cinta INDONESIA: October 2014 http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/tail2.gif

Berbincang-bincang tentang kehidupan dari manusia hingga tuhan

Tuesday, October 28, 2014

SEJARAH TOKOH LOKAL

SEJARAH
DUKUH UJUNG BIRU DESA BRAYO KECAMATAN WONOTUNGGAL BATANG
A.  Sejarah Kecamatan Wonotunggal
Dukuh Ujung Biru merupakan salah satu Dukuh di kecamatan Wonotunggal yang terdapat di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi salah satu kecamatan yang menyokong setiap perkembangan Kabupaten Batang disetiap aspek kehidupan. Dukuh Ujung Biru menjadi salah satu Dukuh di kecamatan yang mendukung Kabupten Batang dalam bidang pertanian. Namun dibalik peran Dukuh Ujung Biru di Kecamatan Wonotunggal sebagai salah satu Penyokong Kabupaten Batang dalam bidang pertanian, terdapat kisah atau cerita mengesankan yang dilalui oleh tokoh-tokoh penting, diantaranya:
1.    Kyai Nampobaya (Singasari)
2.    Kyai Singoaranu Nolojoyo
3.    Kyai Randa Kasihan (Nyai Pandan Sari)
4.    Kyai Embo (Koro Jonggol), Jamadi
5.    Sarinten
Sedangkan orang-orang yang selalu setia mengikuti dan menjadi pembantu beliau diantaranya:
1.    Kyai Sentana
2.    Kyai Suto
3.    Kyai Jegut
4.    Suto Bambang
5.    Kyai Belabelu
6.    Kyai Bromo Sari (anak angkat Kyai Singosari)
Diceritakan bahwa orang-orang tersebut berasal dari Pesantenan (sekarang kota Pati). Pada waktu itu terjadi sebuah peperangan antara Pragolo Adipati Pesantenan dengan Mataram. Adapun kelima pelaku sejarah tersebut diatas adalah putra-putri dari Adipati Pragolo. Mereka menghindari peperangan dan pergi ke arah barat dengan diikuti oleh lima orang pengikut setianya.
Perjalanan yang sangat jauh itu akhirnya sampai di daerah Batang, tepatnya sekarang di desa Karangdawa yang kemudian pindah ke daerah Warungasem tepatnya sekarang desa Masin. Dari Masin pindah lagi ke arah tenggara melewati daerah Gunung Tugel dan tinggal di desa Brokoh. Ketika di Brokoh ada pengejaran tiba-tiba dari prajurit Mataram dan rombongan yang berusaha menghindari terjadinya peperangan akhirnya meninggalkan desa Brokoh menuju ke arah tenggara, namun sebagian prajurit Mataram mengejar rombongan Kyai Nompoboyo dan sebagian masih di Brokoh untuk menghadapi perlawanan dengan Bromosari, namun Bromosari kalah dan akhirnya meninggal dunia.
Sebagian romobongan Nompoboyo terhindar dari pengejaran, karena perjalanan mereka membelok ke kanan, kecuali Kyai Sarinten yang langsung mendapat pengejaran dari prajurit Mataram. Tetapi Kyai Sarinten dapat terhindar karena berusaha membelok kiri dan berlindung di sebuah mata air yang sangat rimbun tetapi apadaya nasib tidak dapat dihindari, kyai Sarinten masih dapat diketahui oleh prajurit musuh dan dilempari dengan batu yang kemudian pada sumber air itu diberi nama Belak Sigrudug. Kyai Sarinten sangat marah, dan sementara prajurit ada yang menghindari dari serangan balik Kyai Sarinten, yang dengan serangan ajaib yaitu dengan melepaskan burung-burung perkutut yang sudah diberi mantra bisa gatal. Kyai Sarinten menyerang terus kemudian musuh lari tunggang langgang terkena gatal-gatal.
Kyai Sarinten dengan dibantu Kyai Suto Jaya bekerja menggarap sawah dengan dialiri dari saluran, sedangkan setiap hari Kyai Singoranu sering meninjau (clungup), akhirnya saluran tersebut diberinama saluran Clungup dan petak sawah itu diberi nama Blok Karang. Semakin bertambahnya area persawahan Kyai Embo dan masih membangun persawahan untuk yang kedua kali. Sebelum memulai pekerjaannya Kyai Embo bertapa beberapa hari, selama bertapa setiap hari mendapat pengawasan dari Kyai Singoranu, dan diketahui siang maupun malam tidak pernah berbaring, maka oleh Kyai Singoranu memberi julukan Kyai Korojonggol. Selesai bertapa kemudian mulailah mengerjakan saluran dari sebelah bawah. Dan setelah hampir selesai terjadilah sengketa dengan orang-orang dari utara (sekarang desa Kreyo), karena berebut tempat untuk mengambil air dari kali Lojahan dalam satu tempat. Kyai Singoranu datang dan dapat mendamaikan serta dapat terjalin kerjasama dalam membuat saluran yang ke tiga untuk kepentingan bersama. Karena persengketaan diatas terjadi di daerah kerja Kyai Sarinten, yang akhir nya dapat bersatu manunggal menjalin kerja sama, maka oleh Kyai Singoranu diberi nama “Desa Wonotunggal”. Selain itu terjalin pula kerjasama dengan wilayah Kyai Embo sehingga saluran itu di beri nama saluran Brayo, kata Brayan (Bareng-bareng).
B.  Sejarah dukuh Ujung Biru
Ujung Biru merupakan salah satu Dukuh yang berada di Kecamatan Wonotunggal dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan pengrajin batu bata. Hal tersebut menjadikan Ujung Biru sebagai salah satu Dukuh yang mendukung bidang pangan dan material di Kecamatan Wonotunggal. Ujung Biru semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, dibalik nama Ujung Biru terdapat torehan sejarah yang menjadikan Ujung Biru kokoh dan berkembang, namun masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang telah ada seperti budaya Nyadran (sedekah bumi) hingga saat ini.
Berdasarkan cerita sesepuh Dukuh Ujung Biru mengenai perihal pemberian nama Ujung Biru adalah seorang tokoh sakti dan lima mata air yang mengalir deras. Konon pada saat itu akan terjadi banjir bandang yang disebabkan adanya 5 titik sumber air yang sangat besar yaitu Ujung Biru, Sitotok, Siwatu, Kijingan, dan Rawa Cacing. Apabila sumber air atau mata air tersebut tidak ditutup maka air tersebut akan menutupi daratan sehingga wilayah tersebut menjadi lautan.
Dalam keadaan genting tersebut, datanglah seseorang yang sangat sakti ke wilayah tersebut dan melakukan pertapaan disumber air yang pertama yaitu ujung biru yang sekarang berada di wilayah Dukuh Ujung Biru. Setelah melakukan pertapaan diatas batu yang sangat besar (di Ujung Biru) kemudian orang sakti tersebut mengangkat batu tersebut dan dibawalah batu-batu tersebut ketempat 5 sumber air tersebut guna menutupinya. Namun sangat disayangkan bahwa belum terdapat referensi yang jelas mengenai orang sakti yang menutupi sumber mata air dengan batu tersebut.
Hal tesebut merupakan torehan sejarah yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat hingga saat ini. Sedangkan nama Ujung Biru diambil oleh masyarakat dari kata “ujung” dan “biru”. Ujung diartikan masyarakat sebagai tempat yang tinggi dan biru merupakan simbol warna air laut yang akan menggenangi wilayah tersebut.
C.  Mbah martoed bin marko
Mbah marto’ed bin marko merupakan salah satu ulama yang berdakwah di dukuh ujung biru, dia mempunyai istri bernama siti taijah dan memiliki 4 anak yaitu siti ayah, umi saroh, nurriyah dan utiyanah.
Karena krisis agama maka dari itu para sesepuh atau tokoh masyarakat diantaranya :
Mbah carum, mbah samsudin, mbah tambel mbah darsan dll.
Bermusyawarah untuk mendatangkan seorang ulama yang bernama mbah marto’ed.
Kejadian ini berlangsung sebelum Indonesia merdeka atau masih dalam terjajah oleh belanda sekitar tahun 1920an. Mbah marto’ed berasal dari dukuh sejiret desa kauman kecamatan batang kabupaten batang. Pada tahun 1940an kemudian dia beradakwah di ujung biru dan semua kehidupanya dicuupi oleh masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat. Dan santrinyapun cukup banyak dari berbagai desa diantaranya dari desa kijingan, siwatu,sitotok dan kreyo.
Beliau wafat pada tahun 1960 Di mushola atau langgar (dalam bahasa jawa) setelah sholat dhuha dalam keadaan sujud. Setelah meninggalnya beliau imam atau penyebaran dakwah agama islam dilanjutkan oleh menantunya yang bernama mbah rajad dari kijingan yang merupakan suami ibu siti ayah.

Sumber :          H. Warmad (79 Tahun)

Bpk. Sanusi (70 Tahun)

UTS : Landasan Kependidikan

1.        a). Hukum sebagai landasan kependidikan. Khususnya pendidikan sejarah, antara era orde lama dan orde baru dalam hal sejarah penggali pancasila, berbeda persepsi antara keduanya. Bagaimana komentar anda dalam hal ini, jelaskan.
Jawab:
Pendidikan sejarah disekolah bertujuan untuk memberikan pengetahuan-pengetahuan kepada peserta didik yang berkaitan dengan hal-hal atau kejadian yang  terjadi pada masa lampau. Dalam konteks ini pemahaman terhadap pancasila sebagai sumber dari pendidikan sejarah di era orde lama dan orde baru memang mempunyai perbedaan persepsi sehingga terjadinya sebuah kontradiksi, hal tersebut disebabkan karena kepentingan-kepentingan politik pada masa pemeintahan yang berbeda. Pancasila merupakan buah hasil dari pemikiran Soekarno yang diusulkan pada sidang BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, pada masa orde lama dengan situasi politik yang masih labil karena pada masa itu memang awal-awal kemerdekaan, masih banyak upaya-upaya yang dilakukan beberapa golongan untuk mengganti ideologi tersebut. Soekarno sendiri sebagai penggagas pancasila mempunyai sikap berbeda terhadap pancasila, pada waktu itu soekarno mempunyai banyak konsep-konsep tentang ideologi yaitu dengan munculnya gagasan NASAKOM, dengan gejolak politik seperti itu mengakibatkan pancasila masih belum bisa dipandang sebagai ideologi yang kedudukanya benar-benar kuat dan belum bisa sejalan dengan dimensi realitas, idealitas, dan fleksibelitas. Hal tersebut sangat berpengaruh besar terhadap pendidikan sejarah khususnya dalam hal pemahaman tentang Pancasila.
kemudian pada masa orde baru mempunyai persepsi yang berbeda terhadap pancasila, karena pemerintah orde baru beranggapan bahwa negara Indonesia harus memperkuat posisi pancasila sebagai Ideologi bangsa dan negara. Hal tersebut dapat dilihat dari gencarnya pemerintahan pada masa itu melaksanakan P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), hal tersebut dilakukan karena pemerintah ingin mempertahankan karakterisitik dari Indonesia dan juga menangkal pengaruh-pengaruh dari luar yang dianggap tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Kesimpulanya adalah keadaan dan kondisi yang berbeda mengakibatkan cara pandang terhadap ideologi Negarapun berbeda salah satunya antara pemerintahan orde lama dan orde baru menimbulkan praktek pengajaran yang berbeda pula dalam proses pendidikan sejarah Pancasila.
b). Budaya sebagi landasan kependidikan. Budaya daerah di Indonesia bersifat multicultural, dengan demikian bisa jadi menghasilkan out-put peserta didik yang berbeda-beda karakternya. Hal ini tidak sejalan dengan pembangunan karakter bangsa yang sedang di galakkan. Bagaimana komentar anda dalam hal ini, jelaskan.
Jawab:
Budaya daerah di Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa perlu dipertahankan dan ditumbuhkan pada peserta didik, namun dalam hal ini membutuhkan metode tambahan agar anak menghayati indahnya nilai-nilai luhur tersebut, sehingga anak tergugah hatinya untuk melaksanakan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Pendidikan yang terlepas dari kebudayaan akan menyebabkan aliansi dari subjek yang di didik dan seterusnya, kemungkinan matinya kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu, kebudayaan umum harus diajarkan pada semua sekolah.Sedangkan, kebudayaan daerah dapat dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal dan kebudayaan populer diajarkan dengan proporsi yang kecil. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berperilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya. Maka dari itu pembangunan karakter bangsa yang sedang digalakkan haruslah berlandaskan pancasila karena dalam diri pancasila tersebut bersifat universal yaitu merangkum semua budaya daerah di Indonesia.
2.      a). Teori filsafat piramida yang diajarkan aristoteles tidak sejalan dengan landasan pendidikan informal dan non formal. Bagaimana komentar anda dalam hal ini, jelaskan.
Jawab:
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 Pasal 13 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Jalur pendidikan di Indonesia meliputi jalur pendidikan formal, nonformal dan informal.  Ketiganya memiliki perbedaan yang saling mengisi dan melengkapi. Bahwa jalur pendidikan tersebut adalah wahana yang harus dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Karena pada dasarnya bentuk-bentuk pendidikan tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia, baik cerdas intelektual, cerdas moral, cerdas social, dan juga cerdas religius. Secara garis besar sebenarnya pada jalur pendidikan nonformal dan informal  juga harus menggunakan teori piramida dari aristoteles, teori tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan pendidikan yang diselenggarakan, meskipun memang agak sulit karena kondisinya yang berbeda dengan sekolah formal. Akan tetapi hal tersebut bisa diwujudkan dengan dedikasi dan kesungguhan dari para penggerak dan pelaksana atau orang-orang yang berada dalam pendidikan nonformal dan informal tersebut.
b). Politik sebagai landasan kependidikan dalam aktualisasinya cenderung berorientasi pada penalaran deduktif logik. Hal demikian ini hasil out-putnya akan jauh dari kualitas yang diinginkan. Bagaimana komentar anda dalam hal ini, jelaskan.
Jawab:
Penalaran deduktif logik merupakan penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesimpulan yang ruang lingkupnya lebih bersifat khusus. Politik sebagai landasan kependidikan sangatlah penting untuk melatih jiwa masyarakat, berbangsa dan bertanah air dan juga dapat dimaknai sebagai suatu studi untuk mengkritisi suatu system pemerintahan dan pemerintah yang bila memungkinkan melakukan penyimpangan amanat.
Budaya politik seseorang atau masyarakat sebenarnya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan seseorang atau masyarakat. Hal itu bisa dipahami mengingat semakin tinggi kesempatan seseorang atau masyarakat mengenyam pendidikan, semakin tinggi pula seseorang atau masyarakat memiliki kesempatan membaca, membandingkan, mengevaluasi, sekaligus mengkritisi ruang idealitas dan realitas politik. Maka, kunci pendidikan politik masyarakat sebenarnya terletak pada politik pendidikan masyarakat.
Politik pendidikan yang dimaksud termanifestasikan dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintah dalam bidang pendidikan. Politik pendidikan yang diharapkan tentunya politik pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil atau miskin. Bagaimanapun, hingga hari ini masih banyak orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SD sekalipun. Masih banyak sekolah yang kekurangan fasilitas atau bahkan tidak memiliki gedung yang representatif atau tak memiliki ruang belajar sama sekali. Masih banyak sekolah yang sangat kekurangan guru pengajar. Masih banyak pula guru (honorer) yang dibayar sangat rendah yang menyebabkan motivasi mengajarnya sangat rendah.
Dengan kondisi tersebut, bagaimana mungkin bangsa ini bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM)-nya sudah lebih maju. Dalam konteks politik khususnya, dengan kondisi pendidikan seperti itu, bagaimana mungkin agenda pendidikan politik bisa dilakukan dengan mulus dan menghasilkan kualitas budaya politik yang diharapkan. Maka, sangat jelas, agenda pendidikan politik mensyaratkan agenda politik pendidikan yang memberikan seluas-luasnya kepada seluruh rakyat untuk belajar atau mengenyam pendidikan, tanpa ada celah diskriminatif sekecil apa pun, karena pada hakikatnya pendidikan dilaksanakan berdasakan kepentingan bangsa dan negara yang selaras, baik, dan seimbang sebagaimana pesan Undang-Undang Dasar 1945.
3.      a). Hakikat pendidikan adalah mentransfer ilmu dari pendidik kepada anak didik. Jelaskan hal tersebut dalam konteks hukum kausalitas sebagaimana diajarkan oleh aristoteles.
Jawab:
Hukum kausalitas yang diajarkan oleh Aristoteles adalah bahwa Segala sesuatu yang bergerak pasti digerakan oleh sesuatu, sesuatu benda tidak mungkin menjadi penggerak (mover) sekaligus digerakan (moved). Kebenaran sederhana ini membawa konsekuensi bahwa penggerak pertama bergerak tidak disebabkan oleh apapun, jika tidak, maka akan teradi lingkaran yang tidak berujung pangkal. Inti dari hukum ini adalah bahwa dalam sebuah kejadian ada yang dinamakan dengan penyebab (antecedent events) dan akibat (consequencing events). Berkaitan dengan hakikat pendidikan  yaitu mentransfer ilmu dari pendidik kepada anak didik, guru sebagai pihak pentransfer ilmu harus bisa memikirkan tentang hal-hal apa yang dibutuhkan dalam menuju kesuksesan pembelajaran. agar ilmu yang disampaiakan bisa sampai kepada anak didik. Maka dari itu guru harus bias menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan, di tunjang dengan sarana prasarana yang memadai, menggunakan metode serta pendekatan yang baik kepada siswa sehingga tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik yaitu anak didik dapat menerima ilmu dari gurunya.
b). Geografi sebagai landasan kependididkan. Jepang geografi negaranya lebih kecil dari pada Indonesia, tetapi warga jepang relative lebih cerdas dari Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi, jelaskan pendapat anda.
Jawab:
Geografi merupakan cabang ilmu yang sangat penting adanya didunia pendidikan hal ini dikarenakan geografi mempelajari tentang segala macam objek yang ada dibumi, baik dalam segi formal maupun material. Dalam kajian geografi sangat perlu adanya strategi strategi pembelajaran yang sesuai untuk menciptakan sebuah suasana yang kondusif serta menarik minat para pelajar dalam mempelajari kajian ilmu geografi. Sehingga dari berbagai masalah yang muncul dapat dipelajari dan diambil kesimpulan yang selanjutnya dapat dikembangkan untuk mencegah, menanggulangi dan mengatasi masalah masalah yang ada. Salah satu contoh mengapa warga jepang  relative lebih cerdas dari Indonesia yaitu karena luas wilayah Negara jepang yang relative lebih kecil mengakibatkan pemerintah jepang lebih mudah untuk menanggulangi masalah-masalah yang terdapat dijepang dibandingkan di Indonesia yang wilayahnya lebih luas sehingga pemerintah susah menjangkaunaya. Dari segi suhu dan cuaca pun dijepang lebih menunjang untuk pembelajaran karena cuca di jepang lebih dingin dari pada di Indonesia yang cuacanya panas sehingga warga Indonesia lebih malas berfikir karena cuaca yang cukup panas dibanding di Negara Jepang.
a). P4 yang sekarang dibubarkan itu, apakah bisa dijadikan sebagai landasan kependidikan, jelaskan pendapat anda?
Jawab:
Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4)/Eka Prasetya Pancakarsa adalah sebuah panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara semasa Orde Baru. . Soeharto, sebagai pemimpin orde baru, menghendaki bangsa Indonesia senantiasa bersendikan pada nilai-nilai Pancasila dan ingin menjadikan warga negara Indonesia menjadi manusia Pancasila melalui penataran P-4 (Pedoman Penghayatandan Pengamalan Pancasila). Secara filosofis penataran ini sejalan dengan kehendak pendiri negara, yaitu ingin menjadikan rakyat Indonesia sebagai manusia Pancasila, namun secara praksis penataran ini dilakukan dengan metodologi yang tidak tepat karena menggunakan cara-cara indoktrinasi dan tanpa keteladanan yang baik daripara penyelenggara negara sebagai prasyarat keberhasilan penataran P-4. Sehingga bisa dipahami jika pada akhirnya penataran P-4 ini mengalami kegagalan, meskipun telah diubah pendekatannya dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Jadi, P4 yang sekarang dibubarkan itu seharusnya bias bias dijadikan sebagai landasan kependidikan asalkan asalkan harus ada konektivitas antara kontekstual dan prakteknya harus sejajar tidak seperti di era orde baru tidak relevan antara kontekstual dan praktiknya.
b). Hakikat kodrat manusia adalah: monopluralis ”yang mengedepankan keseimbangan keselarasan, keserasian jiwa-raga, individu-sosial, makhluk mandiri-makhluk tuhan. Apakah hal itu bisa dijadikan landasan pendidikan, jelaskan pendapat anda.
Jawab:
Manusia sebagai makhluk yang memliki potensi-potensi (intelektual, rasa. karsa, karya dan religi) dalam dirinya untuk bisa tumbuh dan berekembang baik fisik maupun non fisik sangat membutuhkan pendidikan agar potensi-potensi tersebut dapat terealisasi. Pendidkan pada intinya untuk membantu manusia menjadi ‘dewasa’ dan matang secara pribadi sehingga mereka betul-tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul secara individu yang secara akumulatif akan membentuk formasi kehidupan sosial bermasyarakat yang unggul pula berbasis pada tata susila secara baik.

Jadi antara manusia dan pendidikan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan untuk saling menyempurnakan. Belajar hakikat manusia untuk menyempurnakan proses pendidikan dan belajar hakikat pendidikan untuk menyempurnakan manusia maka dari itu hakikat kodrat manusia dapat dijadikan sebagai landasan kependidikan.
UJIAN  MID SEMESTER
S2 Prodi IPS Tahun 2014-2015
(Reguler dan Khusus)

            Hari/Tgl                       :  Kamis, 23-Oktober-2014    
            Waktu                         :  ..
Nama                           :  Achmad Zurohman
NIM                            :  0301514014
            Pengampu                   :  Purwadi Suhandini
           
1.      Seorang Mahasiswa S2 melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada penggunaan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis macromedia flash dan membandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis macromedia flash, pada materi IPS konektivitas antar ruang dan waktu. Eksperimen dilakukan pada kelas 7A (eksperimen) dan kelas 7B (control).
Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design, sbb:
Kelompok
Pre-Test
Perlakuan
Post Test
Eksperimen
Q 1
X
Q 2
Control
Q 3
-
Q 4

Ket:  Q1, Q3   =  nilai pre test
          X                       =  perlakuan (treatment)
         Q2, Q4   =  nilai post test

Hasil pre-test dan post-test kelas control dan kelas eksperimen adalah sebagai berikut:

Kelas Ekaperimen

No. Urut Siswa
Nilai Pre-Test
Nilai Post-Test
1
55
95
2
30
70
3
55
80
4
60
85
5
35
80
6
50
80
7
50
85
8
45
85
9
60
85
10
50
85
11
55
90
12
35
70
13
50
75
14
45
80
15
35
90
16
55
75
17
25
70
18
40
75
19
75
95
20
50
100
21
20
80
22
40
100
23
70
100
24
40
80
25
30
75
26
40
85
27
50
70
28
45
75
29
50
85
30
40
75
31
45
70
32
60
90
33
50
85
34
45
80
35
50
85



Kelas Kontrol

No. Urut Siswa
Nilai Pre-Test
Nilai Post-Test
1
75
90
2
60
75
3
50
75
4
30
75
5
45
70
6
65
90
7
45
65
8
65
85
9
45
65
10
55
85
11
40
75
12
40
70
13
45
70
14
45
85
15
60
75
16
60
90
17
55
85
18
50
70
19
65
65
20
60
70
21
55
90
22
35
70
23
50
80
24
45
75
25
25
70
26
50
85
27
40
85
28
70
75
29
65
85
30
35
70
31
50
90
32
55
75
33
65
85
34
50
75
35
40
75






Soal:
a.         Apakah kedua data tersebut berdistribusi normal? Buktikan!
Jawab:
Dari hasil dengan bantuan SPSS 16, didapatkan taraf signnifikan 0,598 untuk nilai pre test kelas eksperimen, 0,830 untuk nilai pre test kelas kontrol, 0,360 untuk nilai post test kelas eksperimen dan 0,058 untuk nilai post test kelas kontrol. Dikarenakan masing-masing data bertaraf signifikan lebih besar dari 0,05 maka dapat dibuktikan bahwa data tersebut berdistribusi normal.





b.        Apakah variansi populasi data yang diuji memiliki variansi yang homogen? Buktikan!
Jawab:
PRE TEST
POST TEST
Dari hasil penghitungan untuk mencari kesamaan data tersebut dengan menggunakan SPSS 16 didapatkan taraf signifikan sebesar 0,779 untuk data pre test dan 0, 988 untuk data post tes. Dikarenakan masing-masing memiliki taraf signifikan lebih besar dari 0,05 maka dapat dibuktikan bahwa data tersebut bersifat homogen.




c.         Adakah perbedaan rata-rata secara signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberi perlakuan?
Jawab:
PRE TEST
Setelah diuji menggunakan bantuan SPSS 16 untuk mencari uji T, didapatkan taraf signifikan sebesar 0,117. Dikarenakan taraf uji t tes tersebut didatkan taraf signifikan lebih besar dari 0,05. Maka tidak ada perbedaan yang bermakna antara nilai pre test kelas eksperimen dan nilai pre test kelas kontrol.
POST TEST
Setelah diuji menggunakan bantuan SPSS 16 untuk mencari uji T, didapatkan taraf signifikan sebesar 0,019. Dikarenakan taraf uji t tes tersebut didapatkan taraf signifikan lebih kecil dari 0,05. Maka ada perbedaan yang bermakna antara nilai post test kelas eksperimen dan nilai post test kelas kontrol.
d.        Apakah penggunaan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis macromedia flash tersebut dapat meningkatkan hasil belajar? Buktikan!
Kelas
Mean
Peningkatan Skor
Kelas eksperimen awal
46,57
35,99
Kelas eksperimen akhir
82,56

Kelas kontrol awal
51
26.57
Kelas kontrol akhir
77,57







Dikarenakan peningkatan rata-rata skor kelas eksperimen lebih tinggi dari peningkatan kelas kontrol, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis macromedia flash dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan terbukti lebih efektif daripada pembelajaran yang tidak menggnakan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis macromedia flash.
e.         Buat langkah-langkah pengembangan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis micromedia flash berdasarkan ADDIE (materi konektivitas antar ruang dan waktu), disertai deskripsi penjelasannya!
Jawab:
Langkah-langkah pengembangan aplikasi multimedia pembelajaran berbasis micromedia flash berdasarkan ADDIE (materi konektivitas antar ruang dan waktu)
1)      Analisis
Pada langkah analisis mengidentifikasi kebutuhan dan karakterstik siswa dalam pembelajaran materi konektifitas antar ruang dan waktu. Pada langkah ini menentukan pengembangan aplikasi multimedia pembelajaran berbas micromedia flash dengan tujuan agar  siswa dapat  memahami materi konektivitas antar ruang dan waktu.
2)      Desain
a)      Perumusan Tujuan
Diharapkan dengan penggunaan micromedia flash pembelajaran konektivitas antar ruang dan waktu dapat berhasil.
b)      Perumusan materi pembelajaran
Materi konektivitas ruang dan waktu

c)      Perumusan alat pengukur keberhasilan
Pembelajaran yang akan dilakukan haruslah diukur apakah tujuan pembelajaran dapat dicapai atau tidak. Oleh karena itu perlu alat ukur hasil pembelajaran berupa tes, penugasan atau daaftar cek perilaku. Perumusan alat ukur keberhasilan perlu dikembangan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan dan sesuai juga materi yang disiapkan. Yang perlu diukur adalah tiga kemampuan utama yaitu pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan. Dengan demikian terhadap hubungan yang erat antara tujuan, materi dan tes pengukur keberhasilan.
d)     Garis besar pengembangan Media
Garis besar program media merupakan petunjuk yang dijasdikan pedoman oleh para penulis naskah didalam penulisan naskah program media. Garis besar program ini mengacu pada analisis kebutuhan, tujuan dan materi. GBPM dibuat setelah dilakukan penelaahan topik yang ada.
No
Kompetesi
Pokok Bahsan
Sub Pokok bahasan
Bentuk penyajian
Daftar pustaka













e)      Penulisan naskah media
Naskah dalam media pembelajaran berisi informasi dalam bentuk visual, grafis, dan audio tentang materi konektivitas ruang dan waktu sebagai acuan dalam pembuatan micromedia flash. Secara sederhana naskah dapat berupa gambaran umum atau outline media yang akan dibuat. Melalui naskah inilah tujuan dan materi tersebut dituangkan dengan kemasan sesuai  jenis media micromedia flash.
f)       Skenario petunjuk operasional dalam melaksanakan produksi media pembelajaran
Skenario merupakan Petunjuk operasional dalam melaksanakan produksi micromedia flash . Skenario ini sangat bermanfaat bagi kerabat produksi yang bertanggung jawab teknis operasional. Skenario ini dapat berupa diagram, alur dan gambaran visual dari apa yang akan diwujudkan sperti story board, denah dan lin-lain
3)      Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya begini, jika dalam desain diperlukan dirancang  media pembelajaran micromedia flash , maka micromedia flash tersebut harus diwujudkan sesuai rancangan. Misalnya diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan yang berisi materi konektifiitas ruang dan waktu.
4)      Implementasi
Menginstal media micromedia flash
5)      Evaluasi
Melihat apakah pembelajaran yang menggunakan micromedia flash pada materi konektivitas antar ruang dan waktu dapat berhasil


2.      Berikut adalah  bagan “pembelajaran sebagai suatu sistem’


Soal:
a.       Jelaskan bagan di atas sehingga tampak alur pembelajaran sebagai suatu sistem!
Jawaban:
Pembelajaran sebagai suatu system yaitu antar komponen pembelajaran saling terkait satu sama lain yakni materi, metode, media, dan evaluasi. Materi yang dipersiapkan oleh guru harus memperhatikan karakteristik siswa. Guru harus memilih metode yang tepat atau sesuai dengan materi yang nantinya akan diajarkan kepada siswa agar materi mudah dipahami siswa jika proses pembelajaran yang diciptakan guru itu menyenangkan. Selanjutnya, guru membuat media pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan metode yang dipilih agar siswa tertarik memperhatikan dan menguasai materi sehingga kompetensi pembelajaran dapat tercapai. Guru juga memilih alat evaluasi yang tepat pada pembelajaran yang dilakukan untuk menilai kompetensi siswa. Evaluasi dilakukan guru untuk melakukan pengukuran sehingga guru mengetahui kompetensi yang dapat dicapai siswa, yaitu kompetensi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotoik (keterampilan).
b.      Apa yang  terjadi apabila salah satu komponen dalam system  itu tidak berfungsi?
Jawaban:
Jika salah satu komponen dalam sistem ada yang tidak berfungsi maka proses pembelajaran yang dilaksanakan tidak bisa berjalan secara efektif dan efisien sehingga kompetensi pembelajaran tidak tercapai. Oleh karenanya, komponen dalam sistem itu harus saling berhubungan satu sama lain.

3.      Rancang kegiatan pembelajaran dengan topik “ konektivitas antar ruang, dan waktu, dengan menerapkan pendekatan saintifik. Tulis secara rinci rancangan pembelajarannya pada kolom yang tersedia berikut ini. (Tabel dapat dibuat landscape).
Jawaban:
Tahap Pembelajaran
Kegiatan siswa
(bisa ditambah keg. guru)
Indikator yang ingin dicapai
Evaluasi yang dilakukan
Media yang digunakan
1.   Mengamati
1.   Peserta didik menyimak secara seksama dan mencatat penjelasan guru tentang materi konektivitas antar ruang dan waktu
2.   Peserta didik mengamati gambar-gambar/video tentang:
a) Hutan yang gundul di daerah hulu
b) Hujan deras di daerah hulu dan hilir
c) Membuang sampah di sembarang tempat di daerah hilir
d) Banjir
3.   Berdasarkan  hasil  dari  pengamatan, masing-masing kelompok berdiskusi dan menuliskan hal-hal yang ingin diketahui.
Melatih kesungguhan,
ketelitian, mencari informasi.
Penilaian antar teman
Video/ gambar
2.   Menanya
1.   Peserta didik berdiskusi dalam kelompok masing-masing untuk merumuskan pertanyaan berdasarkan hal-hal yang ingin diketahui dari hasil pengamatan video/gambar tentang konektivitas antar ruang dan waktu.
2.   Salah satu peserta didik dari wakil masing-masing kelompok menuliskan rumusan pertanyaan di papan tulis secara bergantian.
3.   Peserta didik dengan bimbingan guru mengidentifikasi dan mengelompokkan pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
4.   Jika hal-hal yang ingin diketahui belum semuanya mencakup tujuan pembelajaran, maka guru dapat menambahkan hal-hal yang terkait dengan tujuan pembelajaran.
5.   Peserta didik berdiskusi dengan kelompoknya untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang diketahui.
Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran
kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Penilaian antar teman
Papan tulis, buku siswa kelas VII semester 1
3.   Mencoba/mengumpulkan data
1.   Peserta  didik  dalam kelompok mengumpulkan  informasi/data  untuk  menjawab pertanyaan  yang  telah  dirumuskan  dari  membaca uraian materi Buku Siswa IPS kelas VII materi konektivitas antar ruang dan waktu, juga mencari di internet atau membaca buku referensi lain yang relevan di perpustakaan.
2.   Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan atas pertanyaan yang telah disusun.
Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi,
menerapkan kemampuan
mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan
kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Penilaian antar teman
Buku siswa kelas VII semester 1, data dari internet, sumber buku lain yang relevan
4.   Menganalisis/mengolah data
1.   Peserta  didik  diminta  mengolah  dan  menganalisis  data  atau  informasi yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan (menyempurnakan jawaban sementara yang telah dirumuskan dalam kelompok).
2.   Peserta  didik  mendiskusikan  di  dalam  kelompok  untuk mengambil kesimpulan dari jawaban atas pertanyaan yang telah dirumuskan.
3.   Peserta didik bersama guru menyusun kesimpulan jawaban dari berbagai pertanyaan.
Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Penilaian antar teman
Buku siswa kelas VII semester 1, data dari internet, sumber buku lain yang relevan
5.   Mengomunikasikan
1.   Setiap kelompok mempresentasikan hasil simpulan dari jawaban atas pertanyaan yang telah dirumuskan secara bergantian
2.   Kelompok lain memperhatikan penyajian kelompok penyaji dan mencatat hal-hal yang penting serta mempersiapkan pertanyaan terhadap hal yang belum jelas.
3.   Guru memberikan konfirmasi terhadap jawaban peserta didik dalam diskusi, dengan meluruskan jawaban yang kurang tepat dan memberikan penghargaan bila jawaban benar.
Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan
pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Praktik, projek
LCD,  power point, handout laporan hasil diskusi
6.   (Bisa dilanjutkan dengan mencipta)
Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk membuat poster terkait materi konektivitas antar ruang dan waktu
Mengembangkan kreativitas, teliti, kerjasama
Projek
Handout berupa poster



4.      Buat instrument penilaian yang mengukur:
a.       Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut
FORMAT PENILAIAN OBSERVASI
SIKAP SPRITUAL PESERTA DIDIK
Interval
Nilai Kualitatif
3,66 – 4,00
SB (Sangat Baik)
2,66 – 3,33
B (Baik)
1,66 – 2,33
C (Cukup)
< 1,33
K (Kurang)

Nama Sekolah         : ………………………………………………..
Kelas                       : ………………………………………………..
Kompetensi Dasar  : ………………………………………………..
Materi Pokok             : ……………………………………………….. 
Periode Penilaian    : ……………………….s.d ……………….....




No
Nama Siswa
Sikap Spiritual
Total Skor
Rata-Rata
Nilai Kualitatif
Deskripsi
 1. Damai
2. Taat menjalankan agama




1.







2.







3.







4.







5.







6.







dst








RUBRIK PENSKORAN
Aspek      : Taat Menjalankan Agama
No.
Indikator Ketaatan Menjalankan Agama
Penilaian Ketaatan Menjalankan Agama
1
Disiplin (selalu tepat waktu) dalam menjalankan agamanya
Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
2
Teratur dalam menjalankan agamanya
Skor 2 jika terpenuhi dua indikator
3
Bersungguh-sungguh menjalankan ajaran agama
Skor 3 jika terpenuhi tiga indikator
4
Berakhlak/berperilaku santun dan menghargai orang lain
Skor 4 jika terpenuhi semua indikator


b.      Sikap sosial yang mencakup: jujur, disiplin, santun, dan toleransi.
LEMBAR PENILAIAN ANTARPESERTA DIDIK

Nama Peserta didik yang dinilai        : ...
Kelas/Semester                                   :…
Hari/Tanggal Pengisian                       :
Tahun Pelajaran                                  :
 Butir Nilai                                         : Menunjukkan sikap jujur, disiplin, santun dan   toleransi
Indikator Sikap                                  :
                                
Sikap
Skor
4
3
2
1
1.  Jujur




2.   Disiplin




3.   Santun




4.   Toleransi




Jumlah Skor

Nilai

       Keterangan:
       Sangat baik     = 4
       Baik                 = 3
       Cukup             = 2
Kurang                        = 1
1.  Aspek : Jujur
No.
Indikator Kejujuran
Penilaian Kejujuran
1.
Tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
Skor 1 jika 1 sampai 2 indikator muncul
2.
Tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber) dalam mengerjakan setiap tugas
Skor 2 jika 3 sampai 4 indikator muncul
3.
Mengemukakan perasaan terhadap sesuatu apa adanya
Skor 3 jika 5 indikator muncul
4.
Melaporkan barang yang ditemukan
Skor 4 jika 6 indikator muncul

2. Aspek  : Disiplin
No.
Indikator Disiplin
Penilaian Disiplin
1.
Sama sekali tidak bersikap disiplin selama proses pembelajaran.
Kurang (1)
2.
Menunjukkan  ada sedikit usaha untuk bersikap disiplin selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten
Cukup  (2)
3.
Menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap disiplin selama proses pembelajaran tetapi masih belum ajeg/konsisten
Baik (3)
4.
Menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap disiplin selama proses pembelajaran secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Sangat baik (4)

2.    Aspek : Santun
No.
Indikator Santun
Penilaian Santun
1.
Baik budi bahasanya (sopan ucapannya)
Skor 1 jika terpenuhi satu indikator
2.
Menggunakan ungkapan yang tepat
Skor 2 jika terpenuhi dua indikator
3.
Mengekspresikan wajah yang cerah
Skor 3 jika terpenuhi tiga indikator
4.
Berperilaku sopan
Skor 4 jika terpenuhi semua indikator

3.     Aspek : Toleransi
No.
Indikator Toleransi
Penilaian Toleran
1.
Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat
Skor 1 jika 1 atau tidak ada indikator yang konsisten ditunjukkan peserta didik
2.
Menghormati teman yang berbeda suku, agama, ras, budaya, dan gender
Skor 2 jika 2 indikator kosisten ditunjukkan peserta didik
3.
Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya
Skor 3 jika 3 indikator kosisten ditunjukkan peserta didik
4.
Dapat mememaafkan kesalahan/kekurangan orang lain
Skor 4 jika 4 indikator konsisten ditunjukkan peserta didik

c.       Penilaian diri.
LEMBAR PENILAIAN SIKAP
“PENILAIAN DIRI”
Nama Siswa                     : ....................................................................
Kelas/Semester     : VII / I
Materi/Bab                       : ....................................................................
Indikator :
1.    Memiliki motivasi selama proses pembelajaran dan menjelang ulangan harian
2.    Penguasaan Materi yang akan diujikan
3.    bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok
4.    menunjukkan sikap disiplin dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok
5.    menunjukkan rasa percaya diri dalam mengemukakan gagasan, bertanya, atau menyajikan hasil diskusi
6.    Menunjukkan sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat/cara dalam menyelesaikan masalah
Untuk pertanyaan 1 sampai dengan 6, tulis masing-masing huruf (A/B/C/D) sesuai dengan pendapatmu, jika :

·         A = Selalu

·         B = Sering

·         C = Jarang

·         D = Tidak pernah
1
Saya memiliki motivasi selama proses pembelajaran dan kesiapan menjelang Ulangan Harian
2
Saya menguasai materi /Bab/Sub Bab yang akan diujikan dalam ulangan harian nanti
3
Saya bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok
4
Saya menunjukkan sikap disiplin dalam menyelesaikan tugas individu maupun kelompok
5
Saya menunjukkan rasa percaya diri dalam mengemukakan gagasan, bertanya, atau menyajikan hasil diskusi
6
Menunjukkan sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat/cara dalam menyelesaikan masalah

Pedoman Penskoran:
Skor 4, jika A = Selalu            Skor 2, jika C = Jarang
Skor 3, jika B = Sering            Skor 1, jika D = Tidak pernah
Skor Perolehan  =

d.      Pengetahuan (factual, konseptual, procedural).
Jenis/Teknik Penilaian                              : Tes Tertulis
Bentuk Instrumen dan Instrumen            : Uraian
Kisi-kisi soal                                             :
No.
Instrumen
Skor
1
Jelaskan keuntungan Indonesia dilihat dari lokasinya!
5
2
Mengapa Indonesia termasuk negara beriklim tropis?
5
3
Jelaskan keragaman  kondisi  fisiografis  atau  bentuk  muka  bumi  di Indonesia?
5
4
Bagaimana keadaan flora dan fauna pada masa Praaksara di Indonesia?
5
5
Mengapa Indonesia memiliki keanekeragaman hayati yang sangat tinggi?
5
6
Mengapa penduduk cenderung terpusat di daerah dataran rendah?
5
7
Mengapa banyak dijumpai gunung berapi di Indonesia?
5
8
Apa keuntungan dan kerugian banyaknya gunung berapi di Indonesia?
5
9
Mengapa aktivitas permukiman banyak dijumpai di daerah dataran?
5
10
Mengapa terjadi perbedaan aktivitas penduduk di daerah yang keadaan bentuk muka buminya berbeda?
5
Jumlah Skor

50

                  Pedoman penskoran :
Jawaban
Skor
Tidak menjawab
0
Jawaban salah
1
Jawaban benar / inti jawaban benar
5

Pedoman penilaian :
Nilai akhir = Jumlah total Skor yang diperoleh x 2
e.       Ketrampilan (praktek menggambar peta Indonesia).
No
Nama Peserta Didik
Kemampuan kerapian menggambar
(1-4)
Ketepatan  menentutakan posisi letak dalam peta
(1-4)
Kemampuan memberi simbol peta
(1-4)
Jumlah Nilai
1





2





3





4





5





Dst






Keterangan :
-           Nilai terentang antara 1 – 4
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Amat Baik
-          Nilai = Jumlah nilai dibagi 3
5.      Mahardika, siswa kelas VII SMP Megamendung, memperoleh  nilai IPS sebagai berikut:
Ulangan harian: 75, 65, 70, 85, 80, 70,75
Tugas-tugas:  65, 75, 75, 70, 50
Nilai Ulangan Tengah Semester   = 55
Nilai Ulangan Akhir Semester      = 65
Soal:  berapa nilai rapor IPS Mahardika?

Jawab:
NUH                                                   = (75+65+70+85+80+70+75+65+75+75+70+50) : 12 = 71,25
Nilai Ulangan Tengah Semester           = 55
Nilai Ulangan Akhir Semester             = 65
Berdasarkan data diatas, diperoleh:
Nilai                = [(2 x 71,25)+(1 x 55)+(1 x 65)] : 4
                        = (142,5 + 55 + 65) : 4
                        = 262.5 : 4
                        = 65.6
                        = (65.6 : 100) x 4
                        = 2.625 (B)
Nilai laporan hasil pencapaian kompetensi peserta didik adalah 2.625         
Selamat Bekerja!
Hasil dikirim melalui email, selambat-lambatnya pada hari Jumat 24 Oktober 2014,  jam 24.00.
Alamat email:   suhandinipurwadi@gmail.com