1. Nasionalisme dan Ketahanan Budaya Indonesia: Sebuah Pengantar oleh M. ‘Azzam Manna dan Thung Ju Lan
Konsep nasionalisme Indonesia bisa dikatakan bukan semata-mata konsep politik, melainkan juga konsep budaya. Idealnya nasionalisme Indonesia menggambarkan ikatan budaya yang menyatukan dan juga mengikat rakyat Indonesia yang majemuk menjadi satu bangsa dalam ikatan suatu Negara-bangsa (nation-state).
Anggapan para ahli politik tentang nasionalisme adalah sebuah ideology yang sudah jelas, akan tetapi pada dasarnya nasionalisme adalah konsep yang “terbuka” untuk berbagai interpretasi. Nasionalisme mencakup banyak aspek yang bila ditelisik cukup kompleks. Pertama, nasionalisme merefleksikan sejarah masa lalu, khususnya menyangkut kisah perjalanan hidup atau proses terbentuknya suatu bangsa yang juga disebut nasion. Kedua, keterikatan warganegara terhadap Negara-bangsa di mana ia tinggal atau hidup.
Aspek lain nasionalisme adalah hubungan antara beberapa entitas penduduknya, yakni Negara, bangsa, dan masyarakat yang membentuk Negara-negara tersebut. Sebelumnya penting untuk dicatat bahwa membicarakan hubungan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks dimana hubungan-hubungan itu mempunyai arti. Pada hakikatnya konteks yang dimaksud di sini terkait dengan tiga struktur utama, yaitu local-nasional, nasional-global, dan local-global yang pada praktiknya terkait satu sama lain.
2. Nasionalisme dan Ketahanan Budaya Indonesia Sebagai Sebuah Problem Kontemporer oleh M. ‘Azzam Manna dan Thung Ju Lan
Melemahnya nasionalisme Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari persoalan konseptual dari nasionalisme itu sendiri. Namun, sebagaimana dikemukakan oleh Azyumardi Azra, akhir-akhir ini kita bisa melihat adanya perkembangan lain dari nasionalisme Indonesia, yaitu: pertama, melalui penerapan otonomisasi dan desentralisasi sejak 2004 yang cenderung menonjolkan “semangat kedaerahan” tidak jarang berimplikasi terjadinya konflik dan kekerasan antar etnik pada lokalitas tertentu. Kedua, adanya kecenderungan meningkatnya arus dan gerakan islam transnasional yang menolak bukan hanya nasionalisme Indonesia, melainkan juga Negara-bangsa Indonesia, dan sebagai gantinya menawarkan ‘khilafah’ atau entitas politik tunggal bagi seluruh umat islam di jagad raya ini.
3. Nasionalisme dan Ketahanan Budaya: Beberapa Catatan dari Perspektif Demografis oleh Dr. Riwanto Tirtosudarmo
Menurut Juwono Sudarsono, “tiada ilmu yang lebih mendasar dan lebih menentukan hari depan suatu bangsa dari pada ilmu kependudukan atau demografi. Jumlah, struktur, kualitas serta persebaran penduduk suatu bangsa erat berhubungan dengan masalah serta kebijakan politik, ekonomi, sosial-budaya, sains-teknologi, lingkungan hidup, serta pertahanan-keamanan setiap bangsa”. Demografi atau ilmu kependudukan memang memberikan informasi-informasi yang bersifat dasar dari dinamika kependudukan yang mencakup tiga hal pokok yaitu kematian, kelahiran, dan migrasi.
Nasionalisme dan ketahanan budaya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, dan keduanya merupakan bagian penting dari sebuah Negara-bangsa yang memiliki kedaulatan atas wilayah dan warganegaranya. Nasionalisme dan ketahanan budaya saya artikan sebagai kualitas-kualitas mental atau psikologis yang melekat pada warga Negara sebuah Negara, dan bukan pada negaranya sendiri. Oleh karena itu , kuat atau lemahnya rasa nasionalisme dari warga Negara sebuah negeri, sekaligus mencerminkan kuat atau lemahnya ketahanan budaya yang dimiliki oleh warga Negara negeri yang bersangutan.
Migrasi dan Masalah Kewarganegaraan
Migrasi atau mobilitas penduduk secara geografis adalah sebuah kenyataan sosial yang telah ada sejak hadirnya manusia di planet bumi ini. Migrasi merupakan bagian dari dan yang ikut membentuk sejarah dan peradaban umat manusia. Mobilitas penduduk itu sudah terjadi sebelum lahirnya system Negara-bangsa, justru lahirnya Negara bangsa itu menimbulkan persoalan bagi migrasi, arena bersamaan dengan itu muncul batas-batas wilayah Negara (state boundaries) yang merupakan penghalang bagi mobilitas penduduk yang sebelumnya bebas.
Persoalan kewarganegaraan (citizenship) sangat jarang didiskusikan di Indonesia. Kecuali persoalan yang menyangkut dwi-kewarganegaraan pada orang-orang keturunan cina, kewarganegaraan boeh dikatakan sebagai sebuah non-isu di negeri ini karena terbukti imigrasi tidak pernah menjadi masalah yang besar di indonesia.
Nasionalisme dan ketahanan budaya yang dimiliki oleh sebuah bangsa tidak mungkin dilepaskan dari tinggi atau rendahnya rasa kewarganegaraan dan martabat yang dimiliki oleh warga bangsa tersebut, yang hanya bisa dipenuhi jika Negara mampu menyejahterakan warga negaranya, terutama secara ekonomi, dan menegakkan keadilan dan hukum bagi seluruh warga Negara tanpa memandang perbedaan identitas kultural mereka.
4. Nasionalisme Indonesia dan Keberagaman Budaya Dalam Perspektif Politik oleh Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Transformasi Nasionalisme Indonesia
Ke-indonesia-an atau kebangsaan yang tidak diisi ulang atau tidak diaktualisasikan dalam kebijakan-kebijakan public, tentu akan berujung pada ke-indonesia-an yang stagnasi, baik di tingkat internal maupun dalam interaksinya dengan dunia global. Nasionalisme Indonesia memang mengalami transformasi yang sangat signifikan, yaitu nasionalisme kultural (bukan hanya berbasis etnis tetapi juga tercakup didalamnya agama) yang berubah menjadi nasionalisme politik.
NKRI, Sentralisasi, dan Integrasi Semu Orde Baru
Kebijakan politik sentralisasi yang sangat berlebihan oleh Orde Baru, menurut Kenneth Davey (1989), dilatar belakangi paling tidak oleh tiga alasan. Pertama, adanya kekhawatiran terhadap persatuan nasional dan munculnya kekuatan-kekuatan yang memecah persatuan. Kedua, sentralisasi diperlukan dalam rangka memelihara keseimbangan politik dan keamanan dalam pembagian sumber daya, khususnya antara jawa yang dihuni sebagian besar rakyat Indonesia dan luar jawa yang memiliki sebagian besar sumber daya ekonomi. Dan Ketiga, pengalaman politik yang dialami oleh Indonesia sebelum 1965, sehingga pemerintah ingin tetap memgang kendali yang kuat atas kebijakan pembangunan ekonomi.
Di bawah system otoriter Orde Baru, Soeharto bukan hanya melanjutkan upaya menyatukan dan menyeragamkan ideology partai-partai dan bahkan ideology organisasi-organisasi kemasyarakatan kedalam asas tunggal pancasila, melainkan juga cenderung mendistorsikan ide persatuan semata-mata sebagai “kesatuan teritorial” atas wilayah Negara yang membentang dari sabang sampai merauke kedalam frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” (NKRI).
5. Melihat Kembali Nasionalisme Indonesia dalam Konteks Masyarakat Plural Melalui Perspektif Sejarah oleh Dr. Mukhlis PaEni
Nasionalisme Indonesia dan Masalah Otonomi Daerah
Persoalan otoda (otonomi daerah) di Indonesia memang tak kunjung selesai. Penerapan otoda di masa pemerintahan Hindia pada 1906-1938, formatnya pun tidak pernah selesai. Fatalnya, kita saat ini jatuh di lubang yang sama karena kita tidak belajar dari sejarah pemerintahan Hindia Belanda dan justru terperosok kedalam permasalahan otoda yang sama.
Ke-melayu-an dalam Nasionalisme Indonesia
Bagi Indonesia, melayu adalah pemahaman budaya. Sedangkan di Malaysia, melayu adalah pemahaman politik. Bagi Indonesia, melayu adalah salah satu dari rangkaian mozaik yang ada di Indonesia. Konsep Nusantara bagi Indonesia dan Malaysia juga berbeda. Bagi Indonesia, Nusantara adalah konsep politik dari Sabang sampai Merauke, sedangkan bagi Malaysia, Nusantara adalah konsep kebudayaan dari patani sampai pasifik yang kemudian dilebarkan ke dalam konsep “The Malay World” dari Taiwan hingga Madagaskar. Jadi, jika Malaysia ingin mengembangkan kebudayaan melayu, itu adalah karena ia juga merasa sebagai pewaris dari alam melayu. Hal inilah yang dihadapi oleh industri budaya (industri kreatif) masa kini.
Nasionalisme Indonesia dalam Konteks Sejarah Hubungan Antaretnik
Endapan “collective memory”tentang kebesaran Majapahit dan kehebatan Patih Gajah Mada dianggap masa gemilang jawa. Peristiwa sejarah ini tersimpan dengan baik, dalam ingatan masyarakat dan kemudian menjadi ilham bagi munculnya nasionalisme Jawa dalam wujud Budi Utomo, 1908, Tri Koro Dharmo dan Jong Java (1919). Demikian juga dengan kebesaran kerajaan Sriwijaya (abad ke-8), serta kebesaran Sultan Iskandar Muda di Aceh abad ke-17, 1607-1636. Keduanya di Sumatera. Keduanya juga melakukan peperangan dan penakhlukan terhadap kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Peperangan tersebut tidak hanya mengakibatkan terjadinya benturan antarkerajaan, tetapi juga perang antaretnik dan antaragama. Semua dilakukan demi pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kontrol kekuasaan.
Dari Peran Lembaga Adat ke Peran Institusi Pendidikan dalam NKRI
Begitu banyak institusi tradisional yang tidak mampu lagi menopang tatanan kehidupan baru Indonesia Baru pasca kemerdekaan. Ketika itulah lembaga-lembaga pendidikan/ sekolah-sekolah seharusnya memegang peranan penting, karena lembaga-lembaga pendidikan/ sekolah-sekolahlah yang menciptakan manusia Indonesia Baru sebagai pendukung kebudayaan masyarakatnya. Kebudayaan yang dimaksud di sini adalah dalam arti yang luas.
Lembaga-lembaga pendidikan/ sekolah-sekolah berperan penting memberi bekal penalaran kepada masyarakat agar dapat menilai mana-mana dari tradisi yang berhenti karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, mana-mana yang berlanjut dan mana-mana yang berubah bentuk. Tanpa pendidikan, seleksi tidak mungin terjadi, arena nilai-nilai budaya suatu bangsa hanya dapat dijaga dan diwariskan melalui pendidikan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa pendidikan adalah suatu alat yang dapat menjaga kelestarian budaya. Melalui pendidikan suatu bangsa akan mampu mengaktualkan nilai budaya bangsanya, karena kebudayaan adalah satu dinamia hidup suatu bangsa. Kebudayaan harus selalu actual dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
6. Beberapa Acuan Untuk Membaca “Ikatan Budaya” dan “Nasionalisme Indonesia” Melalui Perspektif Regional atau Kedaerahan oleh Drs. Soewarsono, MA
Nasionalisme Indonesia
Menurut Castles, Nasionalisme Indonesia menyadari adanya perbedaan kebudayaan di antara kelompok-kelompok etnik atau suku-suku bangsa, tetapi juga tidak pernah menekankan kesamaan kebudayaan sebagai sebuah bangsa. Oleh karena itu, kesadaran nasional Indonesia merupakan perkembangan baru, sama seperti kesadaran suku bangsa yang muncul akhir-akhir ini seperti pada kasus Tapanuli Utara.
Nasionalisme Indonesia secara sederhana ada kaitannya denganpenemuan kata “Indonesia”. Tanpa kata “Indonesia”, maka tidak ada Nasional Indonesia. Begitulah saya mengartikan nasioanlisme Indonesia.
7. Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Perspektif Islam dan Ketahanan Budaya oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, Mphil.
Sesungguhnya islam, baik secara normatif maupun historis tidak memiliki masalah yang signifikan dengan nasionalisme. Hal ini dikarenakan islam tidak pernah mempertentangkan ke-Islam-an (keimanan) maupun etnik.
Karakter penyebaran islam yang berlangsung damai di Indonesia sejak akhir abad ke-12 melibatkan lebih banyak proses akomodasi islam terhadap kepercayaan dan budaya local yang begitu beragam di Indonesia, sehingga islam berpadu dan bahkan menjadi ‘part and parcel’ tradisi budaya local dari satu daerah atau etnisitas ke daerah dan etnisitas lain.
The End of Ideology?
Kesimpulan Bell yang secara implicit menyatakan bahwa nasionalisme, sebagai ideology telah berakhir adalah kekeliruan fatal dan distortif. Pendapat Bell justru bertolak dengan belakang perkembangan yang ada. Ringkasnya, menurut Bell, ketika ideologi-ideologi intelektual lama abad ke-19 khususnya Marxisme telah exhausted (kehabisan tenaga, lumpuh) dalam masyarakat barat, terutama Eropa Barat dan Amerika, ideologi-ideologi “baru” semacam industrialisasi, Pan-Arabisme, warna kulit (etnisitas), dan nasionalisme justru menemukan momentumnya, khususnya di Negara-negara yang baru bangkit di Asia Afrika sesuai Perang Dunia II.
Tiga Fase Nasionalisme
1) Fase Pertama, pertumbuhan awal dan kristalisasi gagasan nasionalisme. Fase ini ditandai penyerapan gagasan nasionalisme yang selanjutnya diikuti pembentukan organisasi-organisasi yang disebut Benda dan McVey atau Hobsbawm sebagai “proto-nasionalisme”.
2) Fase Kedua, seperti bisa diduga nasionalisme sangat sarat dengan muatan politis ketimbang sosial dan kultural. Tema pokok nasionalisme di sini adalah apa yang disebut pemimpin nasionalis. Semacam Soekarno, sebagai ‘nation and character building’, yakni memupuk keutuhan dan integritas Negara dan bangsa yang akan segera terwujud, sebagaimana dijanjikan Jepang.
3) Fase Ketiga, nasionalisme tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dalam konteks regional Asia Tenggara, bahkan dalam hubungannya dengan dunia internasional lebih luas.
Nasionalisme, Etnisitas dan Agama
Pengalaman historis Indonesia dengan nasionalisme, khususnya dalam hubungan dengan etnisitas dan agama, sangat kompleks. Kompleksitas itu tidak hanya disebabkan perbedaan-perbedaan pengalaman historis dalam proses pertumbuhan nasionalisme, tetapi juga oleh realitas Indonesia yang sangat pluralistik, baik secara etnik maupun agama. Peta etnografis Indonesia sangat kompleks, antara lain sebagai hasil dari tipografi kawasan ini. Indonesia di huni oleh kelompok-kelompok etnik dalam jumlaah yang besar yang selain mempunyai banyak kesamaan fisik-biologis, juga memiliki perbedaan-perbedaan linguistik dan kultural yang cukup subtansial.
Meskipun demikian, dalam pertumbuhan nasionalisme di Indonesia umumnya, etnisitas dapat dikatakan tidak pernah sempat mengalami kristalisasi menjadi dasar nasionalisme. Terdapat beberapa factor yang menghalangi sentiment etnisitas tersebut. Yang terpenting diantara faktor-faktor itu adalah agama dan kesadarantentang pengalaman kesejarahan yang sama.
Revitalisasi Nasionalisme: Kebangkitan Nasional Kedua
Di tengah arus globalisasi yang terus meningkat, memang nasionalisme perlu revitalisasi kembali digelorakan setiap anak bangsa; sehingga Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi sekaligus lebih berjaya di dalam maupun di luar dalam percaturan internasional. Hanya dengan menggelorakan nasionalisme, semangat Ke-indonesia-an, kita boleh berfikir tentang Kebangkitan Nasional kedua dalam masa-masa millennium Kedua Kebangkitan Nasional Negara-bangsa Indonesia.
8. Ikatan Budaya, Nasionalisme Indonesia, dan “Ketahanan Budaya” di Tengah Dinamika Globalisasi dengan Desentralisasi: Suatu Kajian Sosiologis oleh Francisia SSE Seda, Ph,D.
Nasionalisme dan Negara-Bangsa
Secara konseptual Nasionalisme dan Negara-Bangsa merupakan konstruk teoritis yang baru beberapa abad lalu dikembangkan sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan Negara-bangasa memasuki era modern. Di Negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, konsep nasionalisme dan Negara-bangsa merupakan perkembangan yang terjadi sekitar seabad lamanya, tepatnya sejak abad ke-20 yang ditandai dengan berdirinya berbagai organisasi pergerakan dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan dari kekuatan kolonial belanda. Konstruk ilmiah mengenai nasionalisme dan Negara-bangsa merupakan konstruk teoritis yang berorientasi pada peran Negara. Negara sebagai strutur dan Negara sebagai actor secara sosiologis mendominasi berbagai diskursus ilmiah mengenai kehidupan publik.
Permasalahan konseptual adalah bahwa selama nasionalisme senantiasa dikaitkan dengan Negara-bangsa, maka perimbangan kekuatan di dalam hubungan triangular antara Negara-bangsa, pasar, dan komunitas, karena dimaknai sebagai sebuah ancaman bagi keberadaan nasionalisme.
Nasionalisme Negara-Bangsa di tengah Tarik-Menarik antara Pasar Global dengan Komunitas Lokal
Negara-bangsa dan nasionalisme merupakan konstruk sejarah yang lahir dan berkembang pada masa periode historis tertentu di dalam era modern. Khusus untuk Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Negara-bangsa dan nasionalisme sangat erat hubungannya dengan kolonialisme Belanda. Perjuangan pada masa Kebangkitan Nasional dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia telah melahirkan dan mengembangkan nasionalisme yang diakaitkan dengan Negara-bangsa Indonesia.
Pada saat ini pasar yang dibantu oleh proses globalisasi pada tataran global dengan komunitas yang dibantu oleh proses otonomi daerah pada tataran lokal berada di dalam proses tarik-menarik tanpa terlalu memperhatikan mediasi Negara-bangsa, meskipun Negara bangsa masih tetap mempunyai peranan yang berarti.
Tuesday, March 31, 2015
Saturday, March 28, 2015
REVIEW BUKU KOENTJARANINGRAT “KEBUDAYAAN MENTALITET DAN PEMBANGUNAN”
Dalam Buku Kebudayaan Mentalitet dan
Pembangunan (Koentjaraningrat) yang di terbitkan pada tahun 1974, dikuak
tentang perhatian yang besar terhadap terhadap masalah-masalah kebudayaan dan
pembangunan dalam kalangan yang luas, terutama di indoensia yang digali
kemudian dihadapkan pada suatu penarikan asumsi dan kesimpulan tentang hal
tersebut.
Semua aktivitet kebudayaan itu berfungsi
untuk memenuhi suatu rangkaian hasrat naluri dari manusia, B. Malinowski dalam
Koentjaraningrat (1987: 28).
Apa
sebenarnya isi kebudayaan? Dalam bagian ini Koentjaraningrat (1974: 11-14)
mengatakan tentang ini yang intinya kebudayaan dalam arti terbatas ialah
pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan.
Dengan singkat kebudayaan adalah kesenian. Kebudayaan dalam arti luas yaitu
seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar
kepada nalurinya dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah
suatu proses belajar. Guna keperluan analisa konsep kebudayaan itu perlu
dipecah lagi ke dalam unsur-unsurnya. Pertama yaitu unsur kebudayaan yang
universal, yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia
ini adalah:
1.
System religi dan upacara keagamaan
2.
System dan organisasi kemasyarakatan
3.
System pengetahuan
4.
Bahasa
5.
Kesenian
6.
System mata pencaharian hidup
7.
System teknologi dan peralatan.
Bagaimankah kebudayaan itu berwujud?
Dalam bagian ini Koentjaraningrat (1974:
15-18) mengambarkan kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu: Pertama, wujud ideel yaitu berupa
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainnya. Wujud kebudayaan
ini sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto, karena ada di dalam kepala
atau dalam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu
hidup. Kebudayaan ideel ini dapat kita sebut adat tata kelakuan yang secara
singkat adat adan dalam arti khusus adat istiadat dalam bentuk jamaknya. Di
mana hal ini bermaksud menunjukan bahwa kebudayaan ideel itu biasannya juga
berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendali, dan member arah
kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Kedua, wujud kelakuan yang dikenal sebagai system sosial, mengenai
kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. System sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu
sama lain dari waktu ke waktu, selalu menurut pola-pola tertentu yang
berdasarkan adat tata kelakuan. Maka system sosial itu bersifat kongkret,
terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan
didokumentasi. Ketiga, wujud fisik
atau kebudayaan fisik, dan tak perlu banyak keterangan. Karena berupa seluruh
total dari dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia
dalam masyarakat, maka sifatnya paling kongkret, dan berupa benda-benda atau
hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.
Ketiga wujud dari kebudayaan terurai di
atas, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tentu tidak terpisahsatu dengan
lain. Kebudayaan ideel dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada
perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan idee-idee, maupun
perbutan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan fisiknya.
Sebaliknya, kebudayaan fisik itu membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang
makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, sehingga
mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga mempengaruhi cara
berpikirnya.
Apakah beda antara adat, kebudayaan dan
peradaban? Koentjaraningrat (1974: 19-22) menggambarkan bahwa kata kebudayaan
berasal dari kata Sanskerta buddayah,
ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Demikian
kebudayaan itu dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal dan budi.
Ada pendirian lain mengenai arti “kebudayaan”, bahwa kata itu adalah suatu
perkembangan dari majemuk budi-daya,
artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Adapun istilah Inggrisnya berasal
dari kata latin colere yang berarti
“mengolah, mengerjakan” terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini
berkembang arti culture, sebagai
segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Dengan demikian, kebudayaan
berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan
belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu.
Kata peradaban dapat kita sejajarkan
dengan kata asing civilization. Istilah itu biasanya dipakai untuk bagian-bagian
dan unsure-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu
pengetahuan, serta sopan santun dan system pergaulan yang kompleks dalam suatu
masyarakat dengan struktur yang kompleks. Sering juga istilah peradaban dipakai
untuk menyebut suatau kebudayaan yang mempunyai system teknologi, seni
bangunan, seni rupa, system kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan
kompleks.
Perbedaan antara adat dan kebudayaan itu
ialah persoalan lain, dan bersangkutan dengan konsepsi bahwa kebudayaan itu
mempunyai tiga wujud. Adat adalah wujud ideel dari kebudayaan, yang secara
lengkap wujud itu dapat kita sebut adat tata kelakuan, karena adat itu
berfungsi sebagai pengaturan kelakuan. Adat dapat dibagi lebih khusus dalam
empat tingkatan, ialah (a) tingkat nilai budaya, (b) tingkat norma-norma, (c)
tingkat hokum, dan (d) tingkat aturan khusus. Esensinya adat adalah bagian
ideel dari kebudayaan.
Apakah pranata kebudayaan? Koentjaraningrat
(1974: 23-26) mengatakan pranata atau institution itu mengenai kelakuan berpola
dari manusia dalam kebudayaannya. Pranata atau institution ialah system norma
dan tatakelakuannya (wujud pertama dari kebudayaan) dan peralatannya (wujud
ketiga dari kebudayaan), ditambah dengan manusia atau personel yang
melaksanakan kelakuan berpola.
Apakah
beda antara adat dan hokum adat?
Adat merupakan wujud ideel dari
kebudayaan yang berfungsi sebagai tata kelakuan. Batasan mengenai adat dan
hokum adat banyak dipikirkan oleh ahli antropologi, tetapi justru tidak
dipikirkan oleh para ahli hokum adat Indonesia. Tentang batas antara adat dan
hokum adat, yang singkatnya terurai sebagai berikut: Hukum adalah suatu
aktivitet di dalam rangka suatu kebudayaan mempunyai fungsi pengawasan sosial. Untuk
membedakan suatu aktivitet itu dari aktivitet kebudayaan lain yang mempunyai
fungsi serupa dalam suatu masyarakat, seorang peneliti harus mencari akan
adanya empat cirri dari hokum, atau attributes
of law. Attribute yang pertama disebut attribute
of authority atau atribut otoritet menentukan bahwa aktivitet kebudayaan
yang disebut hokum itu adalah keputusan-keputusan melalui suatu mekanisme yang
diberi kuasa dan pengaruh dalam masyarakat. Attribute yang kedua disebut
attribute of intention of universal application, di mana atribut ini menentukan
bahwa keputusan-keputusan dari pihak yang berkuasa itu harus dimaksudkan
sebagai keputusan yang mempunyai jangka waktu panjang dan harus dianggap berlaku
jga terhadap peristiwa-peristiwa yang serupa dalam masa yang akan datang.
Attribute yang ketiga disebut attribute of obligation. Atribut ini menentukan
bahwa keputusan-keputusan dari pemegang kuasa itu harus mengandung perumusan
dari kewajibannya pihak ke satu terhadap pihak ke dua, tetapi juga hak dari
pihak ke dua yang harus dipenuhi oleh pihak ke satu. Attribute yang ke empat
disebut attribute of sanction, dan menentukan bahwa keputusan-keputusan dari
pihak berkuasa itu harus dikuatkan dengan sanksi dalam arti seluas-luasnya. Sanksi
tersebut bisa berupa sanksi jasmani dan juga sanksi rohani.
Apakah
system nilai-budaya?
Suatu
system nilai-budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam
pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka
anggap amat bernilai dalam hidup. Suatu system nilai-budaya biasanya berfungsi
sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Aturan-aturan khusus, hokum
dan norma-norma, semuanya berpedoman kepada system nilai-budaya.
Menurut
kerangka Kluckhohn, semua system nilai-budaya dalam semua kebudayaan di dunia
itu, sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia, yakni: (1)
Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (selanjutnya disingkat MH), (2)
Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (selanjutnya disingkat MK), (3)
masalah menegenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (selanjutnya
disingkat MW), (4) Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam
sekitarnta (selanjutnya disingkat MA), (5) Masalah menegenai hakekat dari
hubungan manusia dengan sesamanya (selanjutnya disingkat MM).
Apakah
mentalitet pembangunan?
Suatu
bangsa yang hendak mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus berusaha agar
banyak dari warganya lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan dan demikian
bersifat hemat untuk bisa lebih teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan.
Lebih menilai tinggi hasrat ekplorasi untuk mempertinggi kapasitas berinovasi.
Lebih menilai tinggi mentalitet berusaha atas kemampuan sendiri, percaya kepada
diri sendiri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab sendiri.
Apakah
kelemahan mentalitet kita untuk pembangunan?
Dalam
hal membicarakan kelemahan-kelemahan dalam mentalitet kita untuk pembangunan,
perlu dibedakan antara dua hal, ialah (1) konsepsi-konsepsi,
pandangan-pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan kita, yang sudah lama,
mengendap dalam alam pikiran kita, karena terpengaruh atau sumber kepada system
nilai-budaya kita sejak beberapa generasi yang lalu; dan (2) konsepsi-konsepsi,
pandangan-pandangan dan sikap mental tehadap lingkungan kita, yang baru timbul
sejak jaman revolusi, dan yang sebenarnya tidak bersumber pada system
nilai-budaya kita. Bagian ini akan lebih memfokus dahulu terhadap hal yang
tersebut pertama dan di dalam hal itu akan dipergunakan kerangka Kluckhon
mengenai masalah-masalah pokok dalam hidup yang menjadi orientasi dari system
nilai budaya manusia, ialah kerangka MH-MK-MW-MA-MM, yang telah diuraikan
sebelumnya.
Apakah
kelemahan mentalitet kita yang timbul sesudah revolusi?
Keberantakan
ekonomi berjalan sejajar dengan kemunduran-kemunduran dalam sector-sektor
kehidupan sosial budaya yang lain, seperti krisis otoritet, kemacetan
administrasi, dan korupsi menyeluruh, sudah kita alami semuanya. Sifat-sifat
kelemahan tersebut, yang bersumber pada kehidupan penuh keragu-raguan dan
kehidupan tanpa pedoman dan tanpa orientasi yang tegas itu adalah: (a) sifat
mentalitet yang meremehkan mutu, (b) sifat mentalitet yang suka menerabas, (c)
sifat tak percaya kepada diri sendiri, (d) sifat tak berdisiplin murni, (e)
sifat mentalitet yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.
Apakah
orientasi vertical itu cocok dengan pembangunan?
Hal
ini erat kaitannya dengan sifat kelemahan dari mentalitet untuk pembagunan,
baik yang sudah ada sejak lama dalam system nilai budaya kita yang tradisionel
maupun yang baru timbul dalam zaman sesudah revolusi. Diantara sifat-sifat
tersebut terakhir ini ada tiga sifat yang walaupun merupakan suatu sifat
post-revolusi, toh dapat dikembalikan juga pada suatu nilai-budaya yang
tradisonel dalam adat istiadat kita, ialah-nilai-nilai budaya yang terlampau
banyak terorientasi vertical terhadap orang-orang pembesar, orang-orang
berpangkat tinggi, dan orang-orang tua senior. Kecuali itu ketiga sifat
kelemahan itu adalah: (1) sifat tak percaya kepada diri sendiri, (2) sifat tak
berdisiplin murni, dan (3) sifat mentalitet yang suka mengabaikan tanggung
jawab sendiri.
Apakah
gotong royong itu sebenarnya?
Konsep
gotong royong tolong menolong, yang mula-mula hanya berwujud, sebagai suatu
system pengerahan tenaga tambahan pada masa-masa sibuk dalam produksi bercocok
tanam, sebagai suatu system tolong menolong antara tetangga dan karabat dalam
kesibukan-kesibukan berpesta dan kesibukan-kesibukan berhubungan dengan adanya
kematian dan bencana, dijadikan satu dengan system rodi. Rupanya dalam sejarah
mulai waktu Panitya Persiapan Kemerdekaan dalam jaman Jepang, mengangkat konsep
itu menjadi suatu unsure yang amat penting dalam rangkaian prinsip-prinsip
dasar dari Negara kita.
Apakah
nilai gotong royong itu menghambat pembangunan?
Terlebih
dahulu harus dipertajam konsep “nilai gotong royong”, nilai itu yang merupakan
latar belakang dari segala aktivitet tolong menolong antara warga sedesa. Nilai
itu dalam system nilai budaya orang Indonesia mengandung empat konsep, yaitu:
(1) Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilingkungi oleh
komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. (2) Manusia pada
hakekatnya bergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya. (3)
Manusia harus selalu berusaha sedapat untuk mungkin memelihara hubungan baik
dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata-sama-rasa, dan (4) selalu
berusaha untuk sedapat mungkin bersifat conform, berbuat sama dan bersama
dengan sesamanya dalam komuniti, terdorong oleh jiwa sama-tinggi-sama-rendah. Dengan
demikian, gotong royong menurut hemat saya tidak menghambat pembangunan kecuali
tema kedua, kalau tema itu terlampau banyak berkembang ke arah suatu mentalitet
yang terlampau terorientasi terhadap nasib, dan tema ke empat, ialah tema
sama-tinggi-sama-rendah tadi. Dengan singkat apa yang bisa kita ambil dari
gotong royong untuk pembangunan kita sekarang ini adalah terutama semangatnya.
Adakah
nilai tradisionel yang bisa mendorong pembangunan?
Nilai
tradisional yang bermuara dari sifat-sifat mental yang kita perlukan untuk
untuk mempertinggi kapasitas membengun kita, ialah nilai: nilai yang
berorientasi terhadap achievement dari karya, nilai yang mementingkan
eksplorasi, sifat hemat, dan jiwa bersaing. Mengenai sifat-sifat mental
tersebut terakhir ini, tidak ada masalah merobah nilai-nilai, tetapi
mempelajari nilai-nilai baru; jadi bukan so’al afleren melainkan soal aanleren.
Bagaimanakah
caranya membina mentalitet pembangunan?
Menurut
hemat saya ada empat jalan untuk membina mentalitet pembangunan, yakni: (1)
dengan memberi contoh yang baik, (2) dengan memberi perangsang-perangsang yang
cocok, (3) dengan persuasi dan penerangan; dan (4) dengan pembinaan dan
pengasuhan suatu generasi yang baru untuk masa yang akan datang sejak kecil
dalam kalangan keluarga. Tentu akan timbul pertanyaan “Apakah kita baru bisa
mulai membangun kalau mentalitet dari suatu bagian besar dari rakyat Indonesia
itu sudah berjiwa pembangunan? Jawabannya kita tidak usah menunggu, dan harus
mulai membangun dengan penuh kegigihan. Pasti beberapa dari sifat mentalitet
yang lemah itu akan terseret ikut terbangun, tetapi toh saya yakin bahwa tak
dapat kita menunggu pasif sampai sifat-sifat mentalitet dan jiwa pembangunan
itu akan timbul dan tumbuh sendiri. Usaha untuk merobah dan mebina mentalitet
baru harus dijalankan simultan dengan usaha pembangunan itu sendiri, sehingga
menjadi suatu usaha penjang pembangunan yang penting.
Apakah
artinya partisipasi rakyat dalam pembangunan?
Rakyat
diajak, dipersuai, diperintahkan, atau dipaksa oleh wakil-wakil untuk
menyumbangkan tenaga atau hartanya kepada proyek-proyek pembangunan yang
khusus, yang biasanya bersifat fisik atau bisa juga atas keinginan dan
kesadaran sendiri. Kesadaran untuk ikut serta itu akan timbul biasanya bisanya
atas keyakinan rakyat bahwa proyek itu akan bermanfaat baginya, maka mereka
akan berpartisipasi dengan semangat dan spontanitet yang benar, tanpa
mengharapkan upah tinggi. Partisipasi rakyat terutama rakyat pedesaan, dalam
pembangunan itu sebenarnya menyangkut dua tipe yang pada prinsipnya berbeda,
ialah: (1) Partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek-proyek
pembangunan yang khusus, (2) Partisipasi sebagai individu di luar
aktivitas-aktivitas bersama dalam pembangunan.
Apakah
sebenarnya tujuan pembangunan kita?
Konsep
kongkret untuk tujuan kita semua bersama secara nasional sebenarnya belum ada,
mengingat sebagai individu yang menjadi anggota suatu golongan masyarakat atau
warga suatu suku-bangsa tertentu, dengan gaya hidup, struktur masyarakat dan
latar belakang kebudayaan yang khas. Banyak diantara kita masing-masing sudah
mempunyai bayangan dan cita-cita kita sendiri-sendiri mengenai soal apakah dan
bagaimanakah masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Memang sudah baik jalan
yang kita tempuh sekarang. Keadaan Negara kita sudah terlampau parah, ekonomi
sudah terlampau berantakan, rakyat sudah terlampau menderita, maka pokonya kita
mulai saja menstabilisasi dan membangun dahulu, soal perumusan tujuan secara
seksam itu soal nanti. Sambil berjalan kita mencari pengalaman belajar dan
mencontoh dari proses-proses pembangunan di Negara-negara lain yang sedang
berkembang di sekeliling kita. Sambil membangun tiap kali kita mawas diri dan
selalu sanggup mengadakan koreksi-koreksi bilamana perlu.
Apakah
kita bisa meniru pembangunan jepang?
Dalam
usaha ekonomi pada umumnya, factor kesempatan adalah sangat penting untuk dapat
maju. Di samping itu kebudayaan juga memiliki pengaruh yang amat kuat. Demikian
halnya dengan kebudayaan Jepang yang belum ada dalam kebudayaan Indonesia,
sedangkan suatu persentase orang Jepang mempunyai sifat-sifat yang jelas belum
dimiliki oleh suatu persentase besar orang Indonesia. Sifat-sifat itu adalah:
(1) Keseragaman yang amat besar dari kebudayaan Jepang; (2) Pendorong
psykologis yang memeberi motivasi kepada orang Jepang untuk membangun satu abad
yang lalu; (3) Kesiapan-kesiapan mental orang Jepang pada saat pembangunan
dimulai, terutama sifat hemat mereka; (4) Sistem hokum adat waris dalam
masyarakat Jepang amat cocok untuk memecahkan masalah tenaga kerja pada
permulaan pembangunan; (5) Agama Shinto yang amat mendorong kegiatan manusia
dalam dunia yang fana ini amat cocok untuk pembangunan.
Mengapakah
orang Jepang menganggap kita bermoral lemah?
Negara-negara
maju seperti Jepang mempunyai pendirian bahwa bangsa-bangsa yang sedang
berkembang itu sukar untuk dijadikan partner karena mentalitetnya yang belum
cocok untuk irama kehidupan modern yang sekarang menjadi landasan kehidupan
Negara-negara maju. Seorang berkebangsaan Jepang yang mempunyai pengetahuan
cukup luas tentang Indonesia pernah mengucapkan kata-kata sebagai berikut: “
Banyak orang Indonesia lemah dalah hal moral”, yang dimaksud dengan kata
“moral” dalah hal itu berbeda isinya dengan dengan apa yang biasa kita
asosiasikan dengan istilah itu. Menurut orang Jepang faham “moral” mengandung
unsur-unsur sebagai berikut: (a) bertanggung jawab sampai sejauh-jauhnya kalau
perlu dengan mengorbankan diri sendiri terhadap suau tugas yang telah disanggupi;
(b) loyalitet mutlak terhadap kesatuan sosial yang sudah dipilih untuk diikuti.
Apakah
benar bahwa orang Jepang itu bersifat hemat?
Sifat
hemat orang Jepang memang tampak pada beberapa hal dalam kehidupan
sehari-harinya. Menyebut seorang Jepang “pemboros” merupakan penghinaan amat
besar yang akan dapat menimbulkan reaksi yang agresif, sebaliknya apabila orang
Indonesia disebur “pemboros” ia jrang akan benar-benar marah. Pujian yang
menyatakan kekaguman akan sifat mahal dari suatu barang milik seorang Jepang
akan membuatnya malu secara murni (bukan malu yang dibuat-buat). Seorang
Indonesia teutama masa kini sungguh akan pusa hatinya apabila kita kagumi
kemewahan rumahnya dan cahaya gemerlapan dari perhiasan isterinya.
Orang
Jepang memang tak bisa tidak, pada dasarnya harus bersifat hemat; kalau tidak
tak mungkin mereka dapat membangun ekonomi mereka seabad yang lalu dengan
kekuatan sendiri, dengan bantuan modal asing secara minimal sekali. Menurut
keterangan seorang ahli ekonomi Jepang Dr, Shinichi Ichimura kecuali sikap
mentalnya yang menilai tinggi sifat hemat itu, bangsa Japang juga dapat
mengakumulasi modal yang demikian besarnya itu karena system dan pola-pola
pembayaran gaji, upah, dan bonus dalam kombinasi dengan adat orang Jepang
umumnya untuk secara mantap tetap tinggal dalam satu jabatan secara kontinu
selama hidupnya. Hal itu adalah apa yang disebut pola senioritet dalam sitem
pembayaran gaji.
Apakah
kebudayaan nasional Indonesia?
Kebudayaan
nasional Indonesia itu kita dasarkan atas konsepsi sifat khas dan mutu tinggi
tadi, maka soal hubungan antara kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Yang
sering menjadi bahan perbincangan orang dari dulu pada jaman pergerakan
nasional sampai sekarang itu menjadi tak penting lagi. Lepas dari soal daerah,
maka tiap hasil karya putra Indonesia dari sukubangsa maupun asalnya, pokonya
asal khas dan bermutu saja, sedemikian rupa sehingga sebagian besar orang
Indonesia mau dan bisa mengidentifikaiskan diri dan merasa bnagga dengan karya
tadi, maka itulah kebudayaan nasional
Indonesia.
Bidang-bidang
kesenian manakah memberi isi kepada kebudayaan nasional?menyangkut usaha
mengembangkan kesenian nasional Indonesia, amat perlu untuk bisa mengetahui
ruang lingkup dari kesenian itu agar bisa diketahui rung lingkup dari usaha
mengembangkan kesenian itu. Semua bidang yang termasuk dalam ruang lingkup
kesenian itu, yakni: Seni Rupa, di mana memuat seni bangunan, seni patung, seni
relief, seni lukis (“gambar), seni rias, seni kerajinan, dan seni olah raga.
Selanjutnya yaitu Seni Suara. Di mana memuat seni vocal, seni instrumental, dan
seni sastra, seni sastra itupun terdiri atas puisa dan prosa. Selanjutnya yaitu
Seni Tari, di mana memuat seni drama (termasuk seni pedalangan dan seni film).
Apakah
kepribadian menurut suatu konsepsi non-barat?
Dalam
konsep Jen di kebudayaan Cina. Manusia
yang selaras dan berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan
hubungan antara diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya, terutama
lingkungan sekitanya yang paling dekat dan paling serius, kepada siap ia dapat
mencurahkan rasa cinta, kemesraan dan baktinya. Jen adalah “manusia yang berjiwa selaras, manusia yang
berkepribadian”. Hal ini untuk mendapatkan suatu pengertian mengenai alam jiwa
manusia Indonesia, tetapi juga untuk mengerti perbedaan antara pandangan hidup
manusia barat dan manusia timur. Konsep tammbahan dari Hsu mengenai “alam jiea
manusia yang selaras” itu, menurut hemat saya merupakan konsep psykollogis yang
amat penting.
Apakah
perbedaan antara manusia barat dan timur menurut konsepsi Hsu?
Dalam
kenyataanya beberapa kebudayaan suku-bangsa di Indonesia (yang dapat
digolongkan kedalam “Kebudayaan Timur”) memang mementingkan upacara-upacara
adat, yang bersifat religi, penuh dengan unsure-unsur prelogis, mementingkan
diskusi-diskusi tentang kebatinan; dan mementingkan mistik. Orang Indonesia
memang tidak suka berusaha dengan sengaja, dengan gigih dan tekun, agar dapat
mencapai suatu tujuan materiel, tetapi hal itu tak berarti bahwa mereka tidak
mementingkan materi. Sebaliknya, sukar juga untuk menyatakan bahwa kebudayaan
barat tidak mementingkan kehidupan rohaniah. Ilmu pengetahuan (suatu usaha
rohaniah yang yang paling berhasil dalam sejarah umat manusia) berkembang
terutama dalam rangka Kebudayaan Barat. Dalam Kebudayaan Barat dikembangkan
konsepsi nilai yang amat tinggi, dan merupakan tema pokok dari nilai
individualisme. Ialah konsepsi bahwa manusia yang sejatinya adalah manusia yang
bisa mencapai sesuatu hal samasekali atas kemampuannya sendiri. Bagi manusia
barat yang sejati, itulah tugas hidupnya yang harus dilakukan pada saat ia
merasa dirinya dewasa.
Apakah
modernisasi itu berarti westernisasi?
Modernisasi
itu bukanlah westernisasi, hal itu di sebabkan karena kekuatan-kekuatan yang
menentukan konstelasi dunia sekarang ini bukan hanya dunia barat, tetapi suatu
kombinasi dari paling sedikit empat kekuatan. Maka kalau kita tak mau hanya
menjadi satelit dari salah satu dari keempat kekuatan itu, kita harus berusaha
menjaga sifat kekhususan kita; sama seperti nenek moyang kita di jaman
Sriwijaya, yang dalam usaha “modenisasi” mereka, menjaga kekhususan mereka dan
tidak menjadi orang india, dan sama seperti orang Vietnam zaman dahulu, yang
dalam usaha “modernisasi” mereka, menjaga kekhususan mereka dan tidak menjadi
orang Cina.
Apakah
beda antara agama, religi dan kepercayaan?
Religi
memang meruakan bagian dari kebudayaan, hal ini disengajakan untuk menghindari
istilah “agama” dan memakai istilah yang lebih netral “religi”. Ada pendirian
yang mengatakan bahwa suatu sitem religi merupakan suatu agama, hanya bagi
penganutnya. Ada juga pendirian lain bahwa agama adalah semua system religi
yang secara resmi diakui oleh Negara kita.
Religi
merupakan suatu system yeng terdiri dari emosi keagamaan yang menyeebabkan
manusia menjadi religious, system kepercayaan yang mengandung keyakinan serta
bayangan-bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan serta tentang wujud dari
alam gaib (supernatural), system upacara religieus yang bertujuan mencari
hubungan manusia dengan Tuhan, dewa-dewa, atau makhluk halus yang mendiami alam
gaib, dan kelompok-kelompok religious atau kesatuan-kesatuan sosial yang
menganut system kepercayaan. System kepercayaan dalam suatu religi dijiwai oleh
emosi keagamaan, tetapi sebaliknyaemosi keagamaan juga bisa terpengaruh oleh
system kepercayaan.
Subscribe to:
Comments (Atom)