syari’at, Tarekat, dan Ma’rifat Sunan Kalijaga


Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba yang menekuni ajaran tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebut sebagai As-Sa’adah menurut Al-Ghazali Insanul Kamil oleh Muhyiddin bin ‘Arabiy dan Sangkan Paran (asal dan kembalinya manusia) menurut Sunan Kalijaga. Diantara tahapan itu adalah Syari’at, Tharikat, dan Makrifat. Dari beberapa tahapan tersebut secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.Syari’at
Syari’at adalah hukum-hukum yang telah oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang telah ditetapkan oleh nash al-Qur’an maupun as-Sunnah atau dengan cara istimbat, yaitu hukum-hukum yang telah diterangkan dalam ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, dan ilmu Tasawuf. Isi syari’at mencakup segala macam perintah dan larangan dari Allah SWT. Perintah-perintah itu disebut sebagai istilah ma’ruf yang meliputi perbuatan yang hukumnya wajib atau fardlu, sunat, mubah, atau kebolehan. Sedangkan larangan-larangan Allah SWT disebut dengan munkarat meliputi perbuatan yang hukumnya haram dan makruh. Baik yang ma’ruf maupun munkarat sudah ada petunjuknya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sedangkan hukum-hukum yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang ditetapkan para fuqaha yang menyangkut ibadah mahdhah (murni) dan ibadah ghairu mahdhah atau yang sering disebut dengan muamalah (ibadah umum), hukum-hukum yang ditetapkan oleh Ulama Mutakallimin (ahli ilmu Tauhid/teolog) yang mengikuti iman kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, iman terhadap hari akhir serta qadha dan qadar dari Allah SWT yang diwujudkan dengan bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam perbuatan ma’ruf yang mengandung hukum wajib, sunnah, dan mubah. Begitu juga hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh ulama tasawuf yang meliputi sikap dan perilaku manusia yang berusaha membersihkan dirinya dari hadast dan najis lahir serta maksiat yang nyata dengan istilah Takhalli. Lalu berusaha melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan kebaikan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan terpuji dengan istilah Al-Tahalli.
Mengenai pengalaman syari’at Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung yang merupakan salah satu kitab Sunan Kalijaga yang beberapa saat sebelum wafatnya. Di dalam Suluk Seh Malaya dan Suluk Linglung Seh Malaya, sunan kalijaga telah menyinggung pentingnya shalat dan Ibadah Haji dengan tertib dan sungguh-sungguh seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Semisal untuk memahami makna shalat dan sembahyang yang diajarkan Sunan Bonang kepada muridnya Sunan Kalijaga, marilah kita lihat salah satu bait tembang dalam Suluk Wujil sebagai berikut:
“Utamaning sarira puniki
angawruhana jatining salat
sembah lawan pujiné
jatining salat iku
dudu ngisa tuwin magerib
sembahyang aranéka
wenangé puniku
lamun aranana salat
pan minangka kekembanging
salat daim ingaran tata krama//”
“Unggulnya diri itu mengetahui hakikat salat, sembah dan pujian. Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya atau Magrib. Itu namanya sembahyang apabila disebut salat, maka itu hanyalah hiasan dari salat daim. Hanyalah tata krama”.
Dari bait di atas dapat disimpulkan bahwa keunggulan seseorang terletak pada pemahaman dan penghayatan dari kesejatian salat, penyembahan, dan pujian. Bukan pada pengerjaan salat lima waktu, karena mengerjakan salat lima kali sehari itu disebut “sembahyang”. Sifatnya hanya tata krama dalam pergaulan umat Islam. Dan, hakikat mengerjakan salat lima kali itu hanyalah hiasan bagi “salat daim”. Dalam sarasehan para Wali pun disebutkan bahwa salat yang sempurna bukan semata-mata melaksanakan salat fisik itu sendiri.
Dalam pengalaman perjalanan spiritualnya juga Sunan Kalijaga mengajarkan untuk menjalankan ibadah haji, sebagai pesan yang didapatkan Sunan Kalijaga saat beliau bertemu dengan Nabi khidir “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,…lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat”, artinya: jika kamu akan melakukan ibadah haji ke mekkah, kamu harus tau tujuan yang sebenarnya. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikian itu sesungguhnya iman hidayah yang harus kau yakini dalam hati
2.Tarekat
Tarekat adalah pengalaman syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah (diremehkan). Kata tarekat dapat dilihat dari dua mata sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohaian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secara berkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka tarekat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohaian tertentu yang bertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid.
Dalam jalan Tarekat Sunan Kalijaga mengamalkan zikir atau meditasi dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cara untuk mencapai kesadaran hidup. Bentuk dari kesadaran hidup itu adalah amar makruf nahi munkar dengan basis budaya Jawa. Islam yang ketika lahir penuh kelemah-lembutan, dan menjadi keras wataknya di tangan para mubaligh Timur Tengah, ditawarkan oleh Sunan dengan kelembutan Jawa. Islam yang dibawa Sunan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam dibawakan dengan gaya terekatnya sendiri. Yaitu, tirakat ala Jawa (meditasi dan Kontemplasi).
3.Makrifat
Makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang Sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan “Nur Ilahi”. Makrifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran. Barang meningkat makrifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya.
Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu seorang sufi yang sudah sampai pada tingkatan makrifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :
a. Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf belum tentu benar.
c. Tidak meginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan makrifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
Sampai pada tingkatan yang paling tinggi dalam pencapaiannya sebagai seorang sufi, Sunan Kalijaga telah melewati beberapa tahapan untuk dapat menuju tingkatan makrifat dan mengenal siapa dirinya. Dalam perjalanan spiritualnya yang digambarkan dalam sebuah simbol kehidupan.
Dalam Suluk seh Malaya disebutkan “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,….lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat” artinya, jika kamu akan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, kamu harus tau tujuan. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikianlah sesungguhnya iman hidayat yang harus kau yakini dalam hati.
Keyakinan iman hidayat tidak mungkin ditemukan di luar diri manusia, namun ia sesungguhnya terletak di dalam diri atau batin manusia itu sendiri. Dalam naskah Suluk Linglung disebutkan “cahaya gumawang tan wruh arane, pancamaya rampun, sejatine tyasira yekti, pangareping salira”. Artinya, cahaya yang mencorong tapi tidak diketahui namanya adalah pancamaya yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, bahkan mangatur dan memimpin dirimu.
Maksudnya manusia yang telah menyingkap dimensi batinnya, akan mengetahui hakikatnya, bahwa asal-usulnya dari Allah, berupa kesatuan hamba dengan Tuhan adalah Manunggaling Kawula-Gusti atau dalam Suluk Linglung diungkapkan dengan iman hidayat. Proses ini dalam Suluk Linglung tercermin dalam kutipan “Lah ta mara seh Malaya aglis, umanjinga guwa garbaningwang” , artinya, Seh Malaya segeralah kemari secepatnya, masuklah ke dalam tubuhku. Dalam tahap ini jiwa manusia bersatu dengan jiwa semesta. Melalui kebersatuan ini maka manusia mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, yaitu pengetahuan atau ilmu tentang asal-usul dan tujuan segala apa yang di ciptakan-Nya.
Tahap-tahap menuju suluk di jalan Allah dengan menempuh jalan yang di ridhoi Allah, demi kebahagiaan abadi baik di dunia dan di akhirat, telah diajarkan dengan baik oleh Sunan Kalijaga dengan menekankan pentingnya ajaran syari’at guna menggapai ajaran tarekat dan makrifat. (NBA)
Referensi :
o    Haqq, Suluk Seh Malaya, Yogyakarta: Kulawarga Bbratakesawa, 1959, Asmaradana.
o    Neil Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa Kelangsungan dan Perubahan Kultural, Jakarta: Gramedia, 1983.

Monday, February 8, 2016

Sekilas INDONESIA

Malam gelap hawa dingin gerimis air hujan menambah alunan musik alam dan hebus dingin menyelimuti perdebatan malam itu,,
setelah melakukan kegiatan rutinan malam senin dikampung tanah kelahirku,
ku hampiri teman kampung yah menghitung temu kangen dengan hangatnya segelas mocacinno dan growol (makanan desa yang terbuat dari singkong) menemani keakraban dimalam itu,
ku awali dengan renungan indonesia raya, pemerintahan indonesia hingga kekayaan terpendam di negeri tercinta,,
indonesia raya merupakan kata yang selalu diperjuangkan oleh para pahlawan kita diantaranya bung Tomo, bung Karno dan bung,,,bung lainyalah,,,,hehehehhe kenapa kapitalis,,,liberalis merajalela sedangkangkan kita di ajarkan pancasilaisme... ramelah keseimbangan dalam berideologi salah satu tujuan agar tercapai kemakmuran dan kesejahteaan namun,,, tanpa pendidikan penghayatan serta pemahaman yang mumpuni yah hanya seperti inilah jadinya negara salah paham sampai-sampai salah kapah!!! heheheheh...
pak jokowi sekarang memerintah bagus juga pembangunan yang ia utamakan dari sektor maritim mengingatkan kita lagu jaman dahulu yang sekarang telah sirna "nenek moyangku seorang pelaut jika berjalan hap...hap" itulah cuplikan lirik yang sekarang sirna tergerus oleh politik imperialisme,,,,heheheh ayo anak bangsa kembalilah dan sadarlah kita itu orang indonesia bukan orang amerika, inggris dll... buka jati diri kalian bangsa ini perlu anak-anak yang sadar akan dirinya bangsa Indonesia,, Go..!!Go...!!
negara ini negara yang kaya akan sumber daya alamnya namun sumber daya manusia kurang terlindungi,...hahah gak usah kita bahas harta titipan raja-raja nusantara yang dititipan oleh bung Karno untuk membangun bangsa indonesia sadarlah akan lirik lagu mas..mas koes plus itu yang judulnya kolam susu apa ya atau kolam emas seharuse?? belajarlah cari ilmunya agar kalian itu bisa menggali dan memanfaatkan dengan baik akan kekayaan yang ada di bumi Indonesia raya ini,,, semangat merdekalah negaraku dengan merdeka yang sebenar dan yang sesungguhnya merdeka,.!dengan kata itu janganlah kalian bertanya yah bearti kita sekarang ini belum merdeka yah????hehhe kita merdeka kok hanya seperti dikata prof. A.T salah satu dosen aku kita itu sekali merdeka merdeka sekali yah beninilah jadinya,,,heheh

Libur untuk orang tuaku

Di musim penghujan guyuran air tiap waktu membasahi alam,
menggantikan kesibukan bapak yang tak kuduga sangat berat terasa demi bahagia orang tuaku ku abdikan segalanya baik jiwa dan raga,
ku gantiakan waktunya dalam dua hari untuk liburan bapak serta ibu,
ternyata begini yah rasa menjadi orang tua "termenung ditengah guyuran hujan disore hari"
kami tak mau dianggap miskin, dan memanglah kami bukan dari keluarga yang kaya akan harta benda,,..
awali sore itu ku mencari makan untuk semua peliharaan bapak ( yah,,, sekitar 18n ekor kambing)
berjalan menyusuri sawah-sawah ku tumpukkan segenggam rumput dan dedadunan untuk memenuhi gerobak, baru setengah gerobah tuhan memanglah maha adil ku diberi kemudahan dengan tumpukan dedaunan yang amat banyak,, yah hanya ucapku sebagai hamba biasa (alhamdulillah... dapat tumpukan daun yang banyak) mungkin hari itu menjadi coba atau apa ya,,, baru setengah gerobak aku ambil cuacapun berubah menjadi gelap, petir dari barat menyambar-nyambar, angin kencang dengan air turun dari langit-Nya... bergegaslah ku pulang dengan sedapatnya untuk makan para kambing tersebut...
yang aneh lagi seakan ada rasa kasian si kambing denganku.... huft,,huft,, helaan nafas dengan lafadz subhanalah maha dasyat ini cipta sang kholiq,,,hehheh
singkat cerita banyak makna ternyata orang tua itu cintanya untuk kebahagian sang anak tiada tanding walau sakit dan duka ia rasakan tiap hari,,,
aku sebagai anak minta maaf yang sebesar-besarnya yah bapak dan ibu memanglah saat ini aku belum bisa membuat kalian bangga,,
aku akan berusaha.....!!!!!!!!!!

Thursday, February 4, 2016

Menapak

Bercerita dengan rasa lelah mengingat kesibukan dunia, 

hari berganti lagi ketika seninpun menjadi minggu dan seterusnya begitu
tanpa rubah sikap serta diri ini dengan kekurangan dan kebodohan yang masih melekat dalam raga ini,
dalam fikir berbicara benturan dengan raga akan tujuan mulia..!!!
pintar,,,pintar,,pintar...
bagaimana caranya? "seakan berkhayal"
ada tiga waktu dalam sehari yang perlu dibagi?
apa itu???? berbayang dengan kebodohan "8 bekerja, 8 belajar dan 8 bedo'a""
tulus mata menetes tangan diangkat dalam pinta mencari jalan 
Ya ALLAH ya tuhanku jernihkanlah otak ini...<_>
seorang sohabat memberi saran dan mulailah kucoba jalani dengan
Bismillah dengan ridho allah melalui anyaman lafadz dalam tuangan tetesan air dalam sesembahan waktu malam....
to be continue...

Sunday, December 6, 2015

PROBLEMATIKA GENDER DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA



I.                   PENDAHULUAN
a.      Latar belakang masalah
Isu gender menjadi penting dan merupakan istilah yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Dewasa ini gender telah memasuki perbendaharaan di setiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan sosial dan pembangunan. Demikian juga di Indonesia,  hampir semua uraian tentang program pengembangan masyarakat maupun  pembangunan di kalangan organisasi non pemerintah memperbincangkan masalah  gender. Namun dari pengamatan, masih banyak terjadi kesalahpahaman tentang  apa  yang dimaksud dengan konsep gender dan  kaitannya  dengan perjuangan  perempuan  untuk mendapatkan kesetaraan dan keadilan.
Banyak orang yang mempunyai persepsi bahwa gender selalu berkaitan dengan perempuan, sehingga setiap kegiatan yang bersifat perjuangan menuju kesetaraan dan keadilan gender hanya dilakukan dan  diikuti oleh perempuan tanpa harus melibatkan laki-laki. Perlu dipahami, gender bukanlah sebuah masalah kaum perempuan, tetapi gender sendiri merupakan permasalahan yang terjadi di masyarakat dan di sebabkan pula oleh masyarakat itu sendiri. Di mana gender ini merupakan sebuah sosialisasi kemudian berproses menjadi internalisasi (nilai-nilai dalam masyarakat, misalnya seorang harus melayani dan patuh pada suami) yang akhirnya terjadi sebuah Enkulturasi (kesalahan gender yang mendarah daging di masyarakat). Enkulturasi gender yang sudah terjadi bertahun-tahun silam di masyarakat secara tidak langsung menjadikan perempuan lebih cenderung di subordinasikan oleh kaum laki-laki. Hal ini jelas mengakibatkan perempuan semakin terpojokkan. Perempuan sering dianggap sebagai makhluk yang lemah dan tidak sanggup melakukan pekerjaan yang berat.
Khusus dalam dunia pendidikan, antara siswa laki-laki dan perempuan pun terdapat kesenjangan yang cukup signifikan. Bahkan sejarah Indonesia zaman dulu mencatat bahwa pada masyarakat tertentu terdapat adat kebiasaan yang tidak mendukung dan bahkan melarang keikutsertaan perempuan dalam pendidikan formal. Bahkan terdapat nilai yang menyatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi, toh mereka akan kembali ke dapur juga. Ada pula anggapan seorang gadis harus cepat-cepat menikah agar tidak menjadi perawan tua. Paradigma seperti inilah yang menjadikan para perempuan menjadi terpuruk dan dianggap rendah oleh kaum laki-laki.
Namun seperti yang telah di jelaskan di atas, bahwa enkulturasi yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat tentang subordinasi perempuan tidak begitu saja hilang dan masih sering terjadi di masa sekarang ini. Bahkan dalam pendidikan dewasa ini gender tersebut sudah jelas terlihat, misalnya dalam gambar atau ilustrasi suatu bab atau sub bab di buku siswa, terkadang penulis menggambarkan perempuan sebagai seseorang yang seringkali bertanya dan berkali-kali melakukan kesalahan seperti memegang kuali panas atau tidak mematikan lampu setelah digunakan pada malam hari. Murid perempuan lainnya digambarkan sebagai seseorang yang selalu bertanya mengenai berbagai hal. Sementara itu, murid laki-laki digambarkan sebagai murid yang pintar, selalu mengetahui jawaban yang benar, dan menjelaskan jawaban-jawaban tersebut kepada teman sekelasnya (ACPD Indonesia, 2 : 2013).
Permasalahan gender yang terjadi di Indonesia cenderung menjadikan kaum perempuan termarginalkan dan terabaikan yang semakin lama menjadi sebuah kebudayaan yang selalu melekat di masyarakat, bahkan sudah masuk pada ranah pendidikan. Dengan demikian permasalahan gender ini menggunakan analisis teori gender nurture yang dikemukakan oleh John B. Waston. dimana teori ini cenderung membedakan antara perempuan dan laki-laki adalah hasil dari konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Dalam penulisan ini akan membahas mengenai problematika permasalahan gender dalam dunia pendidikan serta analisisnya dengan teori nurture.


b.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang belakang yang telah di uraikan di atas, mengenai  keterkaitan gender dan pendidikan, maka rumusan masalah yang akan di bahas adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari gender?
2.      Bagaimana problematika gender dalam dunia pendidikan?
3.      Bagaimana analisis teori nurture dalam dunia pendidikan?
c.       Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan  dari  tulisan  ini  adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian gender
2.      Mengetahui problematika gender dalam dunia pendidikan
3.      Mengetahui analisis teori nuture dalam dunia pendidikan
II.                PEMBAHASAN
a.      Pengertian Gender
Secara umum gender dapat didefinisikan sebagai perbedaan peran, kedudukan  dan sifat yang dilekatkan pada kaum laki -laki maupun perempuan melalui konstruksi secara sosial maupun kultural (Nurhaeni, 2009). Sedangkan menurut Oakley (1972)  dalam Fakih (1999), gender adalah perbedaan perilaku antara laki-laki dan  perempuan yang dikonstruksikan secara sosial, yakni perbedaan yang bukan kodrat  dan bukan ketentuan Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses  sosial  dan kultural. Lebih lanjut dikemukakan oleh Haspels dan Suriyasarn  (2005), gender  adalah sebuah variabel sosial untuk menganalisa perbedaan laki-laki dan perempuan yang berkaitan dengan peran, tanggung jawab dan kebutuhan serta peluang dan hambatan.
Oleh karena dibentuk secara sosial budaya, maka gender bukan kodrat atau ketentuan Tuhan, bersifat tetap, sehingga dapat diubah dari masa ke masa, berbeda untuk setiap kelas dan ras. Sebagai contoh, ketika tahu jenis kelamin anak yang  dilahirkan, orang tua cenderung menyiapkan  segala perlengkapan bayi sesuai jenis  kelamin anak, misalnya pink untuk anak perempuan, biru untuk anak laki -laki. Sejak  lahir, oleh budaya telah dilekatkan bahwa biru adalah warna untuk anak laki -laki, dan  pink  untuk anak perempuan.
Selama  ini, masyarakat di mana  kita tinggal lah  yang  menciptakan sikap dan perilaku berdasarkan gender, yang menentukan apa  yang seharusnya membedakan perempuan dan laki-laki. Keyakinan  akan  pembagian  tersebut  diwariskan  secara turun temurun, melalui  proses belajar di dalam keluarga dan m asyarakat, melalui proses kesepakatan sosial, bahkan tidak jarang melalui  proses dominasi. Artinya, proses sosialisasi konsep gender kadang  dilakukan dengan cara halus maupun dalam  bentuk  indoktrinasi.  Proses itu menuntut  setiap orang (laki-laki dan perempuan) berpikir, bersikap, bertindak sesua i dengan ketentuan sosial budaya di mana mereka
tinggal.
Sejarah  perbedaan  gender  antara  laki-laki  dan  perempuan  terjadi  melalui  proses yang sangat panjang, melalui proses sosialisasi, diperkuat, bahkan dikonstruksikan  secara  sosial, kultural, melalui ajaran agama maupun negara. Konsep gender juga menyebabkan terbentuknya stereotipe yang ditetapkan secara budaya atau  hal  yang  umum  tentang  karakteristik  gender  yang  spesifik,  berupa  karakteristik  yang berpasangan yang dapat menggambarkan perbedaan gender. Dapat dilihat bahwa hal itu dibentuk saling  bertentangan,  tetapi  karakteristiknya  saling  berkaitan. Sebagai  contoh, laki-laki adalah mahluk yang rasional,  maka  perempuan  mempunyai karakteristik yang berlawanan yaitu tidak rasional atau emosional.
b.      Pandangan Pendidikan Terhadap Gender
Pendidikan tidak hanya dianggap dan dinyatakan sebagai unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa, melainkan juga sebagai produk atau konstruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender di masyarakat. Pendidikan harus menyentuh kebutuhan juga harus relavan dengan tuntutan zaman. Perempuan dalam pendidikannya juga diarahkan agar mendapatkan kualifikasi tersebut sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya.
kementerian Pendidikan Nasional berupaya menjawab isu tersebut melalui perubahan kurikulum dan rupanya telah terakomodasi dalam kurikulum 2004, tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam bahan ajar terutama isu gender meskipun pada kenyataannya masih membawa dampak bias gender dalam masyarakat yang berakibat pada kurang optimalnya sumber daya manusia, yang optimal yang unggul disegala bidang tanpa memandang jenis kelamin. (paksisgendut.files.wordpress.com)
Dengan demikian, pendidikan seharusnya memberikan mata pelajaran yang sesuai dengan bakat minat setiap individu, khususnya adalah perempuan. Materi dalam kurikulum pendidikan tidak hanya diarahkan pada pendidikan agama dan ekonomi rumah tangga, melainkan juga masalah pertanian dan keterampilan lain. Pendidikan dan bantuan terhadap perempuan dalam semua bidang akan menjadikan nilai besar dalam kehidupan. Hal demikian juga merupakan langkah awal untuk memperjuangkan persamaan atau kesetaraan gender yang sesungguhnya.
c.       Problematika Gender dalam Pendidikan
Dalam aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, seperti aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, agama dan lainnya dapat dilihat bagaimana ketimpangan gender antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan masih banyak dalam realita. Salah satu aspek yang menunjukkan adanya bias gender dalam pendidikan dapat dilihat pada perumusan kurikulum dan juga rendahnya kualitas pendidikan. Dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 dinyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran”. Walaupun pernyataan pasal tersebut mengandung arti bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama dalam mengenyam pendidikan formal, namun dalam kenyatannya masih ada anggapan yang menghambat wanita untuk tidak ikutserta dalam pendidikan formal.
Implementasi kurikulum pendidikan sendiri terdapat dalam buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Realitas yang ada, dalam kurikulum pendidikan (agama ataupun umum) masih terdapat banyak hal yang menonjolkan laki-laki berada pada sektor publik sementara perempuan berada pada sektor domestik. Dengan kata lain, kurikulum yang memuat bahan ajar bagi siswa belum bernuansa netral gender, baik dalam gambar ataupun ilustrasi kalimat yang dipakai dalam penjelasan materi.
Dalam buku ajar, banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Misalnya gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang hanya dimiliki oleh laki-laki. Bias gender juga dapat dilihat dalam gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. Ironisnya siswa pun melihat bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan, tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki.
Sedangkan dalam rumusan kalimat pun juga demikian. Kalimat seperti "Ayah membaca Koran di teras dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran", masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki.
Beberapa alasan bahwa kualitas pendidikan yang rendah adalah diakibatkan oleh adanya diskriminasi gender dalam dunia pendidikan. Ada tiga aspek permasalahan gender dalam pendidikan yaitu:
1)      Akses
Akses merupakan fasilitas pendidikan yang sulit dicapai. Banyak sekolah dasar di tiap-tiap kecamatan namun untuk jenjang pendidikan selanjutnya seperti SMP dan SMA tidak banyak. Tidak setiap wilayah memiliki sekolah tingkat SMP dan seterusnya, hingga banyak siswa yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapainya. Di lingkungan masyarakat yang masih tradisional, umumnya orang tua segan mengirimkan anak perempuannya ke sekolah yang jauh karena mengkhawatirkan kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu banyak anak perempuan yang ‘terpaksa’ tinggal di rumah. Belum lagi beban tugas rumah tangga yang banyak dibebankan pada anak perempuan membuat mereka sulit meninggalkan rumah. Akumulasi dari faktor-faktor ini membuat anak perempuan banyak yang cepat meninggalkan bangku sekolah.
2)      Partisipasi
Aspek partisipasi di dalamnya mencangkup faktor bidang studi dan statistic pendidikan. Dalam masyarakat kita di Indonesia, dimana terdapat sejumlah nilai budaya tradisional yang meletakkan tugas utama perempuan di arena domestik, seringkali anak perempuan agak terhambat untuk memperoleh kesempatan yang luas untuk menjalani pendidikan formal. Sudah sering dikeluhkan bahwa jika sumber-sumber pendanaan keluarga terbatas, maka yang harus didahulukan untuk sekolah adalah anak laki-laki. Hal ini umumnya dikaitkan dengan tugas pria kelak apabila sudah dewasa dan berumah-tangga, yaitu bahwa ia harus menjadi kepala rumah tangga dan pencari nafkah.
3)      Manfaat dan penguasaan
Kenyataan banyaknya angka buta huruf di Indonesia di dominasi oleh kaum perempuan. Pendidikan tidak hanya sekedar proses pembelajaran, tetapi merupakan salah satu ”nara sumber” bagi segala pengetahuan karenanya ia instrumen efektif transfer nilai termasuk nilai yang berkaitan dengan isu gender. Dengan demikian pendidikan juga sarana sosialisasi kebudayaan yang berlangsung secara formal termasuk di sekolah.
Perilaku yang tampak dalam kehidupan sekolah, di mana interaksi antara guru dengan guru, guru dengan murid, dan murid dengan murid, baik di dalam maupun luar kelas pada saat pelajaran berlangsung maupun saat istirahat akan menampakkan konstruksi gender yang terbangun selama ini. Selain itu penataan tempat duduk murid, penataan barisan, pelaksanaan upacara tidak terlepas dari hal tersebut. Siswa laki-laki selalu ditempatkan dalam posisi yang lebih menentukan, misalnya memimpin organisasi siswa, ketua kelas, diskusi kelompok, ataupun dalam penentuan kesempatan bertanya dan mengemukakan pendapat. Hal ini menunjukkan kesenjangan gender muncul dalam proses pembelajaran di sekolah.
d.      Analisis Toeri Nuture Dalam Dunia Pendidikan
Teori gender ini dicetuskan pertama kali oleh John B. Watson pada tahun 1925 (catilla.wordpress.com). Menurut teori ini adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah hasil dari konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan tersebut yang membuat perempuan tertinggal dan terabaikan. Kontribusi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai kelas proletar. Seperti hal nya pada masyarakat kita, secara tidak langsung kesalahan gender yang terjadi sekian abad silam menjadi membudaya. Mulai dari zaman prasejarah yang menganggap bahwa perempuan sebagai makhluk yang lemah, sehingga tugasnya hanya meramu dan menjaga anak. Dan dewasa ini perempuan masih juga di subordinasikan sebagai perempuan yang kurang mampu mengemban tugas yang dirasa berat, dikarenakan perempuan lebih cenderung lebih memakai perasaannya dibanding dengan logika
Dalam proses perkembangannya, disadari bahwa ada beberapa kelemahan konsep nurture  yang dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Yaitu terjadi ketidakadilan gender, maka beralih pada teori nature (Teori nature memandang perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki disebabkan oleh faktor-faktor biologis kedua jenis kelamin tersebut). Adanya ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan lebih banyak dialami oleh perempuan, namun berdampak pula terhadap laki-laki. Hal ini sejalan dengan Marhaeni Tri (2011) menyatakan bahwa suatu system dan struktur yang disengaja atau tidak disengaja diciptakan oleh laki-laki dan untuk laki-laki. Karena masalah gender adalah masalah tentang sosial yang harus dibicarakan olah pihak perempuan maupun laki-laki.
III.             PENUTUP
Kesetaraan dan keadilan gender dalam pendidikan menjadi semakin mendesak. Perempuan dan laki-laki harus mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan. Semua orang, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai hak atau kesempatan untuk sekolah lebih tinggi, tanpa memandang jenis kelamin.
Gender dewasa ini erat kaitannya dengan  kesadaran, tanggung jawab laki-laki, pemberdayaan perempuan, hak-hak perempuan termasuk pada hak dalam pendidikan. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana  menghubungkan  semua  konsep  gender untuk  tujuan  kesehatan  dan  kesejahteraan  bersama.  Kesetaraan  gender  dalam  proses pembelajaran memerlukan peran penuh pemerintah sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan, sekolah secara  kelembagaan  dan  terutama  guru.  Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang  salah  satu  kriterianya  adalah  berwawasan gender. Selain itu, guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui  proses pembelajaran yang peka terhadap gender.












Daftar Pustaka
Astuti, Tri Marhaeni P. 2012. Penghargaan sosial Semu dan Liminalitas Perempuan Migran. Semarang. Widya Karya
Fakih, Mansour. 1999. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta  Pustaka Pelajar Offset
Catilla. https://catilla.wordpress.com/teori-perilaku-manusia. (Di akses paa tanggal 2 Desember 2015 pukul 09:40)
Nurhaeni, Ismi Dwi Astuti. 2009. Kebijakan Publik Pro Gender. Surakarta UPT  Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press)
paksisgendut.files.wordpress.com
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31 ayat 1