SEJARAH
DUKUH
UJUNG BIRU DESA BRAYO KECAMATAN WONOTUNGGAL BATANG
A. Sejarah
Kecamatan Wonotunggal
Dukuh Ujung Biru
merupakan salah satu Dukuh di kecamatan Wonotunggal yang terdapat di Kabupaten
Batang, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi salah satu kecamatan yang menyokong
setiap perkembangan Kabupaten Batang disetiap aspek kehidupan. Dukuh Ujung Biru
menjadi salah satu Dukuh di kecamatan yang mendukung Kabupten Batang dalam
bidang pertanian. Namun dibalik peran Dukuh Ujung Biru di Kecamatan Wonotunggal
sebagai salah satu Penyokong Kabupaten Batang dalam bidang pertanian, terdapat
kisah atau cerita mengesankan yang dilalui oleh tokoh-tokoh penting,
diantaranya:
1. Kyai
Nampobaya (Singasari)
2. Kyai
Singoaranu Nolojoyo
3. Kyai
Randa Kasihan (Nyai Pandan Sari)
4. Kyai
Embo (Koro Jonggol), Jamadi
5. Sarinten
Sedangkan orang-orang
yang selalu setia mengikuti dan menjadi pembantu beliau diantaranya:
1. Kyai
Sentana
2. Kyai
Suto
3. Kyai
Jegut
4. Suto
Bambang
5. Kyai
Belabelu
6. Kyai
Bromo Sari (anak angkat Kyai Singosari)
Diceritakan
bahwa orang-orang tersebut berasal dari Pesantenan (sekarang kota Pati). Pada
waktu itu terjadi sebuah peperangan antara Pragolo Adipati Pesantenan dengan
Mataram. Adapun kelima pelaku sejarah tersebut diatas adalah putra-putri dari
Adipati Pragolo. Mereka menghindari peperangan dan pergi ke arah barat dengan
diikuti oleh lima orang pengikut setianya.
Perjalanan
yang sangat jauh itu akhirnya sampai di daerah Batang, tepatnya sekarang di
desa Karangdawa yang kemudian pindah ke daerah Warungasem tepatnya sekarang
desa Masin. Dari Masin pindah lagi ke arah tenggara melewati daerah Gunung
Tugel dan tinggal di desa Brokoh. Ketika di Brokoh ada pengejaran tiba-tiba
dari prajurit Mataram dan rombongan yang berusaha menghindari terjadinya
peperangan akhirnya meninggalkan desa Brokoh menuju ke arah tenggara, namun
sebagian prajurit Mataram mengejar rombongan Kyai Nompoboyo dan sebagian masih
di Brokoh untuk menghadapi perlawanan dengan Bromosari, namun Bromosari kalah
dan akhirnya meninggal dunia.
Sebagian
romobongan Nompoboyo terhindar dari pengejaran, karena perjalanan mereka
membelok ke kanan, kecuali Kyai Sarinten yang langsung mendapat pengejaran dari
prajurit Mataram. Tetapi Kyai Sarinten dapat terhindar karena berusaha membelok
kiri dan berlindung di sebuah mata air yang sangat rimbun tetapi apadaya nasib
tidak dapat dihindari, kyai Sarinten masih dapat diketahui oleh prajurit musuh
dan dilempari dengan batu yang kemudian pada sumber air itu diberi nama Belak
Sigrudug. Kyai Sarinten sangat marah, dan sementara prajurit ada yang
menghindari dari serangan balik Kyai Sarinten, yang dengan serangan ajaib yaitu
dengan melepaskan burung-burung perkutut yang sudah diberi mantra bisa
gatal. Kyai Sarinten menyerang terus kemudian musuh lari tunggang langgang
terkena gatal-gatal.
Kyai
Sarinten dengan dibantu Kyai Suto Jaya bekerja menggarap sawah dengan dialiri
dari saluran, sedangkan setiap hari Kyai Singoranu sering meninjau (clungup),
akhirnya saluran tersebut diberinama saluran Clungup dan petak sawah itu diberi
nama Blok Karang. Semakin bertambahnya area persawahan Kyai Embo dan masih
membangun persawahan untuk yang kedua kali. Sebelum memulai pekerjaannya Kyai
Embo bertapa beberapa hari, selama bertapa setiap hari mendapat pengawasan dari
Kyai Singoranu, dan diketahui siang maupun malam tidak pernah berbaring, maka
oleh Kyai Singoranu memberi julukan Kyai Korojonggol. Selesai bertapa kemudian
mulailah mengerjakan saluran dari sebelah bawah. Dan setelah hampir selesai
terjadilah sengketa dengan orang-orang dari utara (sekarang desa Kreyo), karena
berebut tempat untuk mengambil air dari kali Lojahan dalam satu tempat. Kyai
Singoranu datang dan dapat mendamaikan serta dapat terjalin kerjasama dalam
membuat saluran yang ke tiga untuk kepentingan bersama. Karena persengketaan
diatas terjadi di daerah kerja Kyai Sarinten, yang akhir nya dapat bersatu
manunggal menjalin kerja sama, maka oleh Kyai Singoranu diberi nama “Desa
Wonotunggal”. Selain itu terjalin pula kerjasama dengan wilayah Kyai Embo sehingga
saluran itu di beri nama saluran Brayo, kata Brayan (Bareng-bareng).
B.
Sejarah
dukuh Ujung Biru
Ujung Biru merupakan salah satu
Dukuh yang berada di Kecamatan Wonotunggal dengan mayoritas masyarakat bekerja
sebagai petani dan pengrajin batu bata. Hal tersebut menjadikan Ujung Biru sebagai salah satu Dukuh yang mendukung bidang
pangan dan material di Kecamatan Wonotunggal. Ujung Biru semakin berkembang
seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, dibalik nama Ujung Biru terdapat
torehan sejarah yang menjadikan Ujung Biru kokoh dan berkembang, namun masih
mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang telah ada seperti budaya Nyadran
(sedekah bumi) hingga saat ini.
Berdasarkan cerita
sesepuh Dukuh Ujung Biru mengenai perihal pemberian nama Ujung Biru adalah seorang tokoh sakti dan lima mata air
yang mengalir deras. Konon pada saat itu akan terjadi banjir bandang yang
disebabkan adanya 5 titik sumber air yang sangat besar yaitu Ujung Biru,
Sitotok, Siwatu, Kijingan, dan Rawa Cacing. Apabila sumber air atau mata air
tersebut tidak ditutup maka air tersebut akan menutupi daratan sehingga wilayah
tersebut menjadi lautan.
Dalam keadaan genting tersebut, datanglah seseorang yang
sangat sakti ke wilayah tersebut dan melakukan pertapaan disumber air yang
pertama yaitu ujung biru yang sekarang berada di wilayah Dukuh Ujung Biru. Setelah
melakukan pertapaan diatas batu yang sangat besar (di Ujung Biru) kemudian
orang sakti tersebut mengangkat batu tersebut dan dibawalah batu-batu tersebut
ketempat 5 sumber air tersebut guna menutupinya. Namun sangat disayangkan bahwa belum terdapat referensi yang jelas
mengenai orang sakti yang menutupi sumber mata air dengan batu tersebut.
Hal tesebut merupakan torehan sejarah yang menjadi
kepercayaan masyarakat setempat hingga saat ini. Sedangkan nama Ujung Biru
diambil oleh masyarakat dari kata “ujung” dan “biru”. Ujung diartikan
masyarakat sebagai tempat yang tinggi dan biru merupakan simbol warna air laut
yang akan menggenangi wilayah tersebut.
C. Mbah
martoed bin marko
Mbah marto’ed bin marko merupakan salah satu ulama yang
berdakwah di dukuh ujung biru, dia mempunyai istri bernama siti taijah dan
memiliki 4 anak yaitu siti ayah, umi saroh, nurriyah dan utiyanah.
Karena krisis agama maka dari itu para sesepuh atau tokoh
masyarakat diantaranya :
Mbah carum, mbah
samsudin, mbah tambel mbah darsan dll.
Bermusyawarah untuk
mendatangkan seorang ulama yang bernama mbah marto’ed.
Kejadian ini
berlangsung sebelum Indonesia merdeka atau masih dalam terjajah oleh belanda sekitar
tahun 1920an. Mbah marto’ed berasal dari dukuh sejiret desa kauman kecamatan
batang kabupaten batang. Pada tahun 1940an kemudian dia beradakwah di ujung
biru dan semua kehidupanya dicuupi oleh masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat.
Dan santrinyapun cukup banyak dari berbagai desa diantaranya dari desa
kijingan, siwatu,sitotok dan kreyo.
Beliau wafat pada
tahun 1960 Di mushola atau langgar (dalam bahasa jawa) setelah sholat dhuha
dalam keadaan sujud. Setelah meninggalnya beliau imam atau penyebaran dakwah
agama islam dilanjutkan oleh menantunya yang bernama mbah rajad dari kijingan
yang merupakan suami ibu siti ayah.
Sumber : H.
Warmad (79 Tahun)
Bpk. Sanusi (70 Tahun)
Mantap..sebagai generasi penerus kita harus menjaga dan melestarikan dukuh ujungbiru, jgn pnh melupakan sejarah...
ReplyDeletengeh mas, sementara ini masih dalam penelitian dimana banyu biru itu terkait dengan banyu warna peninggalan pangeran bahurekso pekalongan dengan raden mas sulamjana zaman hindhuyana,,,heheh
ReplyDelete