Alhamdulillahirobbil alamin...
habis menunaikan ibadah terasa nyaman alam pikir teringat sore tadi akan kebahagiaan serta keceriaan anak-anak penerus bangsa memainkan bola,,, suasana riang dihalaman masjid dengan tumpukan batu pafing
lucu-lucu sampe ku tertawa sendiri melihat mereka, duhai otak kanan yang masih mereka gunakan dengan baik tak seperti punyaku yang telah terkontruk oleh dunia pendidikan di negara ini,
semakin ku belajar dengan strata kedua ini otakku tak bisa bebas dalam berfikir semua harus sesuai dengan aturan, kurikulum gaya kerja guru kita dan lain sebagainya yang menurutku cukup membosankan..
anganku dalam dunia mimpi kapan yah bangsaku akan dapat bersaing dengan bangsa maju yang lain seperti cina, amerika, inggris dll...
to be continue..
Saturday, February 20, 2016
Syari’at, Tarekat, dan Ma’rifat Sunan Kalijaga
Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba yang menekuni ajaran tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebut sebagai As-Sa’adah menurut Al-Ghazali Insanul Kamil oleh Muhyiddin bin ‘Arabiy dan Sangkan Paran (asal dan kembalinya manusia) menurut Sunan Kalijaga. Diantara tahapan itu adalah Syari’at, Tharikat, dan Makrifat. Dari beberapa tahapan tersebut secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.Syari’at
Syari’at adalah hukum-hukum yang telah oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang telah ditetapkan oleh nash al-Qur’an maupun as-Sunnah atau dengan cara istimbat, yaitu hukum-hukum yang telah diterangkan dalam ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, dan ilmu Tasawuf. Isi syari’at mencakup segala macam perintah dan larangan dari Allah SWT. Perintah-perintah itu disebut sebagai istilah ma’ruf yang meliputi perbuatan yang hukumnya wajib atau fardlu, sunat, mubah, atau kebolehan. Sedangkan larangan-larangan Allah SWT disebut dengan munkarat meliputi perbuatan yang hukumnya haram dan makruh. Baik yang ma’ruf maupun munkarat sudah ada petunjuknya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sedangkan hukum-hukum yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang ditetapkan para fuqaha yang menyangkut ibadah mahdhah (murni) dan ibadah ghairu mahdhah atau yang sering disebut dengan muamalah (ibadah umum), hukum-hukum yang ditetapkan oleh Ulama Mutakallimin (ahli ilmu Tauhid/teolog) yang mengikuti iman kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, iman terhadap hari akhir serta qadha dan qadar dari Allah SWT yang diwujudkan dengan bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam perbuatan ma’ruf yang mengandung hukum wajib, sunnah, dan mubah. Begitu juga hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh ulama tasawuf yang meliputi sikap dan perilaku manusia yang berusaha membersihkan dirinya dari hadast dan najis lahir serta maksiat yang nyata dengan istilah Takhalli. Lalu berusaha melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan kebaikan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan terpuji dengan istilah Al-Tahalli.
Mengenai pengalaman syari’at Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung yang merupakan salah satu kitab Sunan Kalijaga yang beberapa saat sebelum wafatnya. Di dalam Suluk Seh Malaya dan Suluk Linglung Seh Malaya, sunan kalijaga telah menyinggung pentingnya shalat dan Ibadah Haji dengan tertib dan sungguh-sungguh seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Semisal untuk memahami makna shalat dan sembahyang yang diajarkan Sunan Bonang kepada muridnya Sunan Kalijaga, marilah kita lihat salah satu bait tembang dalam Suluk Wujil sebagai berikut:
“Utamaning sarira puniki
angawruhana jatining salat
sembah lawan pujiné
jatining salat iku
dudu ngisa tuwin magerib
sembahyang aranéka
wenangé puniku
lamun aranana salat
pan minangka kekembanging
salat daim ingaran tata krama//”
Syari’at adalah hukum-hukum yang telah oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang telah ditetapkan oleh nash al-Qur’an maupun as-Sunnah atau dengan cara istimbat, yaitu hukum-hukum yang telah diterangkan dalam ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, dan ilmu Tasawuf. Isi syari’at mencakup segala macam perintah dan larangan dari Allah SWT. Perintah-perintah itu disebut sebagai istilah ma’ruf yang meliputi perbuatan yang hukumnya wajib atau fardlu, sunat, mubah, atau kebolehan. Sedangkan larangan-larangan Allah SWT disebut dengan munkarat meliputi perbuatan yang hukumnya haram dan makruh. Baik yang ma’ruf maupun munkarat sudah ada petunjuknya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Sedangkan hukum-hukum yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang ditetapkan para fuqaha yang menyangkut ibadah mahdhah (murni) dan ibadah ghairu mahdhah atau yang sering disebut dengan muamalah (ibadah umum), hukum-hukum yang ditetapkan oleh Ulama Mutakallimin (ahli ilmu Tauhid/teolog) yang mengikuti iman kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, iman terhadap hari akhir serta qadha dan qadar dari Allah SWT yang diwujudkan dengan bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam perbuatan ma’ruf yang mengandung hukum wajib, sunnah, dan mubah. Begitu juga hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh ulama tasawuf yang meliputi sikap dan perilaku manusia yang berusaha membersihkan dirinya dari hadast dan najis lahir serta maksiat yang nyata dengan istilah Takhalli. Lalu berusaha melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan kebaikan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan terpuji dengan istilah Al-Tahalli.
Mengenai pengalaman syari’at Sunan Kalijaga di dalam kitab Suluk Linglung yang merupakan salah satu kitab Sunan Kalijaga yang beberapa saat sebelum wafatnya. Di dalam Suluk Seh Malaya dan Suluk Linglung Seh Malaya, sunan kalijaga telah menyinggung pentingnya shalat dan Ibadah Haji dengan tertib dan sungguh-sungguh seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Semisal untuk memahami makna shalat dan sembahyang yang diajarkan Sunan Bonang kepada muridnya Sunan Kalijaga, marilah kita lihat salah satu bait tembang dalam Suluk Wujil sebagai berikut:
“Utamaning sarira puniki
angawruhana jatining salat
sembah lawan pujiné
jatining salat iku
dudu ngisa tuwin magerib
sembahyang aranéka
wenangé puniku
lamun aranana salat
pan minangka kekembanging
salat daim ingaran tata krama//”
“Unggulnya diri itu mengetahui hakikat
salat, sembah dan pujian. Salat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya
atau Magrib. Itu namanya sembahyang apabila disebut salat, maka itu hanyalah
hiasan dari salat daim. Hanyalah tata krama”.
Dari bait di atas dapat disimpulkan
bahwa keunggulan seseorang terletak pada pemahaman dan penghayatan dari
kesejatian salat, penyembahan, dan pujian. Bukan pada pengerjaan salat lima
waktu, karena mengerjakan salat lima kali sehari itu disebut “sembahyang”.
Sifatnya hanya tata krama dalam pergaulan umat Islam. Dan, hakikat mengerjakan
salat lima kali itu hanyalah hiasan bagi “salat daim”. Dalam sarasehan para
Wali pun disebutkan bahwa salat yang sempurna bukan semata-mata melaksanakan
salat fisik itu sendiri.
Dalam pengalaman perjalanan spiritualnya juga Sunan Kalijaga mengajarkan untuk menjalankan ibadah haji, sebagai pesan yang didapatkan Sunan Kalijaga saat beliau bertemu dengan Nabi khidir “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,…lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat”, artinya: jika kamu akan melakukan ibadah haji ke mekkah, kamu harus tau tujuan yang sebenarnya. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikian itu sesungguhnya iman hidayah yang harus kau yakini dalam hati
Dalam pengalaman perjalanan spiritualnya juga Sunan Kalijaga mengajarkan untuk menjalankan ibadah haji, sebagai pesan yang didapatkan Sunan Kalijaga saat beliau bertemu dengan Nabi khidir “Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,…lamon ora weruh ing kakbah sejati, tan wruh iman hidayat”, artinya: jika kamu akan melakukan ibadah haji ke mekkah, kamu harus tau tujuan yang sebenarnya. Bila belum tahu tujuan yang sebenarnya ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka. Demikian itu sesungguhnya iman hidayah yang harus kau yakini dalam hati
2.Tarekat
Tarekat adalah pengalaman syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah (diremehkan). Kata tarekat dapat dilihat dari dua mata sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohaian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secara berkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka tarekat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohaian tertentu yang bertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid.
Dalam jalan Tarekat Sunan Kalijaga mengamalkan zikir atau meditasi dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cara untuk mencapai kesadaran hidup. Bentuk dari kesadaran hidup itu adalah amar makruf nahi munkar dengan basis budaya Jawa. Islam yang ketika lahir penuh kelemah-lembutan, dan menjadi keras wataknya di tangan para mubaligh Timur Tengah, ditawarkan oleh Sunan dengan kelembutan Jawa. Islam yang dibawa Sunan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam dibawakan dengan gaya terekatnya sendiri. Yaitu, tirakat ala Jawa (meditasi dan Kontemplasi).
Tarekat adalah pengalaman syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah (diremehkan). Kata tarekat dapat dilihat dari dua mata sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohaian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secara berkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka tarekat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohaian tertentu yang bertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid.
Dalam jalan Tarekat Sunan Kalijaga mengamalkan zikir atau meditasi dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cara untuk mencapai kesadaran hidup. Bentuk dari kesadaran hidup itu adalah amar makruf nahi munkar dengan basis budaya Jawa. Islam yang ketika lahir penuh kelemah-lembutan, dan menjadi keras wataknya di tangan para mubaligh Timur Tengah, ditawarkan oleh Sunan dengan kelembutan Jawa. Islam yang dibawa Sunan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Islam dibawakan dengan gaya terekatnya sendiri. Yaitu, tirakat ala Jawa (meditasi dan Kontemplasi).
3.Makrifat
Makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang Sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan “Nur Ilahi”. Makrifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran. Barang meningkat makrifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya.
Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu seorang sufi yang sudah sampai pada tingkatan makrifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :
a. Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf belum tentu benar.
c. Tidak meginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan makrifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
Makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah pada seorang Sufi dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan “Nur Ilahi”. Makrifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam akal pikiran. Barang meningkat makrifatnya, maka meningkat pula ketenangan hatinya.
Akan tetapi tidak semua sufi dapat mencapai pada tingkatan ini, karena itu seorang sufi yang sudah sampai pada tingkatan makrifat ini memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain :
a. Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu sikap wara selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada suatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf belum tentu benar.
c. Tidak meginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya pada hal yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang sufi tidak menginginkan kemewahan dalam hidupnya, kiranya kebutuhan duniawi sekedar untuk menunjang ibadahnya, dan tingkatan makrifat yang dimiliki cukup menjadikan ia bahagia dalam hidupnya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
Sampai pada tingkatan yang paling
tinggi dalam pencapaiannya sebagai seorang sufi, Sunan Kalijaga telah melewati
beberapa tahapan untuk dapat menuju tingkatan makrifat dan mengenal siapa
dirinya. Dalam perjalanan spiritualnya yang digambarkan dalam sebuah simbol
kehidupan.
Dalam Suluk seh Malaya disebutkan
“Lamun siro arsa munggah kaji, marang mekah kaki ana apa,….lamon ora weruh ing
kakbah sejati, tan wruh iman hidayat” artinya, jika kamu akan melaksanakan
ibadah haji ke Mekkah, kamu harus tau tujuan. Bila belum tahu tujuan yang
sebenarnya dari ibadah haji, tentu apa yang dilakukan itu sia-sia belaka.
Demikianlah sesungguhnya iman hidayat yang harus kau yakini dalam hati.
Keyakinan iman hidayat tidak mungkin ditemukan di luar diri manusia, namun ia sesungguhnya terletak di dalam diri atau batin manusia itu sendiri. Dalam naskah Suluk Linglung disebutkan “cahaya gumawang tan wruh arane, pancamaya rampun, sejatine tyasira yekti, pangareping salira”. Artinya, cahaya yang mencorong tapi tidak diketahui namanya adalah pancamaya yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, bahkan mangatur dan memimpin dirimu.
Keyakinan iman hidayat tidak mungkin ditemukan di luar diri manusia, namun ia sesungguhnya terletak di dalam diri atau batin manusia itu sendiri. Dalam naskah Suluk Linglung disebutkan “cahaya gumawang tan wruh arane, pancamaya rampun, sejatine tyasira yekti, pangareping salira”. Artinya, cahaya yang mencorong tapi tidak diketahui namanya adalah pancamaya yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, bahkan mangatur dan memimpin dirimu.
Maksudnya manusia yang telah
menyingkap dimensi batinnya, akan mengetahui hakikatnya, bahwa asal-usulnya
dari Allah, berupa kesatuan hamba dengan Tuhan adalah Manunggaling Kawula-Gusti
atau dalam Suluk Linglung diungkapkan dengan iman hidayat. Proses ini dalam
Suluk Linglung tercermin dalam kutipan “Lah ta mara seh Malaya aglis, umanjinga
guwa garbaningwang” , artinya, Seh Malaya segeralah kemari secepatnya, masuklah
ke dalam tubuhku. Dalam tahap ini jiwa manusia bersatu dengan jiwa semesta.
Melalui kebersatuan ini maka manusia mencapai kawruh sangkan paraning dumadi,
yaitu pengetahuan atau ilmu tentang asal-usul dan tujuan segala apa yang di
ciptakan-Nya.
Tahap-tahap menuju suluk di jalan Allah dengan menempuh jalan yang di ridhoi Allah, demi kebahagiaan abadi baik di dunia dan di akhirat, telah diajarkan dengan baik oleh Sunan Kalijaga dengan menekankan pentingnya ajaran syari’at guna menggapai ajaran tarekat dan makrifat. (NBA)
Tahap-tahap menuju suluk di jalan Allah dengan menempuh jalan yang di ridhoi Allah, demi kebahagiaan abadi baik di dunia dan di akhirat, telah diajarkan dengan baik oleh Sunan Kalijaga dengan menekankan pentingnya ajaran syari’at guna menggapai ajaran tarekat dan makrifat. (NBA)
Referensi :
o Haqq, Suluk Seh Malaya, Yogyakarta: Kulawarga Bbratakesawa, 1959, Asmaradana.
o Neil Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa Kelangsungan dan Perubahan Kultural, Jakarta: Gramedia, 1983.
o Haqq, Suluk Seh Malaya, Yogyakarta: Kulawarga Bbratakesawa, 1959, Asmaradana.
o Neil Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa Kelangsungan dan Perubahan Kultural, Jakarta: Gramedia, 1983.
Monday, February 8, 2016
Sekilas INDONESIA
Malam gelap hawa dingin gerimis air hujan menambah alunan musik alam dan hebus dingin menyelimuti perdebatan malam itu,,
setelah melakukan kegiatan rutinan malam senin dikampung tanah kelahirku,
ku hampiri teman kampung yah menghitung temu kangen dengan hangatnya segelas mocacinno dan growol (makanan desa yang terbuat dari singkong) menemani keakraban dimalam itu,
ku awali dengan renungan indonesia raya, pemerintahan indonesia hingga kekayaan terpendam di negeri tercinta,,
indonesia raya merupakan kata yang selalu diperjuangkan oleh para pahlawan kita diantaranya bung Tomo, bung Karno dan bung,,,bung lainyalah,,,,hehehehhe kenapa kapitalis,,,liberalis merajalela sedangkangkan kita di ajarkan pancasilaisme... ramelah keseimbangan dalam berideologi salah satu tujuan agar tercapai kemakmuran dan kesejahteaan namun,,, tanpa pendidikan penghayatan serta pemahaman yang mumpuni yah hanya seperti inilah jadinya negara salah paham sampai-sampai salah kapah!!! heheheheh...
pak jokowi sekarang memerintah bagus juga pembangunan yang ia utamakan dari sektor maritim mengingatkan kita lagu jaman dahulu yang sekarang telah sirna "nenek moyangku seorang pelaut jika berjalan hap...hap" itulah cuplikan lirik yang sekarang sirna tergerus oleh politik imperialisme,,,,heheheh ayo anak bangsa kembalilah dan sadarlah kita itu orang indonesia bukan orang amerika, inggris dll... buka jati diri kalian bangsa ini perlu anak-anak yang sadar akan dirinya bangsa Indonesia,, Go..!!Go...!!
negara ini negara yang kaya akan sumber daya alamnya namun sumber daya manusia kurang terlindungi,...hahah gak usah kita bahas harta titipan raja-raja nusantara yang dititipan oleh bung Karno untuk membangun bangsa indonesia sadarlah akan lirik lagu mas..mas koes plus itu yang judulnya kolam susu apa ya atau kolam emas seharuse?? belajarlah cari ilmunya agar kalian itu bisa menggali dan memanfaatkan dengan baik akan kekayaan yang ada di bumi Indonesia raya ini,,, semangat merdekalah negaraku dengan merdeka yang sebenar dan yang sesungguhnya merdeka,.!dengan kata itu janganlah kalian bertanya yah bearti kita sekarang ini belum merdeka yah????hehhe kita merdeka kok hanya seperti dikata prof. A.T salah satu dosen aku kita itu sekali merdeka merdeka sekali yah beninilah jadinya,,,heheh
setelah melakukan kegiatan rutinan malam senin dikampung tanah kelahirku,
ku hampiri teman kampung yah menghitung temu kangen dengan hangatnya segelas mocacinno dan growol (makanan desa yang terbuat dari singkong) menemani keakraban dimalam itu,
ku awali dengan renungan indonesia raya, pemerintahan indonesia hingga kekayaan terpendam di negeri tercinta,,
indonesia raya merupakan kata yang selalu diperjuangkan oleh para pahlawan kita diantaranya bung Tomo, bung Karno dan bung,,,bung lainyalah,,,,hehehehhe kenapa kapitalis,,,liberalis merajalela sedangkangkan kita di ajarkan pancasilaisme... ramelah keseimbangan dalam berideologi salah satu tujuan agar tercapai kemakmuran dan kesejahteaan namun,,, tanpa pendidikan penghayatan serta pemahaman yang mumpuni yah hanya seperti inilah jadinya negara salah paham sampai-sampai salah kapah!!! heheheheh...
pak jokowi sekarang memerintah bagus juga pembangunan yang ia utamakan dari sektor maritim mengingatkan kita lagu jaman dahulu yang sekarang telah sirna "nenek moyangku seorang pelaut jika berjalan hap...hap" itulah cuplikan lirik yang sekarang sirna tergerus oleh politik imperialisme,,,,heheheh ayo anak bangsa kembalilah dan sadarlah kita itu orang indonesia bukan orang amerika, inggris dll... buka jati diri kalian bangsa ini perlu anak-anak yang sadar akan dirinya bangsa Indonesia,, Go..!!Go...!!
negara ini negara yang kaya akan sumber daya alamnya namun sumber daya manusia kurang terlindungi,...hahah gak usah kita bahas harta titipan raja-raja nusantara yang dititipan oleh bung Karno untuk membangun bangsa indonesia sadarlah akan lirik lagu mas..mas koes plus itu yang judulnya kolam susu apa ya atau kolam emas seharuse?? belajarlah cari ilmunya agar kalian itu bisa menggali dan memanfaatkan dengan baik akan kekayaan yang ada di bumi Indonesia raya ini,,, semangat merdekalah negaraku dengan merdeka yang sebenar dan yang sesungguhnya merdeka,.!dengan kata itu janganlah kalian bertanya yah bearti kita sekarang ini belum merdeka yah????hehhe kita merdeka kok hanya seperti dikata prof. A.T salah satu dosen aku kita itu sekali merdeka merdeka sekali yah beninilah jadinya,,,heheh
Libur untuk orang tuaku
Di musim penghujan guyuran air tiap waktu membasahi alam,
menggantikan kesibukan bapak yang tak kuduga sangat berat terasa demi bahagia orang tuaku ku abdikan segalanya baik jiwa dan raga,
ku gantiakan waktunya dalam dua hari untuk liburan bapak serta ibu,
ternyata begini yah rasa menjadi orang tua "termenung ditengah guyuran hujan disore hari"
kami tak mau dianggap miskin, dan memanglah kami bukan dari keluarga yang kaya akan harta benda,,..
awali sore itu ku mencari makan untuk semua peliharaan bapak ( yah,,, sekitar 18n ekor kambing)
berjalan menyusuri sawah-sawah ku tumpukkan segenggam rumput dan dedadunan untuk memenuhi gerobak, baru setengah gerobah tuhan memanglah maha adil ku diberi kemudahan dengan tumpukan dedaunan yang amat banyak,, yah hanya ucapku sebagai hamba biasa (alhamdulillah... dapat tumpukan daun yang banyak) mungkin hari itu menjadi coba atau apa ya,,, baru setengah gerobak aku ambil cuacapun berubah menjadi gelap, petir dari barat menyambar-nyambar, angin kencang dengan air turun dari langit-Nya... bergegaslah ku pulang dengan sedapatnya untuk makan para kambing tersebut...
yang aneh lagi seakan ada rasa kasian si kambing denganku.... huft,,huft,, helaan nafas dengan lafadz subhanalah maha dasyat ini cipta sang kholiq,,,hehheh
singkat cerita banyak makna ternyata orang tua itu cintanya untuk kebahagian sang anak tiada tanding walau sakit dan duka ia rasakan tiap hari,,,
aku sebagai anak minta maaf yang sebesar-besarnya yah bapak dan ibu memanglah saat ini aku belum bisa membuat kalian bangga,,
aku akan berusaha.....!!!!!!!!!!
menggantikan kesibukan bapak yang tak kuduga sangat berat terasa demi bahagia orang tuaku ku abdikan segalanya baik jiwa dan raga,
ku gantiakan waktunya dalam dua hari untuk liburan bapak serta ibu,
ternyata begini yah rasa menjadi orang tua "termenung ditengah guyuran hujan disore hari"
kami tak mau dianggap miskin, dan memanglah kami bukan dari keluarga yang kaya akan harta benda,,..
awali sore itu ku mencari makan untuk semua peliharaan bapak ( yah,,, sekitar 18n ekor kambing)
berjalan menyusuri sawah-sawah ku tumpukkan segenggam rumput dan dedadunan untuk memenuhi gerobak, baru setengah gerobah tuhan memanglah maha adil ku diberi kemudahan dengan tumpukan dedaunan yang amat banyak,, yah hanya ucapku sebagai hamba biasa (alhamdulillah... dapat tumpukan daun yang banyak) mungkin hari itu menjadi coba atau apa ya,,, baru setengah gerobak aku ambil cuacapun berubah menjadi gelap, petir dari barat menyambar-nyambar, angin kencang dengan air turun dari langit-Nya... bergegaslah ku pulang dengan sedapatnya untuk makan para kambing tersebut...
yang aneh lagi seakan ada rasa kasian si kambing denganku.... huft,,huft,, helaan nafas dengan lafadz subhanalah maha dasyat ini cipta sang kholiq,,,hehheh
singkat cerita banyak makna ternyata orang tua itu cintanya untuk kebahagian sang anak tiada tanding walau sakit dan duka ia rasakan tiap hari,,,
aku sebagai anak minta maaf yang sebesar-besarnya yah bapak dan ibu memanglah saat ini aku belum bisa membuat kalian bangga,,
aku akan berusaha.....!!!!!!!!!!
Thursday, February 4, 2016
Menapak
Bercerita dengan rasa lelah mengingat kesibukan dunia,
hari berganti lagi ketika seninpun menjadi minggu dan seterusnya begitu
tanpa rubah sikap serta diri ini dengan kekurangan dan kebodohan yang masih melekat dalam raga ini,
dalam fikir berbicara benturan dengan raga akan tujuan mulia..!!!
pintar,,,pintar,,pintar...
bagaimana caranya? "seakan berkhayal"
ada tiga waktu dalam sehari yang perlu dibagi?
apa itu???? berbayang dengan kebodohan "8 bekerja, 8 belajar dan 8 bedo'a""
tulus mata menetes tangan diangkat dalam pinta mencari jalan
Ya ALLAH ya tuhanku jernihkanlah otak ini...<_>
seorang sohabat memberi saran dan mulailah kucoba jalani dengan
Bismillah dengan ridho allah melalui anyaman lafadz dalam tuangan tetesan air dalam sesembahan waktu malam....
to be continue...
Subscribe to:
Comments (Atom)