cinta INDONESIA: NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM AJARAN SAMIN (SEDULUR SIKEP) http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif

Berbincang-bincang tentang kehidupan dari manusia hingga tuhan

Wednesday, November 2, 2016

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM AJARAN SAMIN (SEDULUR SIKEP)

 Ajaran Samin (Sedulur Sikep)
Orang  Samin (Sedulur Sikep)
Salah satu kelompok masyarakat yang masih menjadi minoritas adalah masyarakat Samin atau “Sedulur Sikep”. Wong Samin, begitu orang menyebut mereka. Samin di masyarakat umum terkadang dipahami sebagai orang gemblung karena suka nyeleneh kalau ditanya. Sebagai contoh, ketika ditanya oleh orang dari mana kang? Maka jawaban yang muncul adalah dari belakang. Atau dari depan untuk menjawab pertanyaan mau kemana? Maka jika ada orang yang tipologinya seperti ini, secara spontan orang akan mengatakan dasar samin. Banyak orang memandang Samin dengan penilaian yang berbeda-beda. Mulai dari anggapan bahwa gerakan Samin sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan dari jaman kolonial Belanda hingga saat ini, sampai anggapan bahwa masyarakat Samin adalah kumpulan orang-orang yang tidak beragama (atheis), miskin, aneh dan terbelakang atau kolot (http://oase.kompas.com diunduh tanggal 2 November 2014 pukul 21.06).
Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, dimana dia mengorbankan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain (menolak membayar pajak serta menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah Kolonial) di luar kekerasan. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri (Mumfangati, 2004:47). Saminisme mempunyai kaidah dasar yang berupa pedoman hidup yang berbunyi: sami-sami, artinya, sebagai sesama manusia harus bersikap dan bertindak ‘sama-sama’, maksudnya sama-sama jujurnya, sama-sama adilnya, sama-sama saling menjaga, sama-sama saling menolong dalam bahasa kontemporer adalah terciptanya masyarakat yang homogen dan guyub (Mumfangati, 2004:51). Mereka hidup dengan alam dan hidup dengan kesederhanaan. Ciri-ciri orang Samin adalah tidak mau bersekolah, tidak memakai peci tapi iket, tidak memakai celana panjang tapi hanya celana selutut, tidak  berdagang dan menolak semua yang mengeksploitasi alam, karena alam adalah nafas hidup mereka, serta menolak kapitalisme (http://www.academia.edu/3620238/Pendidikan_Karakter_Model_Samin_Sukolilo diunduh tanggal 8 Mei 2015 pukul 10.00).
Orang-orang Samin sebenarnya kurang suka dengan sebutan “Wong Samin” sebab sebutan tersebut mengandung arti tidak terpuji yaitu dianggap sekelompok orang yang tidak mau membayar pajak, sering membantah dan menyangkal aturan yang telah ditetapkan sering keluar masuk penjara, tidak mau sekolah, sering mencuri kayu jati dan perkawinannya tidak dilaksanakan menurut hukum Islam, bahkan suku terasing yang dicemooh dan dikucilkan dari pergaulan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sastroatmodjo (2003:11-12) gerakan saminisme yang berkembang di Jawa mencakup tiga unsur, yaitu:
1)      Gerakan ini mirip organisasi ploretariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung.
2)      Aktivitas kontinyu, sepanjang yang dideteksi pihak aparat pemerintah terbukti bahwa gerakan ini bersifat utopis, bahkan tanpa perlawanan fisik yang mencolok.
3)      Tantangan yang dialamatkan kepada pemerintah diperlihatkan dengan prinsip “diam” dengan tidak bersedia membayar pajak, membayar tiket kereta api, menyumbang tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agrarian dan terlampau mendewakan diri sendiri.
Gerakan tersebut yang kemudian justru lebih mengemuka sebagai salah satu ciri wong samin. Oleh karena itu, mereka enggan disebut sebagai wong samin. Para pengikut Saminisme lebih suka disebut “Wong Sikep”, artinya orang yang bersikap atau orang yang memegang ajaran/nilai-nilai yang diturunkan secara turun temurun, orang yang bertanggung jawab, sebutan untuk orang yang berkonotasi baik dan jujur. Sikep mengandung dua arti, yaitu sikap/perilaku dan kawin/garwa (sigaraning nyawa) yang diartikan antara diri sendiri dengan Gusti, karena mereka yakin bahwa yang memberikan hidup adalah Gusti Allah. Misalnya, kejujuran dan kearifannya dalam memakai alam, semangat gotong royong dan saling menolong yang masih tinggi. Masyarakat Samin terkesan lugu, bahkan lugu yang amat sangat, berbicara apa adanya, dan mereka menggunakan bahasa yang halus. Bagi mereka menghormati orang serta tindak-tanduk dengan orang adalah jauh lebih penting.
Ajaran Samin lebih menekankan pada falsafah hidup yang berbeda dengan gerakan saminisme yang menjadi gerakan perlawanan terhadap penjajah. Meskipun konsep gerakan saminisme juga mengacu pada ajaran samin. Bagi mereka yang penting diketahui oleh khalayak umum adalah tentang kemurnian dan falsafah hidup mereka yang menjadi salah satu kebanggaan dan kritik terhadap masyarakat pada umumnya. Kebiasaan masyarakat samin ditandai oleh sikap dan perilaku yang mengikuti adat istiadat dan aturan yang berlaku di desa atau masyarakat mereka tinggal. Pokok-pokok ajaran Saminisme yang muncul dalam tradisi lisan (Purwasito, 2003:20), diantaranya adalah:
1)      Agama itu gaman, adam pangucape, man gamang lanang (Agama Adam merupakan senjata hidup). Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
2)      Aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, bedhog colong. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar atau beradu mulut, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang.
3)      Sabar lan trokal empun ngantos dengki srei..., nemu barang teng dalan mawon kula simpangi. Bersikap sabar dan jangan sombong. Jika menemukan barang di jalan dibiarkan.
4)      Wong urip kudu ngerti ing uripe. Manusia hidup harus memahami kehidupannya, sebab hidup (sukma, roh) itu hanya sebuah dan dia pun akan abadi selamanya.
5)      Wong enom mati uripe titip sing urip. Bayi uda nangis nger niku sukma ketemu raga. Hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu dibawa abadi selamanya. Menurut masyarakat Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
6)      Dhek zaman Landa niku njaluk pajeg boten trimo sak legane nggeh boten diwehi. Bebas boten seneng. Ndandani ratan nggih bebas. Gak gelem wis dibebasake...jaga omahe dhewe. Nyengkah ing negara telung taun dikenek kerja paksa. Di jaman Belanda dulu pembayaran pajak bukan didasarkan pada kesukarelaan, tapi atas dasar paksaan (ditentukan besarnya), sehingga orang-orang Samin tidak mau membayarnya. Mereka tidak senang. Memperbaiki jalan juga tidak mau. Mereka juga tidak senang. Lebih baik menjaga rumahnya sendiri-sendiri. Berselisih pendapat dengan Belanda dikenai kerja paksa.
7)      Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu. Dalam berbicara kita harus menjaga mulut kita. Hal ini diibaratkan bagai orang berbicara dari angka lima yang berhenti pada angka tujuh, dan dari angka sembilan berhenti pada angka tujuh juga. Jadi angka tujuh memegang peranan penting untuk pegangan, sebab angka ini terletak di tengah-tengah antara angka lima dan angka sembilan.
8)      Wit jeng Nabi kula lanang damel kula rabi tata-tata jeneng wedok pengaran Sukini kukuh dhemen janji buk bikah mpun kula lakoni. Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin (nikah). (Kali ini) mengawini/menikahi seorang perempuan bernama (Sukini). Saya berjanji setia padanya. Hidup bersama telah kita jalani berdua.
9)      “turun”, “pangaran”, “sedulur lanang”, “sedulur wedok”, “salin sandhangan”. Turun, istilah untuk anak; pangaran, istilah untuk nama orang; sedulur lanang, artinya saudara laki-laki; sedulur wedok, artinya saudara perempuan. (Mereka yang sudah diakui sebagai sedulur berarti mereka telah diakui sebagai warga seperguruan); salin sandhangan, istilah untuk kematian.
Pokok-pokok ajaran samin di atas merupakan salah satu wujud kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Secara filosofis, kearifan lokal dapat diartikan sebagai sistem pengetahuan masyarakat lokal/pribumi (indigenous knowledge systems) yang bersifat empirik dan pragmatis. Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara lokal berangkat dari fakta-fakta yang terjadi di sekeliling kehidupan mereka. Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang terbangun sebagai hasil olah pikir dalam sistem pengetahuan itu bertujuan untuk pemecahan masalah sehari-hari (daily problem solving). Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu (budaya lokal) dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (masyarakat lokal) (http://meibxd-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail-112618-Tugas%20Kuliah-html diunduh tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.30). Dengan kata lain, kearifan lokal memang bersemayam pada budaya lokal (local culture), yakni tercermin dalam ajaran samin tersebut.
Tujuan hidup masyarakat Samin adalah hidup dengan baik tidak menyakiti dan mengganggu orang lain, ketika pandangan mereka berbeda dengan orang lain yang berada diluar komunitasnya mereka akan menjawab ”setiap orang mempunyai kesenangan sendiri-sendiri” (http://www.academia.edu/3620238/Pendidikan_Karakter_Model_Samin_Sukolilo diunduh tanggal 8 Mei 2015 pukul 10.00). Sekilas tujuan mereka adalah sederhana, namun jika dilihat lebih mendalam sebenarnya itulah hakekat sebuah kehidupan. Dapat dipahami bahwa pada dasarnya ajaran Samin Surosentiko menyangkut atau memuat tentang nilai-nilai kehidupan manusia. Ajaran tersebut digunakan sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku, khususnya komunitas mereka harus selalu hidup dengan baik dan jujur untuk anak keturunannya.
Ajaran Samin merupakan gerakan meditasi dan pengerahan seluruh kekuatan batiniah untuk memerangi hawa nafsu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Djoewisno (1988:166) seperti halnya dalam masyarakat adat lain, yaitu Baduy selama hidup di dunia yang diburu hanya ketenangan dan kedamaian dalam jiwa, dan lingkungan hunian yang ditinggali, sedang yang dijadikan prinsip untuk memperpanjang kehidupan tidak lebih dari seadanya atau ala kadarnya saja. Dapat dipahami bahwa masyarakat adat atau komunitas tertentu memiliki prinsip atau pedoman yang sangat sederhana dalam memaknai perjalanan hidup mereka. Mereka tidak ingin neko-neko, karena kehidupan yang dicapai adalah terciptanya keselarasan dan keseimbangan.
Masyarakat Samin yang menganut agama Adam dikenal sebagai orang yang jujur, sulit bahkan tidak mau dipengaruhi oleh paham lain. Wong Samin mendalami dan menghayati ajaran yang diajarkan secara lisan itu sebagai landasan manusia untuk melakukan kehidupan yang baik dan jujur. Ajaran Saminisme yang terwariskan hingga kini sebenarnya mencuatkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kesederhanaan, kebersamaan, keadilan, dan kerja keras. Apabila ditinjau dari segi ajaran kesaminan yang meraka anut, tuduhan seperti orang samin tidak beragama (atheis), miskin, aneh, terbelakang atau kolot, tidak mau membayar pajak, dan suka membangkang sangat tidak berdasar karena ajaran Kesaminan atau Saminisme berpangkal pada kesusilaan. Orang Samin mengaku beragama Adam, yang konsisten memegang agamanya dan sangat menjunjung tinggi prinsip hidup bersesama. Agama Adam berprinsip pada etika adiluhung berpegang  pada  kitab  Jamus  Kalimasada  berbahasa  Jawa  berbentuk  puisi tradisional (tembang  macapat) dan  prosa (gancaran) (http://www.eprints.walisongo.ac.id/514/4/082111039_Bab3.pdf diunduh tanggal 2 November 2014 pukul 21.00).
Kaum samin menyuguhkan konsep-konsep keselarasan dan eksploitasi alam sewajarnya. Warga Samin berpedoman bahwa alamlah yang memberi kehidupan kepada mereka. Jadi, jika alam dieksploitasi secara berlebihan, maka alam akan marah dan tidak akan memberikan kehidupan lagi. Kepercayaan inilah yang senantiasa diajarkan warga Samin secara turun-temurun bahwa alam harus dihargai. Orang Samin juga mengajarkan bahwa semua orang adalah saudara, “sinten mawon kula aku dulur. Masyarakat Samin menganggap bahwa orang-orang yang terdiri dari satu keturunan dan satu keluarga atau mempunyai persamaan suku misalnya suku Jawa, warga dianggap sebagai satu (warga besar dan warga kecil) dan dianggap sebagai saudara sendiri. Masyarakat Samin menyebut mereka dengan sebutan Sedulur Sikep yang berarti saudara yang mempunyai sikap. Ketika ada saudara atau disebut Sedulur Sikep membutuhkan bantuan (pinjam barang atau uang), maka Samin tersebut tidak segan-segan membantunya dan menganggap bahwa itu bukan hutang atau dengan kata lain diikhlaskan.
Dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan keluarganya, sesama pengikut ajaran, maupun dengan orang lain yang bukan pengikut Samin, orang Samin selalu beranjak pada eksistensi mereka yang sudah turun-temurun dari pendahulunya, yaitu ono niro mergo ningsun, ono ningsun mergo niro (adanya saya karena kamu, adanya kamu karena saya). Hal itu menunjukkan bahwa mereka memiliki solidaritas sosial yang tinggi dan sangat menghargai eksistensi manusia sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Karena itu, orang Samin saling membantu dan prinsip tidak mau menyakiti orang lain atau menghargai sesama masih dijunjung tinggi. Masyarakat Samin tidak mau mengambil barang sekecil apapun yang bukan miliknya (haknya), tetapi juga tidak mau dimalingi (haknya dicuri). Masyarakat desa yang terdiri dari orang-orang Samin merupakan suatu bentuk kerja sama yang erat, saling gotong royong yang disertai dengan rasa kekeluargaan dan rasa kejujuran. Kejujuran hati orang-orang Samin juga tersimpulkan dalam bahasa jawa yang kental, puteh-puteh, abang-abang (putih-putih, merah-merah). Jika diselami lebih dalam bermakna jika benar dikatakan benar dan jika salah dikatakan salah.
Wong samin atau sikep tidak mengenal ilmu ekonomi modern. Mereka tidak memperhitungkan untung dan rugi, sehingga bagi mereka sebenarnya tidak ada konsep jual beli. Falsafah “tuno sathak bathi sanak”, mereka junjung tinggi karena bagi mereka lebih penting memiliki banyak saudara walaupun mereka harus kehilangan harta benda. Orang Samin dilarang berdagang karena terdapat unsur ketidakjujuran di dalamnya karena berkaitan dengan untung rugi, dan juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk apapun. Laba dianggap menjadi tujuan bahkan orang sering menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Oleh karena itu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang Samin. Laba menurut orang Samin sebagai cerminan ketidakjujuran, suatu hal yang sangat diharamkan dalam ajaran Saminisme. Meskipun pada masa sekarang dimungkinkan pola pemikiran masyarakat samin tentang kegiatan ekonomi mengalami pergeseran dengan menyesuaikan perkembangan jaman.
Selanjutnya, berdasarkan pemaparan Nur Haji (2014) pada adat perkawinan masyarakat samin yang berlaku adalah endogami dan monogami mutlak, meskipun prinsip menikah sama seperti masyarakat pada umumnya yaitu sebagai sesuatu yang biasa terjadi untuk memperpanjang keturunan. Prinsip endogamy bahwa pasangan pengantin diambil dari dalam kelompok sendiri sedangkan prinsip monogami dianut karena bagi mereka, istri cukup hanya satu untuk selamanya. Dapat dipahami bahwa laki-laki samin hanya ingin setia pada seorang istri saja yang dijadikan pendamping hidupnya sampai ia meninggal, mereka tidak mau menjadi orang yang serakah atau menuruti hawa nafsu semata. Sebagai landasan berlangsungnya perkawinan adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Kesepakatan ini merupakan ikatan mutlak dalam adat perkawinan masyarakat samin. Keterbukaan juga menjadi salah satu ciri utama masyarakat samin. Hal itu ditunjukkan dengan simbol yang ada di setiap rumah tempat tinggal dimana sebagian besar rumah tidak memiliki daun pintu. Masyarakat samin akan menerima dengan hangat siapa saja yang berkunjung ke tempat tinggal mereka. Masyarakat samin menganggap semua sebagai sedulur (saudara). Dari tempat tinggalnya juga tercermin konsep kesederhanaan, umumnya berdindingkan gedek (anyaman bambu) dengan penataan ruangan yang sangat tradisional terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur dan dapur.
Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani, mereka menganggap bahwa petani merupakan pekerjaan yang diridhoi Allah SWT yang mengajarkan kesabaran, syukur dan pasrah, karena di sini tanpa ada rasa saling menjatuhkan, persaingan, menindas yang lemah untuk jadi yang terkuat. Bagi mereka harta dan kedudukan adalah sampah (larahan) dalam hidup yang memuja kamurkan (kesombongan) dalam diri, karena kedudukan manusia sama-sama di mata Gusti. Dalam manajemen keluarga, mereka tidak membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Dalam kehidupan mereka, kejujuran dan kerja keras merupakan nilai positif yang masih dipegang oleh keturunan Samin/Sedulur Sikep.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Purwasito (2003:67) kontrol sosial yang dikembangkan pada komunitas Samin bersumber pada hati nurani. Nilai-nilai yang dikembangkan diantaranya ojo nglarani yen ora pingin dilarani (jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti), wong nandur bakal panen (siapa yang menanam bakal memetik hasilnya), wong nyilih kudu mbalekno (orang pinjam wajib mengembalikan), wong kang utang kudhu nyaur (orang yang berhutang harus membayar). Konsep berpikir yang sedemikian sederhana justru menjadi kelebihan masyarakat samin. Paling tidak mereka ingin menjadi berguna atau menjauhi konflik ketika itu dimungkinkan.
Sedulur sikep merupakan penanda pendidikan moral (http://id.com/2011/10/ajaran-kependidikan-samin.htm diunduh tanggal 6 Mei 2015 pukul 07.50). Kesederhanaan dan kesahajaan masyarakat Samin patut dijadikan teladan karena perilaku sosialnya sangat tinggi berupa kejujuran, ketidakangkuhan, dibandingkan dengan sebagian orang yang berpendidikan tinggi, pengalaman bertumpuk akan tetapi tidak jujur, dan arogan. Artinya, masyarakat Samin menampilkan sosok masyarakat yang tetap kokoh mempertahan tradisi kearifan lokal (local wisdom) yang kemudian bisa dijadikan guru kehidupan untuk mendiagnosis pola pikir masyarakat yang terus mengarah pada materialis, individualis, life style kebarat-baratan, dan konsumtif atau glamor. Masyarakat modern mengukur tingkatan kehidupan dinilai dari kemapanan ekonomi, sedangkan masyarakat samin mengukur kebahagiaan jika tercipta interaksi dengan lingkungannya penuh kerukunan, kenyamanan, dan meninggalkan konflik.
Kata kunci yang terekam dalam prinsip ajaran hidup dan prinsip pantangan hidup masyarakat Samin dengan ungkapan aja pingin kondang, aja pamer, urip sak madya. Ungkapan tersebut bertolak-belakang dengan prinsip modern yakni brain, beautiful and behavior. Pelajaran lain yang patut kita panuti, adalah ajaran dasar dalam berprinsip diri masyarakat Samin meliputi kudu weruh te-e dewe, lugu, milgi, dan rukun. Seperti dalam konsep kudu weruh te-e dewe, yang berarti setiap orang harus memahami barang yang milikinya dan pantang bagi memanfaatkan barang orang lain. Dapat diambil makna bahwa masyarakat Samin masih menjunjung tinggi perilaku sosialnya sampai sekarang dengan hidup bersahaja meskipun pengaruh modernisasi mengelilingi kehidupan mereka.
Interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar berupa kerjasama, akomodasi, dan asimilasi. Interaksi sosial tersebut dipengaruhi oleh situasi sosial, kekuasaan kelompok, tujuan pribadi, kedudukan dan kondisi individu serta penafsiran situasi. Ada banyak nilai yang patut dipelajari oleh generasi berikutnya guna mempertahankan atau melestarikan nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi masyarakat Samin. Bukan hanya hubungan sosial antara sesama Sedulur Sikep yang positif, namun pandangan masyarakat Samin/Sedulur Sikep terhadap lingkungan juga sangat positif. Mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini selaras dengan pola pikiran mereka yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya.
Sedulur Sikep mempunyai ajaran-ajaran moralitas yang patut dicontoh, antara lain:
1)      Sedulur Sikep sendiri bermakna masyarakat berbudi pekerti baik dan jujur. Pendidikan yang terdapat di dalam masyarakat Samin mengarahkan anak didiknya untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti baik, diantaranya saling membantu sesama.
2)      Samin/Sedulur Sikep mengajarkan kepada anak-anaknya moral terhadap alam. Alam merupakan tanah airnya yang mereka percaya akan menghidupi mereka selama mereka menjaganya. Cinta tanah air bagi masyarakat Samin adalah dengan menjaga kelestarian alam sekitar, saling menghargai ciptaan Tuhan, tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dan memanfaatkan alam secara secukupnya. Itulah yang diajarkan oleh kaum Samin terhadap anak-anaknya.
3)      Orang Samin/Sedulur Sikep biasanya ditandai dengan keprimitifannya, jarang bergaul dengan dunia luar meskipun sekarang sudah terbuka dengan masyarakat luar. Dibalik keprimitifannya itu, Sedulur Sikep  memiliki prinsip filosofi yang tinggi. Nilai kesosialan, gotong royong dan tepo seliro dijunjung tinggi. Wong Samin yang dianggap sebagai kaum paling bawah ini, menempati nilai tertinggi dalam hubungan sosialnya.
Ajaran Samin/Sedulur Sikep lebih mengedepankan aspek aktualisasi pendidikan daripada kognisi (pengetahuan) semata. Prinsip menghargai sesama yang mereka junjung belum tentu dapat dicontoh oleh masyarakat di sekitarnya. Konsep aktualisasi pendidikan inilah yang melahirkan para penerus berbudi luhur. Karena kekhasan manusia terletak pada adanya perasaan akal, hati nurani dan kemampuan beriman pada dirinya, maka pendidikan atau humanisasi haruslah menyentuh segi-segi yang khas pada manusia itu. Orang Samin jauh lebih mengerti bagaimana nguwongke wong liyo (menghormati orang lain). Ajaran samin yang diajarkan oleh para leluhur mereka memanglah sarat akan nilai-nilai kearifan lokal. Meskipun, pada dasarnya masyarakat samin jika dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya tidaklah jauh berbeda.
Nilai-nilai luhur dalam ajaran samin ternyata mampu meredam perilaku anggota masyarakat untuk tidak berlaku secara semena-mena. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat samin sesungguhnya mengedepankan keseimbangan antara hak dan kewajiban, penghormatan atas orang lain, dan usaha yang sungguh-sungguh. Sebagimana yang dipaparkan oleh Edward H. Spence (2011) konsep kearifan dapat dipahami sebagai jenis pengetahuan serta kebajikan, yang dapat memungkinkan seseorang untuk mengetahui bahwa pada prinsipnya apa saja kehidupan yang baik dan bagaimana cara agar berhasil menerapkan pengetahuan tersebut untuk dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai luhur tersebut seyogyanya patut dicontoh dan dipelajari sebagai fondasi bagi bangsa Indonesia yang multikultural untuk senantiasa dapat hidup rukun, menjaga lingkungan alam sekitar, dan mempertahankan kearifan lokal yang ada meskipun berada dalam pengaruh perkembangan jaman. Nilai-nilai luhur ajaran samin dapat diajarkan oleh keluarga maupun guru di sekolah agar peserta didik sebagai generasi muda memahami nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di lingkungannya, senantiasa menerapkan perilaku yang bermoral, dan mampu mempertahankan jati diri atau identitasnya sebagai suatu komunitas yang masih memegang teguh nilai ajaran kearifan lokalnya dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga, nilai-nilai yang tersirat dalam ajaran samin hendaknya dapat dijadikan pijakan atau panutan, khususnya bagi generasi muda bangsa sebagai prinsip dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari.
  1. Identitas Masyarakat Samin di Tengah Modernisasi
Adat istiadat, tata nilai dan budaya mengatur beberapa aspek kehidupan manusia, seperti hubungan sosial kemasyarakatan, ritual peribadatan, kepercayaan, mitos-mitos dan sanksi adat yang berlaku di lingkungan masyarakat adat yang ada. Keanekaragaman budaya daerah tersebut merupakan potensi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra budaya tersendiri pada masing-masing daerah, serta merupakan bagian penting bagi pembentukan citra dan identitas budaya suatu daerah (http://yudiyahman.blogspot.com/2013/04/makalah-kearifan-budaya-lokal-cerminan.html diunduh tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.00). Wong samin atau wong sikep masa kini tumbuh berbarengan dengan modernisasi. Meksipun kehidupan mereka sekarang terpengaruh dari perkembangan jaman, akan tetapi komunitas Samin masih memegang dan melaksanakan ajaran samin. Bagi orang samin yang penting dalam hidup ini adalah tabiatnya. Bagi mereka, manusia itu sama saja, sama hidup, dan tidak berbeda dengan lainnya. Yang membedakan hanyalah perjalanan hidup, perbuatan atau pekertinya. Perbuatan manusia hanya ada dua, yaitu baik atau buruk, jadi orang bebas memilih satu diantara dua perbuatan itu. Manusia hidup yang penting bukan lahiriahnya, bukan kata-kata muluk melainkan isi hati dan perbuatan nyata. Inti ajaran samin yang masih dipegang sampai sekarang adalah kejujuran. Prinsip kejujuran itulah yang menjadi agama bagi mereka. Apa yang mereka bicarakan adalah suara hati, tindakan yang dilakukan adalah apa yang mereka yakini. Kejujuran menjadi salah satu landasan penopang kehidupan sosial mereka sampai sekarang.
Ajaran samin menjadi identitas bagi mereka yang menunjukkan karakter yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga, prinsip hidup yang masih dipertahankan dan dijalankan yang membedakannya dengan masyarakat pada umumnya. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudnya, ia dipelihara, dimodifikasi, atau malahan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Sebaliknya, identitas-identitas yang dihasilkan oleh interaksi antar organisme, kesadaran individu, dan kesadaran struktur sosial bereaksi terhadap struktur sosial yang sudah diberikan, memeliharanya, memodifikasinya, atau malah membentuknya kembali. Masyarakat mempunyai sejarah dan di dalam perjalanan sejarah itu muncul identitas-identitas khusus, tetapi sejarah-sejarah itu dibuat oleh manusia dengan identitas-identitas tertentu (Berger dan Luckman, 1990:248).
Struktur-struktur sosial historis tertentu melahirkan tipe-tipe identitas yang bisa dikenali dalam kasus-kasus individual. Seorang eksekutif mempunyai identitas berbeda dengan seorang gelandangan, dan seterusnya (Berger dan Luckman, 1990:248). Orientasi dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari tergantung pada tipifikasi-tipifikasi seperti itu. Artinya, tipe-tipe identitas sosial bisa diamati dalam kehidupan sehari-hari dan bahwa pernyataan-pernyataan seperti yang telah dikemukakan bisa diverifikasi atau disangkal oleh orang-orang biasa dengan akan sehat (Berger dan Luckman, 1990:249). Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Sebaliknya tipe-tipe identitas merupakan produk-produk sosial semata-mata, unsur-unsur yang relatif stabil dari kenyataan sosial obyektif. Dengan demikian, tipe-tipe identitas itu merupakan pokok dari suatu bentuk kegiatan berteori dalam tiap masyarakat, sekalipun tipe-tipe itu stabil dan pembentukan identitas-identitas individu relatif tidak menimbulkan masalah.
Berger dengan tegas menyatakan walaupun sekelompok orang hidup dalam suatu negara yang terdiri lebih dari satu suku bangsa, bisa saja di dalamnya juga memiliki identitas-identitas lain yang menyatakan dirinya bukan sebagai bangsa dari negara tersebut namun dari suatu komunitas. Identitas dikatakan Berger ditentukan oleh struktur sosial yang ada. Sebagaimana yang dituliskan oleh Wasino (2013) setiap masyarakat memiliki budaya yang digunakan sebagai pedoman perilaku. Budaya didirikan oleh dukungan kelompok, karena perbedaan asal mereka, konsepsi budaya dan pandangan yang berbeda. Ada beberapa kelompok pendukung budaya, yaitu ras, agama, kelompok etnis, jenis kelamin, pangkat sosial, kekayaan dan tingkat pendidikan.
Berdasarkan paparan dari Sunadi (2013) proses penguatan identitas pada masyarakat samin dilakukan melalui proses imitasi dan identifikasi di lingkungan keluarga seperti peniruan seorang anak kepada orang tuanya baik dari peniruan tingkah laku yang dilakukan oleh orang tuanya, peniruan cara berpakaian, mata pencaharian, adat pernikahan, maupun peniruan dari segi bahasa dan ajaran saminisme. Selain itu, para orang tua di komunitas samin yang mempunyai keinginan identik atau sama dengan leluhurnya dalam praktik kehidupan sehari-hari mereka dan penguatan identitas melalui agama yakni agama Adam yang berfungsi sebagai perekat sosial atau legitimasi sosial.

Komunitas samin merupakan potret masyarakat adat yang amat kuat dalam memegang prinsip budaya adiluhung dan berperilaku harmonis dengan alam (mamayu hayuning bawana). Pendidikan yang disuguhkan oleh komunitas Samin merupakan kearifan lokal. Walaupun dianggap nyeleneh dan sebagainya, tatanan kehidupan masyarakat Samin amat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang ada di masyarakatnya. Seiring dengan peningkatan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern serta pengaruh globalisasi, warisan budaya dan nilai-nilai tradisional masyarakat adat, khususnya masyarakat samin menghadapi tantangan terhadap eksistensinya. Hal ini perlu dicermati karena warisan budaya dan nilai-nilai tradisional tersebut mengandung banyak kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, dan seharusnya dilestarikan, diadaptasi atau bahkan dikembangkan lebih jauh.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, Peter L dan Thomas Luckman. 1990. Tafsir Sosial Atas Kenyataan. Terjemahan Hasan Basari. Jakarta: LP3S.
Djoewisno. 1988. Potret Kehidupan Masyarakat Baduy. Jakarta: Khas Studio.
Haji, Muhammad Nur. 2014. Perkawinan Adat Masyarakat Samin di Dusun Bombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Perbandingan Hukum Adat Samin dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan) (Skripsi) UIN Yogyakarta: Yogyakarta.
Mumfangati, Titi dkk. 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yogyakarta: Penerbit Jarahnitra.
Purwasito, Andrik. 2003. Agama Tradisional: Potret Kehidupan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.
Sastroatmodjo, Soerjanto. 2003. Masyarakat Samin. Yogyakarta: Narasi.
Spence, Edward H. (2011). Information, knowledge and wisdom: groundwork for the normative evaluation of digital information and its relation to the good life. Journal of Ethics Inf Technol. Vol. 13:261–275 DOI 10.1007/s10676-011-9265-7.
Sunadi, Ahmad. 2013. Interaksi Sosial Masyarakat Samin di Tengah Modernisasi (Studi di Desa Beturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati) (Skripsi) UIN Yogyakarta: Yogyakarta.
Suyami. 2007. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yogyakarta: Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.
Wasino. (2013). Indonesia: From Pluralism to Multiculturalism. Journal of Paramita. Vol. 23. (2):148-155.
http://www.eprints.walisongo.ac.id/514/4/082111039_Bab3.pdf (diunduh tanggal 2 November 2014 pukul 21.00).
http://oase.kompas.com (diunduh tanggal 2 November 2014 pukul 21.06).
http://id.com/2011/10/ajaran-kependidikan-samin.htm (diunduh tanggal 6 Mei 2015 pukul 07.50).

No comments:

Post a Comment