cinta INDONESIA http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif

Berbincang-bincang tentang kehidupan dari manusia hingga tuhan

Tuesday, September 23, 2014

”BUDAYA MENCONTEK DIKALANGAN PELAJAR”



MAKALAH PROBLEMATIKA YANG MENYEBAKAN KESENJANGAN TEORI DENGAN PRAKTIK
”BUDAYA MENCONTEK DIKALANGAN PELAJAR”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian Sosial
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Wasino, M.Hum

lambang unnes 3.jpeg

Di susun Oleh:
Achmad Zurohman
0301514014

PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Satu perilaku baruk yang kerap terlihat dikalangan sebagian pelajar atau mahasiswa kita terutama pada setiap musim ujian atau ulangan adalah kebiasaan menyontek. Kebiasaan buruk yang sudah menjadi rahasia umum ini seakan menjadi “budaya” dan sesuatu yang sah dilakukan, ketika dunia pendidikan kita menerapkan sistem Ujian Nasional (UN) bagi standar atau ukuran kelulusan.
Biasanya remaja bahkan sekarangpun anak-anak SD (Sekolah Dasar) ikut menyontek sehingga membuat anak-anak tidak mengetahui apa yang dipelajari dan tidak akan fokus pada pelajaran. Ketika ujian contek-mencontek tidak penah ditinggalkan. Peserta ujian dalam hal ini siswa maupun mahasiswa berusaha untuk menyelesaikaan soal atau permasalahan yang telah disiapkan oleh penguji (guru maupun dosen) agar memperoleh hasil belajar sesuai dengan apa yang telah diterimanya selama melaksanakan proses pembelajaran. Bahkan mencontek sering kali diartikan sebagai bentuk solidaritas. Tapi solidaritas ini sering disalahartikan. Jika solidaritas diartikan sebagai solidaritas yang positif maka akan berdampak positif juga karena semakin eratnya rasa persatuan dan baik untuk perkembangan kehidupan sosial mereka dimasa yang akan datang. Tapi jika solidaritas disalahartikan dengan memberikan contekan kepada teman tentu saja ini menyimpang dari arti solidaritas yang sebenarnya. Biasanya mereka beranggapan jika tidak memberikan contekan maka akan dianggap pelit dan mengakibatkan tidak mempunyai teman. Hal ini yang menbuat mereka serba salah sehingga mereka tetap mencontek meskipun tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang salah.
Menyontek merupakan salah satu fenomena pendidikan yang sering dan bahkan selalu muncul menyertai aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari, tetapi jarang mendapat pembahasan dalam wacana pendidikan di Indonesia. Kurangnya pembahasan dalam hal mengenai menyontek mungkin disebabkan karena kebanyakan pakar menganggap persoalan ini sebagai sesuatu yang sifatnya sepele, padahal masalah menyontek sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat mendasar.
Dalam konteks kehidupan bangsa saat ini, tidak jarang kita mendengar asumsi dari masyarakat yang menyatakan bahwa koruptor-koruptor besar, mungkin adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di bangku sekolah. Mereka yang terbiasa menyontek di sekolah, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti.
B.     Rumusan Masalah
      Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa Sebab sebab orang menyontek?
2.      Apa dampak yang di dapat dari mencontek?
3.      Bagaimana cara menanggulangi kebiasaan mencontek?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan informasi tentang pengertian menyontek dan faktor penyebab menyontek, untuk mengetahui tinjauan psikologi tentang menyontek, dan memberikan masukan tentang cara-cara mengatasi perbuatan menyontek di sekolah sehingga dapat memahami makna dari proses pembelajaran atau pendidikan. Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan juga dapat mengetahui akibat dari perbuatan menyontek sehingga mempunyai kesadaran untuk tidak melakukan hal tersebut dan dapat menghindarinya bahkan dapat meninggalkan kebiasaan tersebut.















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Menyontek
Menyontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah khususnya bila ada ulangan dan ujian.
Ada berbagai macam pegertian tentang mencontek, yaitu:
1.      Menurut Purwadarminta menyontek adalah sebagai suatu kegiatan mencontoh/meniru/mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya.
2.      Cheating (menyontek) menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan.
3.      Bower (1964) yang mendefinisikan “cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure)”. Maksudnya, menyontek adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
4.      Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods”. Maksudnya, menyontek adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara yang dilakukan seseorang untuk mencapai nilai yang terbaik dalam menyelesaikan tugas terutama pada ulangan atau ujian.
Pada dasarnya mencontek dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu mencontek dengan usaha sendiri dengan membuka buku catatan atau membuat berbagai catatan kecil yang ditulis pada kertas kecil, tangan atau di tempat lain yang dianggap aman dan tidak diketahui oleh guru atau pengawas. Dan yang kedua yaitu dengan meminta bantuan teman. Misalnya dengan meniru jawaban dari teman atau dengan berkompromi menggunakan berbagai macam kode tertentu, menerima jawaban dari pihak luar dan mencari bocoran soal.
Dalam perkembangannya menyontek dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus yang sering terjadi dalam UMPTN/SMPTN, memberi lilin atau pelumas pada lembar jawaban komputer atau menebarkan atom magnet dengan maksud agar mesin scanner komputer dapat terkecoh ketika membaca lembar jawaban sehingga gagal mendeteksi jawaban yang salah atau menganggap semua jawaban benar. Dan banyak cara-cara yang sifatnya spekulatif maupun rasional.
Ternyata praktik menyontek banyak macamnya, dimulai dari bentuk yang sederhana sampai dalam bentuk yang canggih. Teknik menyontek tampaknya mengikuti pula perkembangan teknologi, artinya semakin canggih teknologi yang dilibatkan dalam pendidikan semakin canggih pula bentuk menyontek yang bakal menyertainya. Bervariasi dan beragamnya bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai menyontek maka sekilas dapat diduga bahwa hampir semua pelajar pernah melakukan menyontek meskipun mungkin wujudnya sangat sederhana dan sudah dalam kategori yang dapat ditolerir.
Meskipun dapat dikatakan cara sederhana ataupun dengan cara yang canggih, dari sesuatu yang sangat tercela sampai yang mungkin dapat ditolerir, menyontek tetap dianggap oleh masyarakat umum sebagai perbuatan ketidakjujuran, perbuatan curang yang bertentangan dengan moral dan etika serta tercela untuk dilakukan oleh seseorang yang terpelajar.
B.     Faktor-Faktor Penyebab Menyontek
Menurut Nugroho (2008), yang menjadi penyebab munculnya tindakan menyontek bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam internal yakni diri sendiri, maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.
1.         Faktor dari dalam diri sendiri
a.    Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.
b.   Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.
c.    Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
d.   Merupakan bentuk pelarian atau protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru atau dosen.
e.    Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.
f.    Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk tes atau ujian.
g.   Tidak ingin dianggap sok suci dan lemahnya tingkat keimanan.
2.          Faktor dari Guru
a.    Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.
b.   Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.
c.    Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
d.   Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.
e.    Kurangnya sistem pengawasan dari guru.
3.         Faktor dari Orang Tua
a.    Adanya hukuman yang berat jika anaknya tidak berprestasi.
b.   Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak.
4.           Faktor dari Sistem Pendidikan
a.    Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah. Misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.
b.   Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan pelajar melakukan mencontek ketika ujian adalah sebagai berikut:
a.       Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada hasil studi berupa angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam tes formatif atau sumatif.
b.      Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan siswa.
c.       Sikap malas yang terukir dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.
d.      Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman-teman sekelasnya.
e.       Kurang mengerti arti dari pendidikan.
f.       Karena terpengaruh setelah melihat orang lain melakukan menyontek meskipun pada awalnya tidak ada niat melakukannya.
g.      Karena jawaban dari pertanyaan tersebut sama dengan yang ada pada buku sehingga bisa langsung disalin dari buku.
h.      Merasa dosen atau guru kurang adil dalam memberikan nilai.
i.        Adanya kesempatan atau pengawasan tidak ketat.
j.        Takut gagal karena yang bersankutan merasa belum siap menghadapi ujian dan dia tidak ingin mengulang.
k.      Ingin mendapat nilai tinggi
l.        Tidak percaya diri sehingga tidak yakin pada jawabanya sendiri.
m.    Terlalu cemas menghadapi ujian sehingga apa yang dipelajari sudah hilang sehingga terpaksa membuka catatan atau bertanya kepada teman yang duduk berdekatan.
n.      Merasa sudah sulit menghafal atau mengingat karena faktor usia, sementara soal yang dibuat penguji sangat menekankan kepada kemampuan mengingat.
o.      Mencari jalan pintas dengan pertimbangan daripada mempelajari sesuatu yang belum tentu keluar lebih baik mencari bocoran soal.
p.      Menganggap sistem penilaian tidak objektif, sehingga pendekatan pribadi kepada dosen atau guru lebih efektif daripada belajar serius.
q.      Penugasan guru atau dosen yang tidak rasional yang mengakibatkan siswa atau mahasiswa terdesak sehingga terpaksa menempuh segala macam cara.
r.        Yakin bahwa dosen atau guru tidak akan memeriksa tugas yang diberikan berdasarkan pengalaman sebelumnya sehingga bermaksud membalas dengan mengelabui dosen atau guru yang bersangkutan.
C.    Dampak Negatif dari Mencontek
Dampak negatif dari mencontek tidaklah sedikit, antara lain :
1.      Hilangnya rasa percaya diri. Siswa yang mempunyai kebiasaan mencontek akan selalu merasa tidak percaya dengan apa yang dia kerjakan. Dalam mengerjakan soal siswa tersebut merasa tidak yakin, sehingga timbul keinginan untuk melihat pekerjaan temannya. Jika rasa percaya diri sudah hilang kreativitas pun akan ikut terbunuh. Pencontek cenderung melakukan plagiarisme.
2.      Malas belajar. Siswa yang mempunyai kebiasaan mencontek akan selalu mengandalkan contekan. Mereka akan semakin malas belajar. Dalam pemikiran mereka, tanpa belajar pun bisa mendapat nilai bagus, jadi mengapa harus belajar? Dengan begitu mereka hanya akan mendapat nilai bagus tanpa menguasai ilmu.
3.      Bibit menjadi koruptor. Prinsip mencontek mirip dengan prinsip korupsi. Mencontek itu mengambil jawaban teman untuk mendapatkan nilai bagus. Sedangkan korupsi mengambil uang rakyat untuk mendapatkan kekayaan. Semakin sering mencontek, semakin besar peluang untuk korupsi. Angka korupsi di Indonesia ini sudah sangat tinggi. Apa kita mau mempermalukan negara kita tercinta ini dengan memperbanyak jumlah koruptor? Tentu tidak.
Jadi, sebaiknya mulai sekarang kita menghilangkan budaya mencontek dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh, mendekatkan diri kepada Alloh SWT, meningkatkan rasa percaya diri, melawan rasa malas, dan meningkatkan kedisiplinan. Semoga budaya mencontek berangsur-angsur hilang dari kehidupan pelajar, khususnya di Indonesia.
D.    Cara Menanggulangi Kebiasaan Mencontek
Ada beberapa macam untuk mengatasi kebiasaan menyontek yaitu:
1.      Faktor pribadi
a)      Membangkitkan rasa percaya diri.
b)      Mengarahkan self concept ke arah yang lebih proposional.
c)      Membiasakan mereka berpikir lebih realistis dan tidak ambisius.
d)     Menumbuhkan kesadaran hati nurani yang mampu mengontrol naluri beserta desakan logis rasionalistis jangka pendek yang bermuara kepada perilakunya.
e)      Menanamkan kebenaran firman Tuhan bahwa menyontek itu adalah perbuatan dosa.
f)       Belajar menerima kekurangan hidup sebagai bagian proses perkembangan yang harus dilewati.
g)      Membuat system belajar yang menarik bagi dirinya.
2.      Faktor lingkungan dan kelompok
Menciptakan kesadaran disiplin dan etik kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.
3.      Faktor system evaluasi
a)      Membuat instrument evaluasi yang tetap dan tepat.
b)      Menerapkan cara pemberian skor penilaian yang objektif.
c)      Melakukan pengawasan yang ketat tanpa pilih kasih.
d)     Bentuk soal dilakukan sesuai perkembangan kematangan siswa.
4.      Faktor guru
a)      Berlaku objektif dan terbuka dalam pemberian nilai.
b)      Bersikap rasional dan tidak melakukan kecurangan dalam memberikan tugas tes atau ujian.
c)      Menunujukkan keteladanan dalam perilaku moral.
d)     Memberikan umpan balik atas setiap penugasan.
e)      Menyusun metode belajar-mengajar yang tidak monoton dan dikemas dengan cara penyampaian yang menarik.
f)       Guru perlu memahami tujuan atau target pemahaman dari suatu materi pelajaran dan diimplementasikan pada saat mengajar, sehingga siswa dapat mencerna dari setiap materi yang disampaikan.
g)      Menumbuhkan sifat positif dari siswa Untuk mengurangi ketegangan murid sebelum ujian atau tes maka sebaiknya para guru telah menjelaskan sedini mugkin fungsi ujian atau tes kepada murid-murid dan sistem penilaian yang akan diterapkan. Informasikan kepada para murid bahwa ulangan/test akan membantu memfokuskan proses belajar murid. Ujian atau tes merupakan kesempatan untuk mengekspresikan pengetahuan yang telah dipelajari dan ujian atau tes akan membantu guru mengetahui topik yang belum dikuasai murid.
h)      Membuat kalender jadwal ulangan.
i)        Menanyakan kepada siswa topik mana yang dianggap paling susah untuk dikuasai dan juga rencana belajar mereka untuk memecahkan masalah tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam batas-batas tertentu menyontek dapat dipahami sebagai sesuatu fenomena yang manusiawi, artinya perbuatan menyontek bisa terjadi pada setiap orang. Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya menyontek sangat ditentukan oleh faktor kondisional yaitu suatu situasi yang membuka peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku menyontek. Seseorang yang memiliki nalar moral, yang tahu bahwa menyontek adalah perbuatan tercela, sangat mungkin akan melakukannya apabila ia dihadapkan kepada kondisi yang memaksa.
Menyontek adalah tindakan negatif yang mempengaruhi kinerja otak yang membuat siswa menganggap enteng pelajaran tersebut. Menyontek merupakan salah satu wujud perilaku dan ekspresi mental seseorang. Ia bukan merupakan sifat bawaan individu, tetapi sesuatu yang lebih merupakan hasil belajar atau pengaruh yang didapatkan seseorang dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, menyontek lebih muatan aspek moral daripada muatan aspek psikologis.
Mencontek bukanlah salah satu bentuk solidaritas, tapi justru mencontek itu adalah bentuk dari kecurangan. Mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara yang dilakukan seseorang untuk mencapai nilai yang terbaik dalam menyelesaikan tugas terutama pada ulangan atau ujian.
Banyak hal yang menyebakan seseorang untuk berani mencontek, baik itu dorongan dari diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian menyontek bisa membawa dampak negatif, baik kepada individu maupun bagi masyarakat. Dampak negatif bagi individu akan terjadi apabila praktik menyontek dilakukan secara terus-menerus sehingga menjurus menjadi bagian kepribadian seseorang. Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat terlalu permisif terhadap praktik menyontek sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial. Perbuatan mencontek memberikan dampak yang buruk bagi siswa, karena dengan mencontek siswa cenderung tidak percaya diri dan hanya mengandalkan orang lain. Selain itu kebiasaan mencontek juga menjadikan seorang siswa itu menjadi pribadi yang tidak jujur.
Mencegah menyontek tidaklah cukup dengan sekedar mengintervensi aspek kognitif seseorang, akan tetapi yang paling penting adalah penciptaan kondisi positif pada setiap faktor yang menjadi sumber terjadinya menyontek, yaitu pada faktor siswa atau mahasiwa, pada lingkungan, pada sistem evaluasi dan pada diri guru atau dosen.









DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Anisah. 2012. Kebiasaan Menyontek.  http://aceh.tribunnews.com.
Alhadza, Abdullah. 2004. Makalah menyontek (Cheating) di Dunia Pendidikan. http;//www.depdiknas.go.id/Jurnal.
Poedjinoegroho, Baskoro. 2006. Biasa Mencontek Melahirkan Koruptor. http://ilman05.blogspot.com.
Rakasiwi, Agus. 2007. Nyontek, Masuk Katagori “Kriminogen”. http://www.pikiran-rakyat.com.
Sujinalarifin. 2009. Menyontek, Penyebab dan Penanggulangannya. http://sujinalarifin.wordpress.com/2009.
Suparno, Paul, DR, SJ. 2000. Sekolah Memasung Kebebasan Berfikir Siswa, https://www.kompas.com/kompas.
Vegawati, Dian., Oki, Dwita.,P.S., Noviani, Dewi, Rina. 2004. Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa. http://www.pikiran-rakyat.com.
Widiawan, Kriswanto. 1995. Menyontek Jadi Budaya Baru. http://www1.bpkpenabur.or.id/kwiyata.
http://biniartautama.blogspot.com/2013/02/budaya-mencontek-di-kalangan-pelajar.html