cinta INDONESIA http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif

Berbincang-bincang tentang kehidupan dari manusia hingga tuhan

Tuesday, April 28, 2015

naskah drama


LEGENDA DAE LA MINGA
Di Kerajaan Sanggar, hidup seorang putri cantik. Namanya Dae La Minga. Aura kecantikannya tergambar dari julukannya “Oha ra ngaha ninu oi nono“, maksudnya tenggorokannya bening, sehingga makanan dan minuman yang ditelan terlihat dengan jelas. Tiap hari sang putri mandi di Sori Sabu atau Sungai Sabu dekat istana. Rupanya kesempatan sang putri pergi mandi dimanfaatkan oleh banyak pangeran yang berebut ingin melihatnya. Sampai suatu ketika muncul tragedi, perkelahian antar pangeran yang berusaha menatap wajah sang putri. Salah satu pangeran terbunuh.
Putri sangat terpukul. Oleh orang tuanya, dia disembunyikan di lumbung padi, untuk menghindari fitnah. Rupanya perang tanding antar pangeran berlanjut. Mereka bahkan membuat kesepakatan, siapa yang menang akan menikahi sang putri. Sampai ada satu pangeran yang keluar sebagai juara duel Sori Sabu. Dia datang menemui putri dan melamarnya. Raja dan permaisuri menerima pemuda itu dengan baik namun belum mengabulkan niatnya. Di saat bersamaan, berdatangan pula pangeran dari seberang untuk melamar.
Raja cukup sulit memecahkan persoalan tersebut. Jika salah mengambil keputusan, bisa berujung pada peperangan antar kerajaan, yang mengakibatkan Kerajaan Sanggar hancur. Raja bermusyawarah dengan para pembesar istana. Pilihannya ternyata amat tragis, Dae La Minga harus dibuang ke temapt yang tinggi dan sangat jauh yakni Moti Lahalo, sebuah danau di bekas letusan Gunung Tambora.
Mengetahui itu sang putri hanya pasrah. Dia berkata, “Demi kehormatan Kerajaan Sanggar, saya siap mengorbankan diri”. Mendengar tekad sang putri seluruh rakyat menangis haru. Ketika tiba waktunya, sang putri diantar ke tempat pembuangan, ribuan rakyat mengiringinya dengan tarian dan nyanyian perpisahan Inde Ndua, yang mendayu-dayu. Putri diusung bersama raja dan permaisuri ke puncak Tambora.
Mereka tiba tengah hari di Pantai Lahalo. Dae La Minga berdiri di atas batu bersusun tujuh. Dia memakai baju warna merah ungu. Sang putri mengucapkan kata-kata perpisahan, “E e e … samenana dou kore, tahompara nahu mandake di ru’u, ai walina nggomi doho, gaga wa’a sara’a ba nahu. Boha si gagamu ambi wati wali, boha si ambimu ntika wati wali ro nenti kaciapu nggahi ra eli salama ake edera tua  tengi ma tengi sara“. Wahai seluruh rakyatku, biarlah aku yang mengalami nasib seperti ini, jangan lagi dialami oleh kalian. Kecantikan akan aku bawa semua, seandainya kalian itu cantik tapi tidak kelihatan anggun, seandainya kalian anggun tapi tidak kelihatan cantik. Semuanya itu, biarlah aku yang bawa dan berpegang teguhlah pada kata hikmah dan falsafah yang sudah memasyarakat yakni norma yang baik adalah titah orang tua.
Usai mengucapkan kata-kata tersebut, sang putri bersujud di hadapan orang tuanya. Putri lalu menuju peti yang disediakan dan masuk ke dalamnya. Terdengar tangis memilukan sang putri saat peti ditutup dan perlahan dihanyutkan ke Moti Lahalo. Peti itu terus menjauh dan sayup-sayup tangis putri perlahan menghilang. Sampai akhirnya peti tak tampak di kejauhan. Raja dan permaisuri pun kembali ke istana.
Orang sanggar zaman dulu percaya Dae La Minga masih hidup secara gaib dalam satu kerajaan di puncak Tambora. Dia kerap muncul di saat-saat tertentu dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang beruntung. Orang tersebut akan bisa menikmati kehidupan di lingkungan kerajaan Dae La Minga satu sampai tujuh hari.











SINOPSIS
DAE MINGA
Menurut sejarah dae minga adalauh putrid raja yag sangar yang cantik jelita. Tutur katanya lembut  , budi pekertinya halus. Sehingga menjadi bahan pembicaraan Raja dan Putra Mahkota Kerajaan tetangga.
Kecantikan sang Putri dijuluki “Waja Oha Ra Ngaha NInu Oi Nono” telah menjadi para Raja dan Pangeran itu ingin mempersuntingnya, sehingga lamaranpun dari hari kehari datang ke kekerajaan sangagar. Datangnya lamaran ini membuat Raja Sanggar dan Putrinya gelisah.
Mereka sulit menentukan pilihan, sebab salah memilih berarti masalah bagi masrakat dan negri Sanggar, oleh karena itu, setelah diadakan perenungan , Musyaawarah pun dilaksanakan . musyawarah menghasilkan satunkeputusn yang sangat besar ,yaitu dae Minga harus dibuang ke danau  bekas letusan gunung Tambora. Danau tersebut sampai sekarang oleh Masyrakat di Kecamatan Sanggara Kabupaten Bima menamakan “MOTI LA HALO”
















JUDUL CERITA
PUTRi DAE MINGA
ILUSTRASI
Di serambi istana . kicauan burung sesekali terdengar , suasana tampak cerah. Diantara suasana itu masuk dari kiri , Dae Minga bersama dayang. Sampai di tengah pentas. Dayang I mempersilakan Dae Minga duduk, sedangkan dayang II mengatur tempat duduknya.
1.      Dayang I : Silahkan duduk tuanku !
2.      Putri : Alangkah cerahnya pagi ini . suasananya sejuk, nyaman dan indah.
3.      Dayang I: Ini merupakan anugrah  Than yang patut kita syukuri Tuan Putri

4.      Dayang III: benar tuan putri ! diluar sana terhampar gunung Tambora,menghijau bagaikan permadani. Sedangkan di sebelah utaranya,terbentang lautan yang sangat luasnya
5.      Putri: Tetapi keindahan itu , tak mampu menentramkan hati saat ini dayang dayangku. Aku selalu gelisah (wajah sedih)
6.      Dayang II :Apa gerangn yang menimpa Tuan Putri
7.      Dayang  IV :Ia tuan putrid apa sebabnya
8.      Putri : ( Beranjak berdiri ) dayang – dayangku. Tidakkah kalioan merasa,bahwa sudah beberapa hari ini kita tidak di perkenankan oleh baginda untuk keluar istana.
9.      Dayang I : Benar Tuan Putri
10.  Putri : Baginda melarang kita , karena dari hari kehari , lamaran dari Raja dan Pangeran Kearajaan tetangga selalu berdatangan di kerajaan ini . mereka ingin mempersuntingku,sementara bila aku memilih salah satu di antara mereka,maka kerajaan-kerajaan lain akan tersinggung dan aku tkaingin hal itu akan menyebabkan paertumpahan darah di negri ini.
11.  Dayang I :Kamipun sangat menghawatirkannya TTuan Putri.
12.  Dayang II : SSudahkah Tuan purtri meuusyawarahkan halite kepada tuan permaysuri dan baginda.
13.  Putri :belum dayangku masalah inilah yang srdang aku pikirkan kebaikan dan keburukanya.namaun,lama-lamaaku berada di istana inidengan kegelisahanku,membuat aku merasa jenuh.aku ingin menemukan nuansa baru,yang mampu menenengkan hati ini.karena itu,dayangku! Bagaimana kalau kalian mengantarkan aku,untuk melihat keadaan diluar istana,agar rasa jenuh dan gelisah ini sedikit terobati.
14.  Dayang I: (kaget) ampun hamba tuanku!bukannya kami hendak melarang tuan putri.tetapi tuanku maha raja melarang tuan putri keluar pagar istana
15.  Dayang II: ya tuanku ! kami takut,tuanku maharaja murka karenanya
16.  Putri : aku mengaerti dayangku! Tetapi kali ini kita keluar sebentar saja.kita pasti kembali secepatnya.
17.  Dayang II : jika demikian tuanku,hendaklah tuanku minta  di kawal oleh pasukan istana .
18.  Putri :  tidak perlu dayangku! Ayolah mari ikut aku.(mereka beranjak keluar.  dayang I,dayang II,dayang III,dan IV menunjukkan kehawatiran)

ADEGAN II
Suasana alam di tempat Pemmandian luar istana , udaara segar terdengar burung berkicau(music biola).

(putri dan para dayang memasuki pentas dari kiri)
19.  Putri :Sungguh indah alam disini dayangku,udaranyasejuk.keindahan iyang penuh dengan kedamain,keindahan yang mendekatkan kita dengan penguasa alam Dan keindahan inilah ynag telah menggetarkan jiwa ini.sunngguh ciptaan yang mengagumkan . oh ya dayangku !
20.   Dayang I : memang benar tuan putri panorama alam pagi ini sungguh indah.
21.   Putri :kepada tuhanlah aku menyerahkan kegelisahanku ini,agar aku mendapatkan petunjuk,hingga masalah ini dapat diselesaikan dengan kedamaian.
22.   Dayang II : sukurlah tuan putri dapat memikirkan segala kemungkinannya.
23.  Putri : sekarang ,kita pulang dayangku,sebelum para prajurit istana ketika
ADEGAN III
Ketika tuan putri dan dayang dayang,di cegat oleh putra mahkota kerajaan peka (music genda mbojo).

(ketika putri  dan dayang dayang hendak keluar,tiba tiba muncul putra mahkota kerajaan peakat yang menegurnya)

24.  putra pekat : berhentilah sebentar,wahai tuan putri yang cantik jelita.(sambil mendekati tuan putri)
.
(putri dan  dayang dayang berhenti dan membalikkan badannya kearah para pangeran.dayang dayang agak takut . mereka melindungi tuan putri)

25.   putri :siapakah  gerangan tuanku ? dan adakah yang dapat kami bantu ?
26.   putra pekat : wahai dae minga .pantas kau di juluki “Waja Oha Ngaha ninu Oi Nono.kau berbudi pekerti lembut, kta katamu santun,parasmu cantik dan jelita.beberapa hari lagi  putra mahkota kerajaan pekat,akan mempersuntingmu.Ha … ha …. Ha….
27.   putri : ampuni hamba tuanku ! hamba harus pulang ke istana
28.  putra pekat : tunggu wahai tuan putri ! kau tidak usah takut. Aku sudah melamarmu pada raja sanggar. Itu berarti, kau sekarang adalah miliku. Kau akan ku boyong ke istanaku untuk ku jadikan pendamping hidup. Ha ….. ha ….ha
(putra kerajaan agak masuk)
29.   putra aga : hai jangan dulu berbangga hati,wahai putra mhkota kerajaan pekat akulah yang lebih berhak mempersunting dae minga dari padamu.

(suasana semakin tegang,putri dan dayang dayang semakin takut)

30.  putra pekat :(kaget menghadap kearah putra aga dengan geram.) siapa kau, beraninya mencampuri urusanku. Dae minga adalah milikku. Aku sudah melamarnya pada raja sanggar.
31.   dayang I : sudahlah wahai para pangeran . janganlah tuan tuan bertengkar karna masalah ini.
32.   dayang II : biarlah tuan putri saja yang akan menentukan pilihannya tuan pangeran.
33.   putra pekat : aaaaaah ….,aku tidak akan membiarkan dae minga menjadi milik orng lain sekarang kalian minggirlah. Aku akan membunuh pangeran yang kesiangan ini.
34.   putra aga : kau tidak pantas mempersunting dae minga wahai putra mahkota kerajaan pekat. Karena itu kau angkat kaki dari tempat ini.(suasana semakain tegang)
35.  putra pekat : lancangabenar ! kalau kamu “ DOU RANGGA” mari kita “ncao”
36.   putra aga : “mai” aku terima tantanganmu. Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan.(music gantau)
(putra pekat dan putra aga bertarung. Sedangkan putri keliatan takut dayang dayang agak gemetar .)(sesaat kemudian , putri dan dayang dayang keluar.)
Pertarungan kembali berlanjut hingga putra pekat kalah tetapi dia masih mengancam putra aga .
37.   putra pekat : hai putra mahkota raja aga ! hari ini aku belum kalah . tapi ingat siapapun berani mempersunting dae minga maka akan berperang dengan kerajaanku.(keluar)
38.   putra aga : (aga mengejar tetapi kembali melihat kearah dae minga berdiri, dia mencari cari kemudian berucap ) dae minga dimana kau (keluar)
 Di istana tengah duduk sang raja dan permaisuri,dengan didampingi dayang dayang.

39.   raja : Dinda !
40.  permaisuri : ada apa kanda?
41.  Raja : Adakah kau mendengar , apa yang dibicrakan  oleh Rakyat dan Putra Mahkota Kerajaan Tetangga tentang putri kita ?
42.  Permaisuri: Tentang apa kanda ? Adakah anak kita berbuat salah ?
43.  Raja: bukan itu dinda, anak kita tidak berbuat salah . Mereka hanya menyebut kecantikan Putri kita , dengan sebutan “Waja oha ngaha ninu oi nono”
44.  Pernmaisuri: Dinda sungguh bahagia Kanda ! Dia merupakan anugrah Tuhan yang tiada tara bagi kita. Dia bagaikan bulan kelima belas, mempesona , menyinari alam maya pada ini.
45.  Raja : itulah Dinda ! yang selama ini aku khawatirkan. Aku sebenarnya ingin memilihkan jodoh yang terbaik untuk anak kita, namun beberapa hari ini aku selalu diresahkan oleh mimpi burukku, bahwa akan ada badai yang akan menghapus negeri ini.
46.  Permaisuri : Dinda juga pernah bermimpi hal yang sama Kanda. Dinda menjadi takut jika mengingat mimpi itu (mendekat ke Raja)

(Hulubalang tiba-tiba masuk dari kiri)
47.  Hulubalang : Ampuni hamba Tuanku Maharaja. Hamba telah lancang memasuki ruangan baginda .
48.  Raja : ( agak kaget, mendekat pada hulubalang, sedangkan permaisuri ada di samping Raja ). Ada apa Hulubalang ! apa gerangan berita yang hendak kau sampaikan.
49.  Hulubalang  : Ampun tuankun ! Hamba benar-benar kaget, ketika melihat Tan Putri  memasuki lare-lare Istana. Ini berarti Tuan Putri telah pergi ke luar Istana. Hamba siap menerima hukuman atas kelalaian Hamba.
50.  Raja : Dae Minga keluar istana ? dimana dia sekarang ( gelisah )
51.  Hulubalang  : Begitulah adanya baginda !
52.  Permaisuri :  Bagaimana dengan Putriku Hulubalang?
53.  Hulubalang  : Tuan Putri dalam keadaan baik-baik saja, Tuanku !
54.  Raja  :  Hulubalang ! Hadapkan ke hadapankau, Dae Minga bersama dayangnya
55.  Hulubalang  :  Baik Tuanku, titah tuanku hamba laksanakan. (Hulubalang keluar dan masuk kembali dengan putri Dae Minga). Tuan Putri telah tiba Baginda.

Adegan IV
   Putri dan Dayang-dayang  berada di istana
56.  Raja : Putriku kenapa engkau keluar istana ? Bukankah sebelumnya Muma telah melarang ?
57.  Putri : Ampun beribu ampun Muma dan Dade yang saya muliakan, tadi Ananda bersama dayang-dayang bersenang senang di telaga tempat pemandian, sewaktu kami kembali muncul 2 orang Pangeran yag ingn merebut Ananda ( dengan hati takut bercampur haru )
58.  Raja  :  ( Kaget ) Petaka ? Apa yang terjadi ?
59.  Putri :   Disaat Ananda mencari ketenangan, tiba-tiba muncul Putra Mahkota Raja Pekat yang mesngganggu ketenangan itu. Anandapun ingin pulang. Tetapi Ptra Raja Pekat menahan ananda. Beberapa saat kemudian , Putra Raja Aga datang. Mereka akhirnya bertarung, karena masing masing ingin memperebutkan Ananda. Ananda khawatir Ayahanda, sebab Putra Rja Pekat  yang kalah mengancam akan berperang, kepada siapa yang mempersunting Ananda.
60.  Raja : mimpiku kini menjadi kenyataan , karena itu wahai Putriku. Kau jangan lagi keluar istana tanpa seijinku. Sekarang aku harus memikrkan jalan keluar dari permasalahan ini.
61.  Putri : Baik Muma ! Ananda pun akan memikirkan pemecahan masalah ini dan ananda rela menerima apapun keputusan Muma.
62.  Raja  :  Sekarang, Ananda boleh pergi, tenangkan pikiranmu. Mudah-mudahan Tuhan Yang Kuasa memberikan jalan yang terbaik bagi kita ( kemudian Putri keluar )
63.  Raja  :  Hulubalang. Masalah ini telah menjadi besar dan hal ini harus kita musyawarahkan. Oleh karena itu, kau beritahukan kepada para pembesar Istana, bahwa besok kita akan bermusyawarah di ruang utama Istana.
64.  Hulubalang  :  Tita baginda, hamba lasanakan.
65.  Raja  : Ayao Dinda, kita harus istirahat.
( mereka keluar )
Adegan V
( Di dalam kamarnya Putri terlihat sedang duduk termenung. Kadang –kadang ia mengadahkan mukanya kelangit. Kadang-kadang pula mengerutkan dahinya. Saat itu, Putri agak kelihatan berfikir .)
( dari kiri masuk permaisuri mendekati putri. Putri tersentak dari lamunannya, saat permaisuri memegang pundaknya). ( musik sarone, sayup sayup mengiringi adegan tadi).

66.  Permaisuri  :  Beberapa hari ini, kau kelihatan selalu menyendiri Putriku.keceriaanmu berganti kegelisahan , padahal Dade selalu mengharafkan engkau gembira, tenang bahagia bersama dayang-dayangmu.
67.  Putri  :  Maafkan Ananda Dade. Bila tingkah ananda, telah meresahkan hati Dade. Ananda gelisah, karena beberapa hari ini Muma selalu didatangi utusan Raja-raja tetangga yang hendak melamar Ananda. Bahkan ada beberapa Pangeran yang saling mengancam. Bila mereka tidak mendapatkan Ananda, maka perangpun akan terjadi.
68.  Permaisuri  :  Dade juga sudah mendengar hal itu Ananda, bahkan Mmamu, sedang memikirkan pangeran mana yang akan dipilih, dan bagaimana jalan keluarnya bila terjadi permasalahan nanti.
69.  Putri  :  Maafkan Ananda Dade. Ananda juga sudah memikirkan hal itu berhaari-hari. Permasalahan ini telah meresahkan hati Muma, Dade dan ketetraman negri ini. Oleh karena itu Bunda, Ananda telah memikirkan kebaikan dan keburukannya. Setelah Ananda berdoa kepada Tuhan, Ananda mendapat petunjuk bahwa Anandalah yang harus di korbankan.
70.  Permaisuri  :  Tidak, tidak anakku. Kau tidak harus melakukn hal itu. Biarkan Muma yang memecahkan persoalan ini.
71.  Putri  : Tidak Dade, permasalahan ini tidak dapat di pecahkan tanpa pengorbanan. Karena itu, jalan satu – satunya Ananda harus dikorbankan.
72.  Permaisuri  :  Anakku, engkaulah satu-satunya harapan dalam hati Dade. Engkau adalah pengobat mata, penyejuk hati, lemah rasanya sendi dan raga ini, jika engkau harus hilang dalam kabut dan telaga keputusanmu.
73.  Putri  :  Ananda rela melakukannya Dade. Biarlah Ananda saja yang menjadi korban. Jangan sampai dirasakan oleh rakyat dan negri, karena itu Dade sampaikan kepada Muma tentang keinginan Ananda.
74.  Permaisuri  :  Anakku, wala denan berat hati Dade menjawabnya, pesanmu pasti Dade sampaikan, sekarang kau tidurlah anakku, Ibu juga mau pergi. ( Mereka keluar )


Adegan VI

Di ruang sidang utama Istana. Telah duduk Raja, Permaisuri dan Putri Dae Minga. Begituuga dengan Ruma Bicara, Pemangku, dayang-dayang, dan Hulubalang. Semuanya telah hadir untuk bermusyawarah.

75.  Raja  :  Wahai para pejabat Istana. Hari ini aku menghadapkan kalian, karena ada persoalan penting yag harus kita bicarakan. Kalian sudah mengetahuinya, bahwa dari hari kehari, lamaran yang datang dari kerajaan tetangga yang ingin mempersunting Putriku semakin banyak. Aku sulit menentukan pilihannya. Sebab salah memilih berarti bencana bagi negeri kita dan negeri lainnya. Karena itu, sesuai dengan keinginan Dae Minga dan titahku. Setelah dipikirkan kebakan dan keburukannya. Maka aku memutuskan bahwa putriku harus dibuang ke “Moti La Halo”
76.  Permaisuri  : Ampun Kanda ! tidakkah keputusan ini dapat diubah dengan keputusan yang lain ?
77.  Raja  : Titahku harus ditegakkan.
78.  Ruma bicara  :  Ampun beribu ampun baginda. Janganlah Tuan Putri dikorbankan. Biarlah Putri hambamu ini yang akan menggantikannya Baginda.
79.  Raja  :  Masalah ini sudah aku pikirkan. Inilah satu – satunya jalan yang harus kita tempuh, karena semua permasalahan bersumber pada Putriku.
80.  Pemangku  :  Ampun Baginda. Kami dan rakyat Sanggar sangat menyayangi Putri Dae Minga. Kami rela mengorbankan diri untuk melindunginya bila terjadi peperangan.
81.  Raja  :  Itulah yang tidak aku inginkan. Akupun sebenarnya berberat hati untuk melaksanakannya tetapi aku tidak boleh mementingkan diri sendiri, kepentingan rakyat dan negeri inilah yang harus kuutamakan. Bagaimana denganmu Putriku ?
82.  Putri  :  Ananda rela melakukanna Muma !
83.  Permaisuri  :  Putriku ( memeluk putrinya) sudahkah kau hal  ini kau pikirkan sebaik mungkin ? sungguh hati Dade tak kuasa mendengarnya engkaulah permata hatiku.
84.  Putri  :  Tabahkan hati Dade. Janganlah terlalu memikirkannya.
85.  Raja  :  Dinda dan Putriku dan kalian pejabat Istana. Keputusan ini harus kita laksanakan secepatnya. Besok Dae Minga harus dibuang dan malam ini, adalah malam perpisahan bagi Putriku. Dayang – dayang ! dendangkan syair “ Inde Ndua ” sebagai kenangan terakhir bagi Putriku.

Nyanyian Inde Ndua didendangkan. Suara tangis Permaisuri terdengar. Begitu pula dengan dayang dayang semuanya bersedih sebab besok mereka akan ditinggalkan oleh Dae Minga yang mereka sayangi, seluruh negeri berduka. Rakyat Sanggar yang mendengar keputusan Raja, amat bersedih hati. Mereka ingin melihat Putri Dae Minga yang terakhir kali. Karena itu, mereka datang ke Istana, dan ingin mengantar kepergian Putrinya.

86.  Raja  :  Putriku sekarang saatnya kita berpisah. Karena itu, mari kita berangkat. Dinda, marilah kita antar Putri kita ketempatnya yang terakhir.

Adegan VII

Hulubalang mengapit Raja, Permaisuri dan Dae Minga. Sedangkan Ruma Bicara, Pemangku dan Dayang – dayang mengikutinya dari belakang mereka berjalan ketengah pentas. Setelah itu, Dae Minga bersujud dikaki Raja dan Permaisuri.
87.  Raja  :  Tegarkan hatimu Anakku.
88.  Permaisuri  :  Anakku ( memeluk putrinya )
89.  Putri  :  Ananda harus pergi Muma. Dade , tabahkan hati Dade, relakan kepergian Ananda ( mereka menangis ). Dae Minga beranjak dari Raja dan Permaisuri. Dia melihat atu persatu pengiringnya. Kemudian ia berdiri diatas batu bersusun tujuh dan berseru.
90.  Putri  :  E... Sara’ana dou Kore.. Hampa ba nahu mpa mandake diru’u ai walina di nggomi doho. Gaga rantika wa’a sara’a ba nahu ambimpa di wi’i wea ba nahu ngomi doho.                                                                                                  
Hulubalang membawa Putri keluar. Suara isak tangis masih terdengar, Raja pun maju di antara rakyatnya.

91.  Raja  :  wahai rakyatku ! tabahkan hati kalian. Semua ini saya lakukan demi kedamaian di tas negeri ini. Marilah kita pulang, kita jangan terlena dengan kesediahn ini. Dinda, marilah kita pergi.
( mereka keluar )

ANUGERAH TERINDAH DARI ALLAH SWT



ANUGERAH TERINDAH DARI ALLAH SWT
             Sekian lama dari peristiwa pertama yang pernah terjadi menjadikan aku lebih berhati-hati untuk menjaga karuniaNya. Kami sangat bersyukur kepada Allah Swt yang melimpahkan serta memberi kepercayaan kepada kami untuk merawat dan memdidik buah hati agar selalu berada di jalanNya.. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kami sekeluarga terutama kepada keturunan- keturunan kami kelak sehingga mereka menjadi anak yang soleh/solekhah,  cerdas , sehat lahir maupun batin dan selalu beruntung dalam berbagai hal. Amin..
            Alhamdulillah sekarang usia kehamilanku sudah menganjak 8 bulan, dimana di bulan ini sudah diberi bentuk yang sempurna pada  anggota  tubuhnya.. semakin besar usia kandungan semakin aktif pula geraknya.. Ada sesuatu yang bikin bahagia secara emosinal disaat si dedek bergerak kesana kesini, kecemasan pun hilang sudah karena hati merasa tentram oleh gerakannya. Senyam senyum sendiri itu menjadi kegiatanku sehari- hari disaat si janin bergerak untuk ngajak ngobrol dan bermain.  Namun dibalik kebahagiaanku ini ada yang kurang sempurna dengan tak bisanya suami untuk mendampingi setiap perkembangan buah hati kita, sebab tugas pekerjaan yang selalu menantinya sehingga dia pun tak sanggup untuk menolaknya, tanggung jawab yang bbesar yang diembannya pun menjadi prioritas utama. Namun walau begitu sibuknya pekerjaan yang ada , dia selalu tidak menyia-nyiakan waktu  saat kapal mendapatkan sinyal untuk menanyakan kabar kita yang ada dirumah terutama tentang kesehatanku dan dedek yang ada diperutku. “Papa “ kita memanggilnya. Begitu perhatiaannya dia terhadap kami.. tak kan pernah ada yang bisa menggantikannya, pokoknya dia adalah nomor satu buat kita sekeluarga, Semoga papa bias menjadi suri tauladah buat aku dan anak-anakku kelak.amin..
by.tapak tulis

Saturday, April 25, 2015

UTS Teori dan Prinsip IPS

UTS Teori dan Prinsip IPS
Nama : Achmad Zurohman
NIM : 0301514014
Prodi : Pendidikan IPS S2
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Suyahmo, M.Si

Soal Ujian : Teori dan Prinsip IPS
-Work in Indonesian properly. Typed with one half sepasi.
-Collected on 24 April, Friday Pon, at 9 am. Late, divided by two.

1. In economi theory, applicable law : On the one hand, economic activity would be better if it were organized by the market, not the government. On the other hand, the government should regulate the market when there is market failure. Analyzes of this in perspektive IPS (PKN approach).

2. Geography is discussing about the properties of the earth, to analyze the phenomena of nature, and learn the specific pattern of life of its inhabitants. Analyzes it in perspective IPS (cultural anthropology approach by thinking Van Peursen).

3. The theory of culture of our ancestors are as follows : “Many children a lot of income”. Analyzes of this in Thomas Robert Malthus’theory of population explosion.

4. History as a science, discussing past events objectively. In studying history, we often find different thoughts in discussing the same event. Example : History collapse of Majapahit in 1478, by Prof. Slamet Moelyono, due to attack the kingdom of Demak Bintoro. While the history lesson that is taught in schools these dives, that the collapse of Majapahit, due Girindrawardana attack. Analyzes of this case, the IPS perspective.

Jawaban
1. Semakin kompleksnya kegiatan ekonomi dan semakin tingginya keterkaitan dengan aspek-aspek kehidupan lainnya, sangat sulit bagi suatu sistem ekonomi termasuk yang paling liberal sekalipun untuk menolak kehadiran peran negara atau pemerintah dalam perekonomian.Kegagalan pasar, seringkali menuntut campur tangan (intervensi) pemerintah. Namun, yang harus diperhatikan adalah tidak semua campur tangan pemerintah memberikan hasil yang baik, walaupun tujuannya baik. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi pemerintah dalam menentukan kebijakan yaitu adanya konflik (trade off ) antara tujuan yang ingin dicapai. Misalnya konflik antara tujuan efisiensi dan pemerataan. Agar rumah dapat terjangkau oleh rakyat kecil yang berpenghasilan rendah, pemerintah memberikan subsidi. Tetapi, pemberian subsidi itu cenderung mengorbankan efisiensi, karena uang subsidi dapat dialokasikan ke sektor-sektor lain yang lebih produktif.
Secara Das sain bahwa kegiatan ekonomi akan lebih baik jika itu diselenggarakan oleh pasar, bukan pemerintah. Karena pasar sebagai suatu mekanisme di mana penjual dan pembeli dapat menentukan harga secara bersama-sama untuk melakukan pertukaran. Pasar menentukan harga tiap barang dan jasa dalam perekonomian. Pasar yang terjadi dalam perekonomian merupakan akumulasi dari berbagai pasar barang dan jasa serta pasar faktor produksi. Banyaknya jenis barang/jasa tersebut akan menimbulkan diversifikasi pekerjaan. Selanjutnya, diversifikasi pekerjaan akan menghasilkan spesialisasi, yang akan mendorong timbulnya teknologi atau cara menghasilkan barang dan jasa dengan biaya yang serendah-rendahnya.
Secara Das sollen adalah tidak semua barang dan jasa bisa dihasilkan melalui mekanisme pasar dengan ‘tangan gaibnya’. Namun terjadi persaingan yang tidak sempurna, yang akhirnya menimbulkan inefisiensi, sehingga harga yang terjadi menjadi demikian mahal atau bahkan sebaliknya dimana barang dan jasa menjadi tidak berharga. Kegagalan sistem ekonomi pasar akan menghasilkan pengaruh yang dapat merugikan perekonomian itu sendiri. Di samping akan menimbulkan pemusatan faktor produksi pada satu pihak tertentu dan mengakibatkan ketimpangan dalam pendapatan.
Sintesa bahwa efisiensi pasar ini memerlukan intervensi dari pemerintah. Pemerintah dalam aktivitas perekonomian pasar dibatasi hanya pada beberapa kegiatan yang memang tidak bisa dilakukan oleh individu, seperti misalnya bidang keamanan dan pertahanan. Tetapi jika harus campur tangan dalam perekonomian dengan tujuan mengembalikan efisiensi, maka pemerintah melakukan regulasi atau membuat kebijakan-kebijakan yang berfungsi mengatur jalannya perekonomian agar tetap efisien. P.A. Samuelson mengatakan bahwa pemerintah mempunyai tiga fungsi perekonomian, yaitu:
1) Mengoreksi kegagalan pasar demi efisiensi.
2) Membuat program untuk melakukan pemerataan pendapatan dengan menggunakan instrumen pajak dan pengeluaran pemerintah.
3) Membuat kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tangguh.
Seperti halnya Indonesia tidak menganut Sistem ekonomi tradisional, Sistem ekonomi komando, Sistem ekonomi pasar, maupun Sistem ekonomi campuran. Sisten ekonomi yang diterapkan di Indonesia adalah Sistem Ekonomi Pancasila, yang di dalamnya terkandung demokrasi ekonomi maka dikenal juga dengan Sistem Demokrasi Ekonomi. Demokrasi Ekonomi berarti bahwa kegiatan ekonomi dilakukan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pengawasan pemerintah hasil pemilihan rakyat. Dalam pembangunan ekonomi masyarakat berperan aktif, sementara pemerintah berkewajiban memberikan arahan dan bimbingan serta menciptakan iklim yang sehat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Geografi membahas tentang sifat-sifat bumi, menganalisis fenomena alam, dan mempelajari pola tertentu dari kehidupan penghuninya. Dalam teorinya C.A van Peursen (1976) mengajukan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga dimensi yaitu mitis, ontologis, dan fungsional. Dalam dimensi mitis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat terbuka. Pada dimensi ontologis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat tertutup. Dan pada dimensi fungsional, relasi manusia dengan lingkungan bersifat partisipatif.
Dimensi mitis ditandai oleh manusia yang merasa dirinya dikelilingi oleh gaya tak terlihat disekitarnya. Dimensi mitis disebut juga pandangan ekosentris dimana manusia berintegrasi dengan alam dan dikendalikan oleh alam.
Dimensi ontologis ditandai oleh manusia yang tidak lagi hidup dalam kekuasaan mitis namun bebas untuk memeriksa apapun. Dimensi ontologis disebut juga pandangan antroposentris dimana manusia bersifat asertif dan mengendalikan alam.
Dimensi fungsional ditandai oleh sikap dan kondisi pikiran yang tidak lagi terkesan dengan sekitarnya, tidak lagi mengambil jarak dengan objek, namun ia ingin membentuk hubungan terhadap segala hal dalam lingkungannya. Dimensi ini diidentifikasi sebagai kebudayaan modern.
Salah satu analisis perspektif IPS kaitanya geografi dengan teorinya C.A van Peursen yaitu Contohnya Peristiwa BENCANA ALAM. Jika diamati, ada berbagai model dalam merespons peristiwa bencana alam ini. Dengan meminjam teori CA van peursen tentang tiga tahapan perkembangan kebudayaan sebuah masyarakat,yaitu mitis, ontologis, dan fungsional, maka ketiga model ini pun sepertinya dapat dipakai untuk menjelaskan sikap masyarakat dalam melihat bagaimana hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam cara pandang mitis, hubungan antara manusia dan alam tidak setara. Pada tahapan mitis peristiwa banjir selalu dikaitkan dengan kemurkaan alam dan Tuhan, maka dengan pendekatan ontologis, dengan nalarnya masyarakat memahami bahwa banjir itu adalah akibat hujan lebat yang tumpahan airnya tidak tertampung dan tidak tersalurkan oleh sungai-sungai yang ada.
Ketika terjadi peristiwa banjir kesalahannya lalu diarahkan kepada manusia dan untuk menebus “dosanya” mereka tidak lagi membuat sesajen (sesaji), tetapi dengan memperbanyak waduk-waduk dan tempat untuk penampungan serta serapan air. Sungai dan irigasi diperluas dan tidak lagi membuang sampah ke sungai atau mereka juga menghindari tinggal di daerah bantaran sungai.
Di sini, posisi manusia dan alam seakan sejajar, keduanya saling berdialog dan membuka diri, yang satu memahami yang lain. Dan sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan adalah melakukan pemahaman dan dialog dengan alam agar manusia lebih mengenal karakter alam sehingga dapat mengantisipasi reaksi dan akibat dari segala perilaku manusia terhadap alam. Ini bisa dibuktikan dengan penelitian di bidang obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Adapun dalam model ketiga, yaitu fungsional,manusia menempati posisi lebih tinggi dibandingkan alam. Dalam hubungan ini manusia adalah pihak yang diberi keleluasaan untuk mendayagunakan alam. Dan dengan ilmu pengetahuan, manusia seharusnya memiliki kemampuan mengantisipasi konsekuensi dari tindakannya yang menzalimi hukum alam. Bila hutan dijarah secara membabi buta atau serapan air dirampas oleh tumbuhnya hutan beton, alam akan bereaksi dalam bentuk longsor,banjir,dan lain-lain.
3. Teori budaya nenek moyang kita adalah sebagai berikut: "Banyak anak banyak pendapatan". Berdasarkan teori budaya nenek moyang kita tersebut erat kaitannya dengan teori mengenai penduduk oleh Thomas Robert Malthus yang hidup pada tahun 1776 – 1824. Analisis dampak pertumbuhan penduduk terhadap perekonomian khususnya terhadap ancaman kekurangan pangan mendapat perhatian lebih luas ketika Malthus mengemukakan teorinya tentang dampak pertumbuhan penduduk terhadap kecukupan bahan pangan. Dalam tulisannnya yang berjudul Essay on the Principle of Population. Thomas Robert Malthus menyatakan: ’..........apa bila tidak ada pembatasan jumlah penduduk maka penduduk akan berkembang biak dengan cepat sebagai deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32 ......, dan disi lain jumlah pangan hanyak mengalami pertambahan sebbagai deret bilangan 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......akibatnya penduduk dunia akan mengalami kelaparan hebat. Untuk menghindari kekuranga bahan pangan maka jumlah penduduk harus dibatasi. Untuk itu perlu dilakukan moral restrain (pengekangan diri: pengekangan nafsu seksual, penundaan perkawinan)”. Sedangkan, teori nenek moyang banyak anak banyak pendapatan. Bagi keluarga dengan golongan ekonomi tingkat atas, bila mau menjalankan teori ini tidak akan berdampak besar pada kehidupan ekonomi mereka. Tapi bila hal ini diterapkan pada golongan ekonomi menengah bawah, bisa jadi menambah beban ekonomi bagi keluarga yang bersangkutan. Dalam kondisi masyarakat yang kondisi perekonomiannya miskin, tentu saja bertambahnya jumlah anak membawa konsekuensi harus lebih banyak penghasilan yang harus dicari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari urusan makan, pendidikan, kesehatan sampai pada keperluan tempat tinggalnya. Artinya benar adanya jika "banyak anak banyak pendapatan yang harus dicari". kalaupun pendapatan yang dicari jumlahnya cukup bahkan lebih jika kondisi keluarganya sedikit atau katakanlah hanya 2 anak, tentu saja akan lebih mendorong semakin meningkatnya taraf kesejahteraan keluarganya. Kita tahu bahwa pertambahan jumlah penduduk tidak berbanding lurus dengan ketersediaan daya dukung alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Itu artinya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan daya dukung sumber daya yang ada. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan maka bukan tidak mungkin akan membawa dampak pada semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berasal dari Total Fertility Rate (TFR), sementara disisi lain kualitasnya semakin merosot.
4. Sejarah sebagai ilmu, membahas peristiwa masa lalu secara objektif. Dalam mempelajari sejarah, kita sering menemukan pemikiran yang berbeda dalam membahas acara yang sama. Contoh: runtuhnya Sejarah Majapahit pada tahun 1478, oleh Prof. Slamet Moelyono, karena penyerangan kerajaan Demak Bintoro. Sedangkan pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah penyelaman ini, bahwa runtuhnya Majapahit, karena serangan Girindrawardana. Analisis kasus ini, perspektif IPS.
1) Analisis peristiwa sejarah
Penulisan sejarah tentang kerajaan Majapahit selama ini banyak mengandung subyektifitas. Disatu sisi runtuhnya Sejarah Majapahit pada tahun 1478, karena penyerangan kerajaan Demak Bintoro yaitu dimana Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir. Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak. Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali. Sedangkan, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah penyelaman ini, bahwa runtuhnya Majapahit, karena serangan Girindrawardana yaitu dalam "Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling. Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.
2) Subyektifitas Ilmuwan Sejarah
Dalam beberapa tulisan sejarah, banyak sejarawan yang juga menulis bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit dikarenakan serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, dalam tulisannya. Penulis sejarahpun telah menjadi subyek yang subyektif. Padahal sejarah sebagai ilmu dituntut mempunyai kadar ilmiah, maka ilmu sejarahpun juga harus melalui prosedur metodologi yang ilmiah pula. Yaitu melalui proses induksi, deduksi, hipotesis, dan verifikasi. Sebagai ilmu maka filsafat menjiwai filsafat sejarah. Dimana apa yang benar dan baik menurut filsafat maka baik dan benar menurut ilmu sejarah. Nilai ontologis yang ingin dicapai oleh sejarawan adalah nilai kebenaran atas apa yang menjadi fakta sejarah, nilai kebenaran itu harus diaktualisasikan oleh sejarawan dalam menulis cerita sejarah. Sehingga diharapkan sejarawan tidak berperilaku menyimpang dari kebenaran dalam menulis sejarah tentang runtuhnya kerajaan Majapahit dalam contoh tersebut. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut :
a. Pada tataran ontologis
Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Pada tataran ontologis ini bahwa penulisan sejarah harusnya benar ya benar, baik ya baik. Sehingga dalam tatanan ini bersifat non emosional, netral, bebas nilai. Sejarawan ingin mencapai nilai kebenaran dalam tulisannya. Sejarah runtuhnya kerajaan Majapahit harus ditulis dengan benar tanpa prasangka. serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi. Maka hal ini secara ontologis benar dan baik .
b. Pada tataran epistemologis
1. Pada tataran ini bisa terjadi dua hal sebagai berikut :
Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Bisa dijelaskan bahwa X 1 masih sama dengan X 2. Artinya apa yang benar ya benar dan apa yang baik ya baik. Dalam tataran epistemologis masih tetap sama yaitu bahwa sejarawan untuk mencapai kebenaran runtuhnya Majapahit dikarenakan serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi ditulis apa adanya , seobyektif mungkin tanpa membelokkan kebenaran bahwa runtuhnya kerajaan majapahit karena serangan Demak. Berdasarkan prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton" Sehingga yang disampaikan tetap menjadi benar dan baik dalam tulisannya tanpa direduksi sedikitpun. Tanpa ada kepentingan yang bermain di dalamnya.
2. Keterangan : X 1 = kebenaran
X 2 = kebaikan
X 3 = wilayah yang dicakup ( ilmu sejarah )
Dari gambar di atas bisa dijelaskan bahwa X1 ≠ X2. Di sini penulisan sejarah oleh sejarawan bisa benar tapi tidak baik, atau sebaliknya baik tapi tidak benar. Untuk contoh peristiwa tersebut sejarawan dalam tataran epistemologisnya telah menjadi subyek yang subyektif yang bisa membelokkan kebenaran. Menulis bahwa runtuhnya Majapahit oleh Demak dikarenakan demak menyebarkan agama Islam. Hal ini terkait dengan pemahaman para sejarawan terhadap makna kebenaran ataupun kebaikan. Juga dikarenakan ada faktor kepentingan / aksiden yang bisa membelokkan kebenaran sebagai contoh adanya relasi, status sejarawan sendiri sebagai umat Islam , faktor mayoritas / kuantitas, sehingga faktor – faktor kepentingan inilah yang telah mereduksi kebenaran. Faktor kepentingan dari sejarawan telah membiaskan kebenaran yang substansial. Sejarawan barangkali telah terbelenggu nilai – nilai praksis yang bisa mereduksi kebenaran.
c. Pada tataran aksiologis
Pada tataran ini nilai guna ilmu sejarah itu menjadi berarti. Terkadang epistemologi yang negatif bisa menghsilkan aksiologis yang positif maupun negatif. Mengingat filsafat merumuskan kebenaran didasarkan pada hasil perenungan mendalam manusia secara logis maka kebenaranya bersifat utopia (idealitas), sehingga belum tentu dapat di temui dalam kehidupan nyata. Agar dapat di ketahui sejauh manakah realita itu mendekatkan realitas. Maka upaya penerapan idealitas harus selalu mempertimbangkan realita yang ada. Kita harus mengetahui kebaikan-kebaikan dan juga kelemahan-kelemahan dari realita yang sedang kita hadapi. Lalu kita merumuskan langkah-langkah yang di perlukan bagi upaya perbaikan tersebut dengan mengingat pada sumber daya yang di miliki dan tantangan-tantangan yang di hadapi. Tantangan-tantangan itu harus di perhitungkan secara masak-masak agar usaha menegakkan kebenaran itu tidak menimbulkan gejolak yang tidak terkendali dengan dampak pecahnya kekerasan yang bertolak belakang dengan misi kebenaran: damai, sejahtera, adil, dan bebas.